« Home | Technical Stuffs (Lagi) » | Pembuat Jembatan » | Cerita Seputar Weblog » | Musik Klasik » | Saladin » | Ketika Air Berubah » | Katak Hendak Jadi Lembu » | Lebih Berharga Ketimbang Nalar » | Mulai Dari Diri Sendiri » | Perkenalan »

Intisari, Orkestra, Sains

Semalam, melalui saluran TV7, saya sempatkan untuk menyaksikan konser dalam rangka peringatan ulang tahun ke-40 Majalah Intisari. Konser yang direkam di Grand Melia, Jakarta tanggal 11 September lalu itu menghadirkan Twilite Orchestra beserta Twilite Chorous dan beberapa artis pendukung. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam konser ini. Twilite dengan 40 piece orkestranya malam itu menyajikan lagu-lagu pop dalam aransemen simfonik, beserta sebuah nomor klasik, Rhapsody in Blue-nya Gershwin.

Bicara tentang Intisari; saya sudah lupa, kapan pertama kali berkenalan dengan majalah yang satu ini. Tapi yang jelas, di rumah orangtua saya di Denpasar masih tersimpan edisi terbitan tahun kelahiran saya. Salah satu isinya adalah artikel tentang uji terbang perdana pesawat Concorde. Kalau mengingat Concorde sekarang akan segera dipensiunkan, entah kenapa saya jadi merasa sudah cukup "berumur" :(. Intisari memang merupakan salah satu faktor inspirasi bagi saya untuk memulai proyek penulisan pada weblog Refleksi. Faktor inspirasi lain datang dari orkestra. Maka dari itulah, entri pertama di Refleksi malahan bicara soal orkestra. Komposisi pertama yang dibawakan saat konser tersebut (Selection from "The Sound of Music") juga mengingatkan saya pada saat situs itu baru dibuka, waktu mas Koen memakai lirik lagu ini untuk mempromosikan situs saya, lebih dari dua tahun lalu (thanks bro!).

So, apa hubungannya sains - topik utama di Intisari - dengan orkestra? "It is only by introducing the young to great literature, drama and music, and to the excitement of great science that we open to them the possibilities that lie within the human spirit - enable them to see visions and dream dreams," kata Eric Anderson, yang pernah saya kutip untuk mengakhiri entri yang satu ini. Orkestra adalah musik yang sepintas terasa rumit, tapi dibalik itu menyimpan keindahan tersendiri. Keindahan yang mampu membangkitkan imajinasi penikmatnya, menembus ruang dan waktu. Keindahan dan imajinasi, itulah benang merahnya. Seperti dikatakan oleh Jules Henri Poincare, seorang matematikawan Prancis: "The scientist does not study nature because it is useful; he studies it because he delights in it, and he delights in it because it is beautiful. If nature were not beautiful, it would not be worth knowing, and if nature were not worth knowing, life would not be worth living."

Usaha untuk memperkenalkan sains di masyarakat yang cenderung pragmatis memang tidak mudah. Itulah yang selama ini dijalani oleh majalah Intisari, sejak kelahirannya 40 tahun lampau. Kini, saat masyarakat dibanjiri beragam jenis informasi dari media cetak dan elektronik yang jumlahnya makin membengkak itu, Intisari masih memiliki kekhasan tersendiri yang sulit ditiru oleh media lain (atau mungkin karena tidak ada yang berminat meniru?). Belakangan ini, memang bermunculan media cetak yang berusaha tampil cerdas. Ada yang tampil dengan format yang mirip Intisari, tapi dengan tambahan sentuhan religius. Ada pula media yang memilih untuk berfokus pada satu topik tertentu, media Komputer misalnya.

Tapi usaha untuk mempopulerkan sains seharusnya tidak berhenti sebatas lewat media cetak. Televisi kita yang sarat dengan program pembodohan itu juga perlu dilirik. Sudah ada beberapa usaha untuk menayangkan program-program pengetahuan di televisi. Satu-dua tahun belakangan ini, kita sudah bisa menyaksikan "Dicovery Channel" atau "National Geographic" ditayangkan di TV swasta. Namun acara semacam itu konon masih sedikit menyedot penonton, dan karenanya miskin iklan (dengan kata lain, tidak menguntungkan bagi pengelola stasiun TV). Selama rating yang jadi patokan, sepertinya usaha untuk mencerdaskan masyarakat lewat televisi masih berlipat kali lebih berat dibanding lewat media lainnya.

Ah, sepertinya kalau saya lanjutkan, tulisan ini bisa jadi makalah nih. Saya kira pokok pikirannya sudah bisa ditangkap. Lagipula saya juga tidak bisa terus-terusan duduk dan menulis :). Mengisi weblog memang bukan sekedar mengisi waktu luang. Saya sediakan waktu khusus untuk itu, walaupun tidak banyak. Dan sekarang, time is up!