« Home | Sabili dan Tsunami » | Duka Untuk Aceh » | Kosmos » | Alor » | Amazing Facts » | Fisika Star Trek » | 101 Cara Menggunakan Barometer » | Calvin Coolidge yang Diam » | Sejarah » | Setahun Bianglala »

Simplifikasi

Segera setelah bumi Aceh rata dengan tangah dihajar gempa dan tsunami, para ulama, mubaligh, da'i, dan sejawatnya mulai mengumbar "sabda": Sesungguhnya musibah ini adalah hukuman dari Allah untuk masyarakat Aceh. Mereka banyak menumpuk dosa, bermaksiat serta menjauhi Syari'atNya. "sabda" itu mereka tuangkan lewat buletin maupun khutbah Jum'at sampai dengan kolom religius di surat kabar. Entah dosa apa yang dimaksud dan apakah orang dari daerah lain yang lebih "bejat" dipandang sudah cukup menjalankan syari'at agamanya.

Inilah salah satu bentuk simplifikasi (penyederhanaan) yang keterlaluan. Orang yang sudah kehilangan segala-galanya: keluarga, harta benda, rumah tempat berteduh, masih pula disalah-salahkan. Bayangkan! Ini namanya blaming the victim (menyalahkan si korban). Siapapun pasti akan marah apabila disalahkan dalam kondisi tertimpa kemalangan seperti itu. Dalam skala yang jauh lebih kecil, bagaimana perasaan kita apabila teman yang kita ajak "curhat" setelah ditimpa kemalangan (katakanlah kecopetan) malahan balik menyalahkan, "Salah kamu sendiri, tidak berhati hati. Seharusnya kamu ... bla ... bla ..bla." Coba, siapa yang tidak bakalan naik darah?

Ada lagi yang "berfatwa" bahwa Allah sedang menunjukkan kekuasaanNya dan kita hendaknya bertafakur merenungi kemaha-kuasaanNya sekaligus menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya kita sebagai mahluk ciptaanNya. Apa pula lagi ini? Sepintas ungkapan ini terasa menyejukkan, tapi sebenarnya cuma simplifikasi model lain. Pada saat saya sedang menulis tentang sains, entah fisika atau astronomi, saya sebenarnya sedang mengajak Anda untuk bertafakur. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bertafakur! Bertafakur pada saat sekarang ini sama saja dengan menenggak obat bius. Melarikan diri dari kenyataan dengan masuk ke alam spiritual.

Secara jujur harus saya ungkapkan, saya tidak terlalu suka memandang bencana Aceh dari sisi religius. Dalam skala musibah yang sedemikian besar, dari Aceh (mayoritas Islam) hingga India (Hindu) dan Thailand (Budha ditambah korban wisatawan Eropa yang kebanyakan beragama Nasrani), maka persoalan Tuhannya siapa yang sedang murka dan masyarakat mana yang paling berdosa rasanya tidak pantas untuk diomongkan secara terbuka.

Saya cenderung memandang peristiwa ini sebagai pelajaran. Bagaimana negara dengan posisi rawan seperti Indonesia, terbentang di tengah pertemuan lempeng-lempeng benua, dipenuhi gunung berapi dan dikelilingi lautan berombak ganas, ternyata tidak punya manajemen penanganan bencana yang memadai. Bagaimana pemerintah baru terkaget-kaget menyadari pentignya sistem peringatan dini untuk tsunami setelah bencana itu terjadi (padahal tsunami dalam skala yang sama belum tentu akan terjadi dalam seabad mendatang sehingga sistem peringatan dini yang akan dipasang kemungkinan tidak terlalu bermanfaat). Bagi saya, itulah "hikmah" yang bisa dipetik dari musibah ini.

Rakyat Aceh sekarang sudah cukup menderita. Mereka tidak membutuhkan nasihat atau ceramah, apalagi dipersalahkan atas apa yang sekarang mereka alami. Kasarnya, mereka sekarang tidak butuh santapan rohani; mereka perlu santapan jasmani (kalau tidak percaya, coba saja suruh para ulama itu untuk mengulang "fatwa" mereka di kamp pengungsian. Tapi habis itu cepat-cepatlah amankan dia sebelum dibunuh oleh massa). Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya bagi para ulama semacam ini untuk mempraktekkan sabda Rasulullah yang sering mereka kutip: Kalau masih beriman kepada Allah atau hari akhir, hendaknya berbicaralah yang baik-baik saja atau (kalau tidak bisa berbicara yang baik) DIAMLAH!