Sejarah
Pada selang waktu di antara Revolusi Amerika Serikat dengan Perancis, raja Louis XVI dari Perancis memperlengkapi sebuah ekspedisi ke samudera Pasifik, sebuah perjalanan dengan sasaran-sasaran ilmiah, geografis, ekonomis, dan nasionalis. Komandan misi ini adalah Count dari La Perouse, seorang penjelajah terkenal yang berpihak pada AS dalam perang kemerdekaan negara itu.
Pada bulan Juli 1786, hampir setahun setelah mengembangkan layar, ia sampai di pantai Alaska, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Teluk Lituya. La Perouse segara jatuh hati melihat pelabuhan di tempat itu. Ia mendapati penduduk asli tempat itu menunjukkan sikap yang sangat bersahabat. Orang-orang Indian itu menawarkan ikan, kulit berang-berang dan jenis hewan lain, serta hiasan-hiasan kecil pada baju mereka sebagai barter dari besi yang dibawa oleh ekspedisi itu. Seperti yang ditulis oleh La Perouse dalam catatan hariannya, mereka "berdagang dengan kecerdikan seperti yang diperlihatkan oleh para pedagang Eropa."
Namun selanjutnya, para penduduk asli menjadi semakin berani meminta harga yang mencekik leher. La Perouse menjadi gusar karena mereka juga melakukan pencurian barang, terutama barang-barang yang terbuat dari besi. Pernah juga mereka mencuri pakaian seragam perwira AL Perancis yang disimpan di bawah bantal saat mereka tidur dengan dijaga oleh pengawal bersenjata; sebuah kecerdikan yang bisa menyaingi pesulap-pesulap handal dari jaman modern.
La Perouse mengikuti perintah dari rajanya agar bertingkah laku tidak bermusuhan, tapi ia mengeluh bahwa para penduduk asli "percaya bahwa kesabaran mereka tidak ada batasnya". Akhirnya, setelah memperlengkapi kedua kapalnya, La Perouse meninggalkan teluk Lituya untuk tidak kembali lagi. Ekspedisi ini hilang di Pasifik Selatan pada 1788. La Perouse beserta seluruh awak kapalnya - kecuali satu orang - lenyap.
*** Kisah diatas sepintas adalah peristiwa yang biasa saja, pada kurun waktu ketika bangsa Eropa tergila-gila untuk mengirimkan ekspedisi mencari dunia-dunia baru untuk tujuan yang sekarang dikenal sebagai gold, gospel, and glory. Namun ada satu hal "kecil" yang tercecer dari kisah ini. Saat La Perouse membuka pendaftaran untuk anggota ekspedisinya, banyak orang-orang muda yang cemerlang dan bersemangat ikut mendaftarkan diri. Salah satu dari mereka adalah seorang perwira artileri dari pulau Corsica yang bernama Napoleon Bonaparte. Namun La Perouse tidak meloloskan pemuda ini untuk ikut berlayar bersamanya.
Inilah titik balik penting dalam sejarah dunia. Seandainya Napoleon diterima untuk ikut dalam ekspedisi ini, maka ia tidak akan pernah mencapai Mesir, Batu Rosetta tidak akan ditemukan, dan Champollion tidak pernah menguraikan makna hieroglif Mesir. Satu mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan akan gagal terbentuk. Namun betulkah demikian?
Dalam beberapa hal, apa yang kita sebut sebagai "sejarah" sesungguhnya adalah serangkaian koinsiden yang saling mempengaruhi satu sama lain. Rantai koinsiden ini mungkin tidak bergantung pada orang-per-orang. Munculnya tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa penting, bisa jadi hanyalah pemicu (trigger) dari hal-hal yang cepat atau lambat, pasti akan terjadi.
Andaikata Newton atau Einstein tidak pernah terlahir ke dunia, maka di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, pasti ada seseorang yang akan menemukan hukum gravitasi atau teori relatifitas. Bahkan tidak ada jaminan seandainya sejarah tidak melahirkan tiran besar seperti Hitler atau Mussolini, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.
Apa yang akan terjadi andaikata La Perouse menerima Napoleon untuk mengikuti ekspedisinya? Kita bisa memikirkan berbagai skenario. Bisa jadi, dengan Napoleon sebagai salah seorang anak buahnya, La Perouse akan bisa menyelesaikan misinya, dan kembali ke Perancis dengan selamat. Namun tidak tertutup kemungkinan, kecelakaan tetap terjadi dan Napoleon akan ikut terkubur di kedalaman laut Pasifik Selatan. Tapi Batu Rosetta suatu saat pasti akan ditemukan, dan kalau tidak oleh Champollion, maka pasti ada seseorang, entah siapa, yang berhasil menguraikan maknanya. Lakon sejarah memang bergulir sebagaimana sebuah sungai. Ia mengalir, tapi tetap memiliki alur.
Pada bulan Juli 1786, hampir setahun setelah mengembangkan layar, ia sampai di pantai Alaska, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Teluk Lituya. La Perouse segara jatuh hati melihat pelabuhan di tempat itu. Ia mendapati penduduk asli tempat itu menunjukkan sikap yang sangat bersahabat. Orang-orang Indian itu menawarkan ikan, kulit berang-berang dan jenis hewan lain, serta hiasan-hiasan kecil pada baju mereka sebagai barter dari besi yang dibawa oleh ekspedisi itu. Seperti yang ditulis oleh La Perouse dalam catatan hariannya, mereka "berdagang dengan kecerdikan seperti yang diperlihatkan oleh para pedagang Eropa."
Namun selanjutnya, para penduduk asli menjadi semakin berani meminta harga yang mencekik leher. La Perouse menjadi gusar karena mereka juga melakukan pencurian barang, terutama barang-barang yang terbuat dari besi. Pernah juga mereka mencuri pakaian seragam perwira AL Perancis yang disimpan di bawah bantal saat mereka tidur dengan dijaga oleh pengawal bersenjata; sebuah kecerdikan yang bisa menyaingi pesulap-pesulap handal dari jaman modern.
La Perouse mengikuti perintah dari rajanya agar bertingkah laku tidak bermusuhan, tapi ia mengeluh bahwa para penduduk asli "percaya bahwa kesabaran mereka tidak ada batasnya". Akhirnya, setelah memperlengkapi kedua kapalnya, La Perouse meninggalkan teluk Lituya untuk tidak kembali lagi. Ekspedisi ini hilang di Pasifik Selatan pada 1788. La Perouse beserta seluruh awak kapalnya - kecuali satu orang - lenyap.
Inilah titik balik penting dalam sejarah dunia. Seandainya Napoleon diterima untuk ikut dalam ekspedisi ini, maka ia tidak akan pernah mencapai Mesir, Batu Rosetta tidak akan ditemukan, dan Champollion tidak pernah menguraikan makna hieroglif Mesir. Satu mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan akan gagal terbentuk. Namun betulkah demikian?
Dalam beberapa hal, apa yang kita sebut sebagai "sejarah" sesungguhnya adalah serangkaian koinsiden yang saling mempengaruhi satu sama lain. Rantai koinsiden ini mungkin tidak bergantung pada orang-per-orang. Munculnya tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa penting, bisa jadi hanyalah pemicu (trigger) dari hal-hal yang cepat atau lambat, pasti akan terjadi.
Andaikata Newton atau Einstein tidak pernah terlahir ke dunia, maka di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, pasti ada seseorang yang akan menemukan hukum gravitasi atau teori relatifitas. Bahkan tidak ada jaminan seandainya sejarah tidak melahirkan tiran besar seperti Hitler atau Mussolini, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.
Apa yang akan terjadi andaikata La Perouse menerima Napoleon untuk mengikuti ekspedisinya? Kita bisa memikirkan berbagai skenario. Bisa jadi, dengan Napoleon sebagai salah seorang anak buahnya, La Perouse akan bisa menyelesaikan misinya, dan kembali ke Perancis dengan selamat. Namun tidak tertutup kemungkinan, kecelakaan tetap terjadi dan Napoleon akan ikut terkubur di kedalaman laut Pasifik Selatan. Tapi Batu Rosetta suatu saat pasti akan ditemukan, dan kalau tidak oleh Champollion, maka pasti ada seseorang, entah siapa, yang berhasil menguraikan maknanya. Lakon sejarah memang bergulir sebagaimana sebuah sungai. Ia mengalir, tapi tetap memiliki alur.
