Sungai dari Firdaus
Teori evolusi sudah runtuh? Mungkin saja. Itu kalau bacaan kita sehari-hari hanya berkisar pada buku-buku macam Harun Yahya. Seandainya kita ingin terus seperti katak dalam tempurung, maka sampai kapanpun anggapan kita tentang evolusi tidak akan berubah. Tapi bagi yang ingin sejenak keluar dari “tempurung” Harun Yahya, dan mencoba “petualangan” baru di dunia evolusi, niscaya akan mendapati bahwa teori evolusi hingga kini masih kokoh dan sama sekali belum runtuh.Tidak percaya? Coba baca The Selfish Gene, atau The Blind Watchmaker karangan tokoh evolusionis Richard Dawkins. Okelah. Bagi pembaca setia Harun Yahya, predikat “evolusionis” mungkin berkonotasi negatif. Tapi, kalau saya harus memilih salah satu, apakah harus mempercayai evolusionis yang berlatar belakang sains ataukah kreasionis yang hanya bermodal kitab suci, … well, pilihan saya sudah cukup jelas :).
Tapi, kalau kedua judul berbahasa Inggris itu kedengaran kurang menarik (entah karena faktor bahasa atau kesulitan mendapatkannya), buku yang satu ini mungkin bisa dipertimbangkan: Sungai dari Firdaus: Suatu Pandangan Darwinian tentang Kehidupan (Penerbit KPG, 2005). Buku ini adalah terjemahan dari River Out of Eden: A Darwinian View of Life, yang ditulis oleh tokoh yang sama dengan yang menulis dua judul buku yang disebut terdahulu.
Buku ini memuat intisari (ikhtisar) mengenai biologi evolusioner mutakhir. Cocok dibaca untuk mereka yang hanya ingin menangkap point-point penting dari teori evolusi tanpa harus masuk ke detil-detil yang terlampau “teknis”. Tebalnya hanya 194 halaman, terdiri dari 5 bab. Sangat ringkas ketimbang The Blind Watchmaker edisi bahasa Inggris misalnya, yang tebalnya mencapai 334 halaman dalam 11 bab (saya belum menemukan terjemahan Indonesia untuk buku yang ini).
Buku ini sarat dengan metafora. Sungai dari firdaus sendiri adalah metafora Dawkins untuk DNA. Sungai DNA atau sungai gen ini, kita umpamakan sebagai sungai digital karena memuat sandi-sandi genetik yang bersifat digital atau bersifat angka. Setiap sel dalam tubuh mengandung aksara DNA yang dapat disalin selama bergenerasi-generasi (karena bersifat digital). Salinan itu akan sama dengan aslinya kecuali terjadi kesalahan cetak karena proses mutasi, yang oleh seleksi alam bisa dimusnahkan atau justru dilestarikan. Sungai gen suatu saat akan berpisah dan bercabang-cabang membentuk spesies baru akibat terjadi keterpisahan secara geografis. Itu artinya bahwa ciri yang menandai suatu spesies adalah semua anggota spesies itu punya sungai gen yang sama.
Suatu gen diturunkan dari generasi ke generasi, bisa dengan jalan saling bekerja sama, tapi bisa juga saling bersaing secara sehat untuk memberikan yang terbaik bagi generasi penerusnya. Hanya mahluk yang serba unggul sajalah yang mampu bertahan hidup, dan kemudian menjadi leluhur bagi generasi selanjutnya. Semua itu tak lepas dari peran lingkungan yang turut memengaruhi, apakah suatu gen dapat terus bertahan atau tidak.
Salah satu argumen “favorit” penganut paham kreasionis adalah keberadaan spesies antara. Kalau benar mahluk hidup berevolusi, maka dimanakah spesies yang pernah ada diantara dua tahap evolusi?. “Mahluk X pasti telah dirancang oleh Sang Pencipta,” kata mereka. “Dan separuh X pasti tidak akan jalan sama sekali. X pasti diciptakan sekaligus; tidak mungkin berkembang lambat-laun.”
Argumen diatas sebenarnya gampang dipatahkan, dan jawabannya bisa kita temui di buku ini dalam bab ketiga. Yang sering dilupakan oleh para penyokong argumen itu adakah bahwa mahluk hidup berevolusi secara gradual dalam kurun waktu yang panjang. Gradien perubahan ini bisa jadi sangat tipis dan berlangsung dalam jangka waktu yang demikian lama. Untuk setiap gradien evolusi, spesies yang muncul belakangan mungkin hanya memilki sangat sedikit perbedaan dengan pendahulunya.
Demikian pula dengan evolusi organ tubuh. “Lihatlah, betapa sempurnanya mata kita. Pastilah itu tercipta secara seketika. Kalau mata tercipta secara bertahap, lantas apa gunanya separuh mata?” Sayangnya, ini juga pertanyaan kelas teri :). Separuh mata jelas lebih baik dari 49%, yang sudah pasti lebih baik dari 48%, dan seterusnya. Kaum kreasionis selalu beranggapan bahwa apapun yang ada di alam saat ini telah mencapai bentuknya yang sempurna. Padahal, semuanya itu merupakan bagian dari aliran “sungai DNA” yang masih terus mengalir hingga kiamat kelak. Mata yang sekarang kita anggap sudah 100% ini mungkin hanya separuh atau bahkan seperempat dari mata spesies di masa mendatang. Who knows? (di buku ini, juga di bukunya yang lain, Dawkins banyak bercerita seputar mata yang bagi kalangan kreasionis dianggap merupakan bukti kesempurnaan ciptaan Tuhan, padahal sains modern telah membuktikan bahwa mata justeru menyimpan banyak bukti evolusi gradual).
Orang-orang yang skeptis terhadap Darwinisme gradualistis bisa mengajukan segepok fakta alamiah yang sepintas terasa ganjil dan mencengangkan. Di akhir bab ini ada contoh bagus tentang mahluk-mahluk yang hidup di palung-palung dalam Samudera Pasifik. Hewan-hewan yang sepenuhnya dijalankan oleh bakteri, dengan memanfaatkan panas dari lubang-lubang vulkanis jauh dibawah palung Pasifik. Spesies ini melakukan metabolisme terhadap sulfur, bukannya oksigen. Lantas, darimana spesies ganjil ini berevolusi, dan melalui tahapan peralihan seperti apa?
Jawabannya terletak pada banyaknya variasi gradien dari kondisi di dalam lautan. Tekanan 1000 atmosfir memang mengerikan, tetapi angka itu hanya secara kuantitatif lebih besar dari 999, yang juga secara kuantitatif lebih besar dari 998 atmosfir, dan seterusnya. Dasar laut menyediakan gradien kedalaman mulai dari 0 kaki hingga lebih dari 33.000 kaki, dengan gradasi tekanan berkisar 1 atmosfir hingga diatas 1000 atmosfir di kedalaman. Begitu pula dengan intensitas cahaya, mulai dari terang benderang di siang hari dekat permukaan, hingga kegelapan total di kedalaman. Semua bervariasi dengan sangat halusnya, tanpa ada patahan yang tajam. Untuk setiap tingkat kedalaman, tekanan, dan intensitas cahaya yang dihadapi dengan beradaptasi, hanya memerlukan rancang bangun spesies yang sedikit berbeda dengan yang sudah ada, yang mampu bertahan hidup sedepa lebih dalam, selumen lebih gelap, dalam tekanan satu atmosfir lebih tinggi, dan seterusnya, dan seterusnya …

Dawkins, witty atheist. Yahya, charming personality. Tapi kalau mau jujur, Dawkins sebenarnya terus memaksa membuka mata kita ke kebenaran ilmiah, yang seharusnya dicari seluruh umat beragama; sementara Yahya membawa umat beragama ke kenyamanan batin yang menipu. Nggak perlu jadi Dawkinians atau anti-Dawkinians, kita cukup jadi diri kita sendiri, dan jujur jadi diri sendiri. Thanks, Kang Dhani.
Posted by
Koen |
10:19 AM