Bangun!
Pulau Bali, bagi banyak orang adalah sumber inspirasi. Tapi bagi saya justeru sebaliknya. Atmosfir Bali membuat seluruh mood dan inspirasi seperti terbang, melayang entah ke mana. Mungkin Bali memang bukan tempat yang baik untuk memikirkan hal-hal semacam astronomi, atau fisika. Praktis, sejak enam bulan terakhir, waktu yang saya lewatkan di Bali, saya nyaris tidak ada waktu untuk aktivitas intelektual. Website dan weblog pun terlantar tanpa tersentuh perubahan.
Menulis memang perlu suasana yang mendukung. Kalau saya penulis novel atau artikel tentang seni-budaya, Bali mungkin salah satu tempat paling inspiratif yang ada di kolong jagat. Sebaliknya, untuk tulisan-tulisan macam yang sering tampil di blog ini maupun blog saudaranya, Bali sama sekali tidak memberikan inspirasi apa-apa.
Tapi bagi penulis majalah Playboy Indonesia, kalau bukan inspirasi, Bali paling tidak juga menjanjikan keamanan, sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka dapatkan di tempat semacam Jakarta. Dan inilah yang paling penting. Berhubung masih diluar jangkauan dari para “preman berjubah” (plus berpeci, berjenggot, dan “bertaqwa”), maka Bali adalah tempat yang logis untuk menjadi lokasi markas mereka. Maka jadilah edisi kedua majalah kontroversial ini terbit dari pulau dewata.
Pulau yang satu ini sebenarnya bukan tempat yang asing bagi saya. Saya sudah tinggal disini sejak tahun 1980-an (saya masih SD waktu itu!), saat Kuta masih jadi pantai nudis dimana para turis bule berjemur tanpa sehelai benangpun [efek sampingnya, saya jadi “kebal” dengan pemandangan macam itu, apalagi sekarang saya berkantor di daerah Kuta, dan saya bosan melihat perempuan berkulit putih mondar-mandir berbikini atau bahkan dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka]. Masuk akal juga kalau Bali juga termasuk propinsi yang paling getol menentang Rencana Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP).
Tapi soal-soal rumit semacam isu Playboy dan RUU-APP kayaknya juga bukan porsi blog ini. Blog ini sebetulnya lebih cocok bicara tentang hal-hal remeh saja. Macam cerita tentang aktivitas lempeng tektonik yang bisa memancing gejala vulkanis gunung berapi, insektisida berbahaya yang dikandung merek obat nyamuk yang barusan ditarik dari peredaran, cerita seputar komposisi kimia pil Ecstasy, atau isu-isu sejenis. Yah, soal-soal spele sajalah.
So? The show must go on. Setelah tidur 6 bulan, kayaknya blog ini mesti dibangunkan lagi. Mulai dari sekarang.
Menulis memang perlu suasana yang mendukung. Kalau saya penulis novel atau artikel tentang seni-budaya, Bali mungkin salah satu tempat paling inspiratif yang ada di kolong jagat. Sebaliknya, untuk tulisan-tulisan macam yang sering tampil di blog ini maupun blog saudaranya, Bali sama sekali tidak memberikan inspirasi apa-apa.
Tapi bagi penulis majalah Playboy Indonesia, kalau bukan inspirasi, Bali paling tidak juga menjanjikan keamanan, sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka dapatkan di tempat semacam Jakarta. Dan inilah yang paling penting. Berhubung masih diluar jangkauan dari para “preman berjubah” (plus berpeci, berjenggot, dan “bertaqwa”), maka Bali adalah tempat yang logis untuk menjadi lokasi markas mereka. Maka jadilah edisi kedua majalah kontroversial ini terbit dari pulau dewata.
Pulau yang satu ini sebenarnya bukan tempat yang asing bagi saya. Saya sudah tinggal disini sejak tahun 1980-an (saya masih SD waktu itu!), saat Kuta masih jadi pantai nudis dimana para turis bule berjemur tanpa sehelai benangpun [efek sampingnya, saya jadi “kebal” dengan pemandangan macam itu, apalagi sekarang saya berkantor di daerah Kuta, dan saya bosan melihat perempuan berkulit putih mondar-mandir berbikini atau bahkan dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka]. Masuk akal juga kalau Bali juga termasuk propinsi yang paling getol menentang Rencana Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP).
Tapi soal-soal rumit semacam isu Playboy dan RUU-APP kayaknya juga bukan porsi blog ini. Blog ini sebetulnya lebih cocok bicara tentang hal-hal remeh saja. Macam cerita tentang aktivitas lempeng tektonik yang bisa memancing gejala vulkanis gunung berapi, insektisida berbahaya yang dikandung merek obat nyamuk yang barusan ditarik dari peredaran, cerita seputar komposisi kimia pil Ecstasy, atau isu-isu sejenis. Yah, soal-soal spele sajalah.
So? The show must go on. Setelah tidur 6 bulan, kayaknya blog ini mesti dibangunkan lagi. Mulai dari sekarang.
