Bosscha Sekarang
Di sela-sela liburan di Bandung, Jumat sore lalu saya sempatkan untuk berkunjung ke observatorium Bosscha di Lembang. Saya mencatat ada beberapa hal baru disana dibandingkan kunjungan saya yang terakhir ke Bosscha, sekitar tahun 1998 lampau.Diantara instrumen baru yang terpasang adalah teleskop GAO yang merupakan teleskop robotik hasil kerjasama dengan observatoium Gumma di Jepang. Telesop ini dikendalikan secara remote dari Gumma melalui internet. Sebaliknya, obs. Bosscha juga dapat memanfaatkan teleskop di Gumma, yang dikendalikan dari Lembang. Telesop ini diletakkan dalam sebuah rumah-teleskop kecil yang dicat warna metalik, agak mencolok, di sisi sebelah barat teleskop Unitron.
Teleskop refraktor Ganda Zeiss yang dahulu dipakai untuk pengamatan visual dan fotografi masih didedikaskan untuk pengamatan bintang ganda, namun sekarang telah sepenuhnya memanfaatkan detektor CCD (Chart Coupled Device) menggantikan pelat fotografi yang kini sudah tidak diproduksi lagi oleh perusahaan pembuatnya, Eastman Kodak.

Dalam gambar diatas, bisa dilihat kalau bagian eyepiece dari teleskop visual (sebelah kiri) telah dipasangi detektor VCCD (Video CCD). Pesawat TV yang kelihatan di latar belakang itu bukannya dipasang supaya para astronom dapat menonton siaran langsung sepak bola sambil meneropong :), melainkan sebagai piranti keluaran (output) dari perangkat ini. Sementara itu, pelat foto pada teleskop fotografi (sebelah kanan) telah berganti dengan sebuah detektor CCD yang hasil keluarannya diteruskan ke seperangkat komputer di dalam ruangan itu.
Saya tidak sempat mengunjungi teleskop Schmidt Bimasakti yang letaknya memang terpisah agak jauh dari teleskop-teleskop lainnya di Bosscha. Karena satu-satunya teleskop survey di Asia Tenggara ini ini juga memanfaatkan pelat fotografi, maka bisa dipastikan teleskop ini juga harus diperlengkapi dengan instrumen CCD agar bisa terus dimanfaatkan.
Sementara itu, teleskop reflektor cassegrain GOTO sempat saya dengar mengalami kerusakan. Sebenarnya yang rusak bukan teleskopnya melainkan piranti kontrolnya, yang memanfaatkan seperangkat PC degan sistem opreasi DOS versi Jepang. Pada konferensi APRIM 2005 lalu di Bali, saya ingat ada penyaji makalah yang mengetengahkan topik penulisan ulang software pengendali untuk teleskop ini dibawah platform MS Windows, tapi saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya sekarang.
Berbeda dengan beberapa tahun lalu, dimana para pengunjung observatorium lebih banyak dari kalangan peminat astronomi atau golongan yang cukup terpelajar, sekarang profil pengunjung malahan didominasi oleh kalangan yang sangat awam soal astronomi—kelihatan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat sesi tanya-jawab sehabis acara ceramah astronomi. Saya beruntung karena penyaji ceramah kali ini adalah Dr. Premana W Premadi, salah seorang pakar kosmologi dan ekstra-galaksi dari ITB.
Satu hal yang memprihatinkan adalah semakin banyaknya bangunan yang berdiri di sekitar observatorium. Semestinya tidak boleh ada bangunan dalam jarak 4 km dari observatorium. Tapi sekarang, dalam jarak 500 meter sudah ada yang membangun villa. Konon kompleks observatorium Bosscha sendiri juga sudah menjadi incaran perusahaan pengembang yang ingin “menyulapnya” menjadi villa. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Tidak seperti bangunan lainnya, observatorium bukanlah tempat yang bisa dibangun dimana saja, atau ditukar-guling sesuka hati. Belum lagi kalau melihat nilai sejarahnya. Wajar kalau pihak Bosscha besikukuh untuk mempertahankan observatrorium itu sampai kapanpun juga.
Kenapa tidak boleh ada bangunan di sekitar observatorium? Itu karena setiap bangunan tentu mengeluarkan cahaya di malam hari. Semakin banyak bangunan, semakin banyak pula cahaya yang terpancar keluar. Padahal, cahaya yang terlalu banyak disekitar akan mengganggu pengamatan dengan teleskop (para astronom biasa menyebutnya sebagai “polusi cahaya”). Dalam bahasa yang lebih teknis, bayaknya cahaya akan mengurangi “seing” (kenampakan) objek yang diamati. Ini tentu merugikan bagi kerja para astronom.
Sumber keprihatinan lainnya adalah banyaknya pengunjung di observatorium. Hal ini agak ironis karena para pengunjung ini juga memberikan kontribusi bagi biaya perawatan teleskop dan instrumen—yang tentu saja tidak murah—melalui uang tiket masuk yang mereka bayarkan. Sayangnya pengunjung yang terlalu banyak membuat kinerja observatorium sedikit terganggu. Masalahnya adalah panas yang tertinggal dari tubuh para pengunjung dalam gedung teleskop Zeiss (bangunan berkubah yang menjadi “maskot” observatorium itu). Sebelum teleskop bisa digunakan, para astronom harus menunggu agar suhu di dalam bangunan menjadi sama dengan suhu di luar. Ini penting agar tidak terjadi turbulensi pada lensa teleskop yang bisa mengganggu pengamatan. Dulu, waktu jumlah pengunjung belum sebanyak sekarang, proses ini hanya membutuhkan waktu setengah jam. Sekarang, biarpun sudah dua jam ditunggu, suhu didalam ruangan masih tetap hangat!

hmm kalo pemerintah ga punya concern ma Bosscha.. lama2 Bosscha dah cuma jadi tempat wisata aja nih.
btw mo nanya maksut kalimat mas dhani yg ini apa yah?
"Saya beruntung karena penyaji ceramah kali ini adalah Dr. Premana W Premadi, “Yohannes Surya”-nya tim Olimpiade Astronomi Indonesia."
Setahu saya the man behind olimpiade astronomi itu Dr. Chatief Kunjaya. tapi secara keseluruhan sekarang olimpiade astronomi memang ditangani oleh prodi astronomi ITB.
Posted by
Anonymous |
8:54 AM
Seingat saya sih, waktu tim olimpiade astronomi Indonesia sukses mendapat medali emas (kalau gak salah thn 2004), itu dibawah asuhannya bu Premana. Tapi kayaknya setiap tahun pembimbingnya beda2 (dirotasi?). Tapi kalau ini dianggap kurang akurat, entri blognya akan saya koreksi. Trims.
Posted by
Anonymous |
9:50 AM
ooo kalo yg itu bukan pembimbing or pengasuh mas tapi pendamping yg diberangkatkan bersama peserta. pendamping2 itu dirotasi setiap saat. tim pengajar astronomi olympiad semuanya pengajar di prodi astronomi. n kalo mo dibilang yohanes suryanya astronomi itu malah pak kunjaya. oiya kalo mo dibilang pengasuh.. pengasuh anak2 olimpiade itu malah mahasiswa astronomi. hehehehehe
Posted by
Anonymous |
12:02 PM
Trims atas masukannya, entri tsb sudah sudah saya koreksi.
Posted by
Anonymous |
6:58 PM