Etika Koran Tempo
Lagi-lagi saya menemukan tulisan yang berasal dari situs saya muncul di surat kabar. Artikel berjudul “Ihwal Bintang Berekor”, dimuat dalam rubrik Ilmu dan Teknologi di Koran Tempo terbitan Rabu, 25 Februari 2004. Memang sudah cukup lama juga, tapi baru belakangan ini saya ketahui.
Tapi kalau Anda mengira bahwa saya akan melanjutkan tulisan ini dengan sumpah-serapah sebagaimana blogger lain yang tulisannya dijiplak mentah-mentah oleh media massa, maaf, tebakan Anda salah! Alamat situs yang memuat tulisan aslinya, dhani.singcat.com, tercantum dengan jelas di akhir artikel. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa perlu untuk mengangkat topik ini lagi—walaupun sebenarnya paling segan menulis topik yang sama sampai berulang-ulang.
Tulisan itu, yang tampil di Koran Tempo, sudah diedit dan “diperas” sedemikian rupa, sehingga saya sendiri sudah tidak bisa mengenalinya lagi sebagai tulisan yang berasal dari saya. Tidak ada lagi “style” saya yang tersisa disana. Tulisan itu juga termuat secara online di halaman web yang diproteksi oleh password sehingga kemungkinan untuk ketahuan oleh saya sangat kecil. Sekalipun demikian, Koran Tempo tetap memilih untuk menjunjung etika jurnalistik dengan menampilkan alamat situs sumber tulisannya. Salut!
Banyak suratkabar atau majalah, apalagi yang berskala nasional, nampaknya malu mengakui bahwa artikel yang dimuatnya berasal dari blog yang ditulis oleh orang tak dikenal. Paling-paling si wartawan akan menyatakan bahwa tulisan itu berasal “dari berbagai sumber”, walaupun sebenarnya hanya copy-paste dari satu tulisan. Tapi Koran Tempo adalah perkecualian.
Sebagai catatan, Sebelumnya Koran Tempo pernah juga memuat tulisan tentang Marie Currie dari blog ini, dan URL blog ini diterakan dengan jelas di akhir tulisan sebagai salah satu referensi (selengkapnya pernah saya singgung sedikit di sini). Ditengah keluhan beberapa blogger yang tulisannya “dicuri” secara semena-mena untuk kemudian tahu-tahu muncul secara anonim di media massa, kebijakan Koran Tempo ini jelas perlu kita hargai.
Tapi kalau Anda mengira bahwa saya akan melanjutkan tulisan ini dengan sumpah-serapah sebagaimana blogger lain yang tulisannya dijiplak mentah-mentah oleh media massa, maaf, tebakan Anda salah! Alamat situs yang memuat tulisan aslinya, dhani.singcat.com, tercantum dengan jelas di akhir artikel. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa perlu untuk mengangkat topik ini lagi—walaupun sebenarnya paling segan menulis topik yang sama sampai berulang-ulang.
Tulisan itu, yang tampil di Koran Tempo, sudah diedit dan “diperas” sedemikian rupa, sehingga saya sendiri sudah tidak bisa mengenalinya lagi sebagai tulisan yang berasal dari saya. Tidak ada lagi “style” saya yang tersisa disana. Tulisan itu juga termuat secara online di halaman web yang diproteksi oleh password sehingga kemungkinan untuk ketahuan oleh saya sangat kecil. Sekalipun demikian, Koran Tempo tetap memilih untuk menjunjung etika jurnalistik dengan menampilkan alamat situs sumber tulisannya. Salut!
Banyak suratkabar atau majalah, apalagi yang berskala nasional, nampaknya malu mengakui bahwa artikel yang dimuatnya berasal dari blog yang ditulis oleh orang tak dikenal. Paling-paling si wartawan akan menyatakan bahwa tulisan itu berasal “dari berbagai sumber”, walaupun sebenarnya hanya copy-paste dari satu tulisan. Tapi Koran Tempo adalah perkecualian.
Sebagai catatan, Sebelumnya Koran Tempo pernah juga memuat tulisan tentang Marie Currie dari blog ini, dan URL blog ini diterakan dengan jelas di akhir tulisan sebagai salah satu referensi (selengkapnya pernah saya singgung sedikit di sini). Ditengah keluhan beberapa blogger yang tulisannya “dicuri” secara semena-mena untuk kemudian tahu-tahu muncul secara anonim di media massa, kebijakan Koran Tempo ini jelas perlu kita hargai.
