« Home | Enigma » | Bulan Semalam » | Intermezzo » | Fermion dan Boson » | Climb Ev'ry Mountain » | Sains Harry Potter » | Jembatan Keledai » | Telkom Speedy » | Eijkman dan Bosscha » | Bosscha Sekarang »

Antara Sains dan Agama

Sudah sejak lama saya memutuskan untuk bersikap sekular saat menulis tentang sains. Artinya, saya berusaha untuk tidak mengkait-kaitkan bahasan soal sains dengan paham keagamaan, maupun menghubung-hubungkan aneka fakta sains dengan ayat-ayat kitab suci agama yang saya anut. Tentu saja hal ini bukannya tanpa alasan.

Bagaimanapun, ada perbedaan antara cara berpikir sains dengan agama. Agama bisa berjalan dengan keyakinan, sebuah faith, sementara sains malahan dimulai dari skeptisisme: keragu-raguan terhadap segala hal. Justru skeptisisme inilah yang membuat sains maju terus. Karenanya, adalah tidak mungkin bagi kita untuk mencampur adukkan pola pikir sains dengan agama. Sains pada dasarnya memang sekular.

Dengan demikian, seharusnya tidak perlu ada istilah “sains Islami” atau semacamnya. Ilmu pengetahuan pada dasarnya harus bisa diuji oleh semua orang tanpa memandang keyakinannya. Baik umat Islam atau Kristiani harus mau menerima fakta bahwa satu molekul air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Entah penganut Hindu atau Buddha tetap harus setuju bahwa Bumi beredar mengelilingi Matahari, karena memang demikianlah yang telah dibuktikan oleh sains. Tidak perlu ada Kimia Kristiani atau Astronomi Hindu, misalnya.

Namun ini juga bukan berarti kita sama-sekali memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Belajar sains adalah juga belajar untuk rendah hati, mau mengakui kekurangan dan keterbatasan kita sebagai mahluk ciptaan-Nya. Dengan belajar sains, kita juga belajar “membaca” ayat-ayat Kauniyah yang tersebar di alam semesta. Kita belajar sains untuk memajukan harkat kemanusiaan, dalam rangka mengemban misi sebagai khalifah di muka bumi. Semua itu sejalan belaka dengan ajaran agama—tanpa kita harus mencocok-cocokkan fakta sains dengan ayat-ayat kitab suci.

Sains yang sekular juga dapat mempertebal keimanan, namun iman juga dapat goyah oleh sains yang dicampur adukkan dengan agama. Taruhlah beberapa pendakwah agama yang secara sembrono mengkaitkan fenomena alamiah dengan ayat-ayat kitab suci yang sebenarnya kurang relevan. Bagi yang punya dasar agama namun awam sains, ini akan menyesatkan. Di pihak lain, bagi yang paham sains tanpa bekal agama, akan menjadi tertawaan.

Sungguh indah kalau pengetahuan sains juga digunakan untuk memahami ayat Qur'aniyah (tertulis Al-Quran) dan ayat Kauniyah (di alam semesta). Namun, dalam hal ilmu pengetahuan, argumentasi saintifiklah yang dikemukakan. Argumentasi Qur'aniyah biarlah di dalam kalbu sebagai motivator untuk terus menggali rahasia alam.