Militerisme
Satu hal yang dari dulu saya herankan; kenapa sih bangsa ini begitu mengagungkan hal-hal yang berbau militer? Memangnya, apa perlunya anak-anak kita sejak Sekolah Dasar harus dilatih baris-berbaris ala militer? Dan kenapa pula untuk mengibarkan bendera juga harus dengan upacara bergaya militer?
Dan, hei, ternyata anak kuliahan juga masih diajari main drumband. Saya tidak tahu, masih ada atau tidak negara yang 'civilized' yang masih mengajari mahasiswa untuk bermain drumband. Barisan musik ala militer ini semula digunakan untuk menyemangati prajurit yang sedang berbaris menuju medan pertempuran. Tapi itu kan dulu. Sekarang mana ada pasukan kavaleri yang berbaris ke medan tempur. Memangnya apa gunanya tank dan panser itu? Lantas, apakah bangsa ini mau terus dikondisikan seperti dalam suasana perang?
Secara pribadi, sebenarnya saya tidak pernah merasa respek pada pembentukan disiplin ala militer. Entah kenapa, saya merasa disiplin militer cuma menghasilkan manusia yang mirip robot, bertindak sesuai perintah, makan, tidur dan segalanya mesti diatur sampai ke detik-menitnya. Cara berjalan mesti tegak, bicara mesti tegas, mirip orang membentak-bentak. Persis cyborg!
Mungkin cara ini cocok untuk diterapkan bagi orang-orang yang diprogram untuk menjadi "mesin pembunuh atas nama negara" (baca: tentara). Tapi kalau untuk orang sipil, hah, saya tidak rela! Saya tidak melihat ada faedahnya sama sekali. Kita butuh orang-orang yang punya daya kritis, analitis, dan kreatifitas, bukannya menurut apa kata atasan dan mengunyah mentah-mentah dogma yang dijejalkan negara. Pendeknya, kita butuh masyarakat yang mengutamakan nalar, bukan doktrin - berbeda dengan militer yang lebih "mempertuhankan" doktrin, sementara nalar harus digeser ke urutan kesekian.
Dan, hei, ternyata anak kuliahan juga masih diajari main drumband. Saya tidak tahu, masih ada atau tidak negara yang 'civilized' yang masih mengajari mahasiswa untuk bermain drumband. Barisan musik ala militer ini semula digunakan untuk menyemangati prajurit yang sedang berbaris menuju medan pertempuran. Tapi itu kan dulu. Sekarang mana ada pasukan kavaleri yang berbaris ke medan tempur. Memangnya apa gunanya tank dan panser itu? Lantas, apakah bangsa ini mau terus dikondisikan seperti dalam suasana perang?
Secara pribadi, sebenarnya saya tidak pernah merasa respek pada pembentukan disiplin ala militer. Entah kenapa, saya merasa disiplin militer cuma menghasilkan manusia yang mirip robot, bertindak sesuai perintah, makan, tidur dan segalanya mesti diatur sampai ke detik-menitnya. Cara berjalan mesti tegak, bicara mesti tegas, mirip orang membentak-bentak. Persis cyborg!
Mungkin cara ini cocok untuk diterapkan bagi orang-orang yang diprogram untuk menjadi "mesin pembunuh atas nama negara" (baca: tentara). Tapi kalau untuk orang sipil, hah, saya tidak rela! Saya tidak melihat ada faedahnya sama sekali. Kita butuh orang-orang yang punya daya kritis, analitis, dan kreatifitas, bukannya menurut apa kata atasan dan mengunyah mentah-mentah dogma yang dijejalkan negara. Pendeknya, kita butuh masyarakat yang mengutamakan nalar, bukan doktrin - berbeda dengan militer yang lebih "mempertuhankan" doktrin, sementara nalar harus digeser ke urutan kesekian.
