Ikhtiar
Pernah mendapat oleh-oleh barang elektronik dari Jepang? Atau mungkin memperoleh barang elektronik bekas atau selundupan dari negeri sakura itu? Perhatikan bahwa barang-barang elektronik itu dibuat untuk tegangan 110 volt, jadi untuk menyesuaikan dengan tegangan PLN yang biasanya menggunakan 220 volt, diperlukan perangkat konverter khusus supaya alatnya tidak rusak.
Kenapa Jepang yang dikenal sebagai negara maju memilih untuk menggunakan tegangan 110 ketimbang 220 volt? Ini rahasianya: Tegangan 110 volt lebih aman ketimbang 220 volt. Sengatan listrik dengan tegangan 110 volt memang punya efek kejut tetapi tidak sampai mematikan. Sebaliknya, tersengat listrik bertegangan 220 volt akibatnya bisa fatal. Karena Jepang rentan terhadap gempa bumi, maka tegangan 110 volt dipilih untuk meminimalisir korban jiwa akibat sengatan listrik seandainya bencana itu terjadi. Sebaliknya, kita di Indonesia memilih tegangan 220 volt karena alasan efisiensi, karena aliran listrik dapat ditransmisikan dalam jarak yang lebih jauh dengan hanya sedikit daya yang terbuang.
Kita di Indonesia mestinya juga belajar dari "saudara tua" kita ini, tidak cuma soal manajemen pasca-bencana, tetapi juga persiapan dalam menghadapi bencana. Baik Indonesia maupun Jepang sama-sama rentan bencana alam gempa Bumi atau tsunami (bahkan istilah "tsunami" yang mendunia itu juga sebenarnya berasal dari bahasa Jepang). Bedanya, Jepang sudah mempersiapkan seluruh infrastruktur dengan memperhitungkan faktor resiko seandainya bencana benar-benar menyerang, sedangkan kita, boro-boro mempersiapkan segala sesuatunya, sudah terkena bencana sekalipun juga masih gelagapan.
Sebenarnya, secara tradisional masyarakat kita juga telah terbiasa dengan persiapan menghadapi gempa Bumi. Konstruksi bangunan khas Bali (yang juga daerah rawan gempa) misalnya, cukup memenuhi syarat sebagai bangunan tahan gempa. Disamping itu, aware masyarakat Bali soal gempa bumi juga cukup tinggi, sehingga bangunan-bangunan yang berdiri disana umumnya memiliki konstruksi yang cukup baik. Rumah tinggal di Bali umumnya dibangun dengan bahan batako yang diapit oleh kerangka beton bertulang. Ini membuatnya cukup elastis untuk meredam goncangan akibat gempa. Karenanya, walaupun "rutin" dilanda gempa yang relatif kuat, korban jiwa biasanya bisa diminimalisir. Tahun 2004 lalu, Bali juga sempat dihajar gempa berkekuatan sekitar 5.5 skala Richter, dan korban jiwa yang jatuh cuma satu orang. Itupun bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan, melainkan karena jatuh dari tangga saat berusaha menyelamatkan diri.
Upaya-upaya semacam itulah yang disebut ikhtiar. Setelah melakukan segala upaya pencegahan yang mungkin, barulah kita bisa berserah diri kepada Yang Diatas. Kalau di posting-posting sebelumnya saya suka menyentil pemahaman soal agama, bukan berarti saya tidak religius. Saya orang beragama dan percaya Tuhan. Tetapi, antara "pasrah" (terhadap kehendak Yang Kuasa) dengan "apatis", itu batasnya kadang-kadang tipis sekali. Sering terjadi kita melupakan ikhtiar dengan berlindung dibalik jargon-jargon keagamaan (misalnya dengan mengatakan bahwa Tuhan sedang menurunkan entah cobaan atau hukuman). Masih ingat dengan kisah Membeli Kupon Lotre dari de Mello? Jadi, bukan ajarannya yang salah, tapi interpretasi kita itulah yang keliru. Jangan keburu "menyalahkan" Tuhan setiap kali mendapat musibah. Ikhtiar dong!
Kenapa Jepang yang dikenal sebagai negara maju memilih untuk menggunakan tegangan 110 ketimbang 220 volt? Ini rahasianya: Tegangan 110 volt lebih aman ketimbang 220 volt. Sengatan listrik dengan tegangan 110 volt memang punya efek kejut tetapi tidak sampai mematikan. Sebaliknya, tersengat listrik bertegangan 220 volt akibatnya bisa fatal. Karena Jepang rentan terhadap gempa bumi, maka tegangan 110 volt dipilih untuk meminimalisir korban jiwa akibat sengatan listrik seandainya bencana itu terjadi. Sebaliknya, kita di Indonesia memilih tegangan 220 volt karena alasan efisiensi, karena aliran listrik dapat ditransmisikan dalam jarak yang lebih jauh dengan hanya sedikit daya yang terbuang.
Kita di Indonesia mestinya juga belajar dari "saudara tua" kita ini, tidak cuma soal manajemen pasca-bencana, tetapi juga persiapan dalam menghadapi bencana. Baik Indonesia maupun Jepang sama-sama rentan bencana alam gempa Bumi atau tsunami (bahkan istilah "tsunami" yang mendunia itu juga sebenarnya berasal dari bahasa Jepang). Bedanya, Jepang sudah mempersiapkan seluruh infrastruktur dengan memperhitungkan faktor resiko seandainya bencana benar-benar menyerang, sedangkan kita, boro-boro mempersiapkan segala sesuatunya, sudah terkena bencana sekalipun juga masih gelagapan.
Sebenarnya, secara tradisional masyarakat kita juga telah terbiasa dengan persiapan menghadapi gempa Bumi. Konstruksi bangunan khas Bali (yang juga daerah rawan gempa) misalnya, cukup memenuhi syarat sebagai bangunan tahan gempa. Disamping itu, aware masyarakat Bali soal gempa bumi juga cukup tinggi, sehingga bangunan-bangunan yang berdiri disana umumnya memiliki konstruksi yang cukup baik. Rumah tinggal di Bali umumnya dibangun dengan bahan batako yang diapit oleh kerangka beton bertulang. Ini membuatnya cukup elastis untuk meredam goncangan akibat gempa. Karenanya, walaupun "rutin" dilanda gempa yang relatif kuat, korban jiwa biasanya bisa diminimalisir. Tahun 2004 lalu, Bali juga sempat dihajar gempa berkekuatan sekitar 5.5 skala Richter, dan korban jiwa yang jatuh cuma satu orang. Itupun bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan, melainkan karena jatuh dari tangga saat berusaha menyelamatkan diri.
Upaya-upaya semacam itulah yang disebut ikhtiar. Setelah melakukan segala upaya pencegahan yang mungkin, barulah kita bisa berserah diri kepada Yang Diatas. Kalau di posting-posting sebelumnya saya suka menyentil pemahaman soal agama, bukan berarti saya tidak religius. Saya orang beragama dan percaya Tuhan. Tetapi, antara "pasrah" (terhadap kehendak Yang Kuasa) dengan "apatis", itu batasnya kadang-kadang tipis sekali. Sering terjadi kita melupakan ikhtiar dengan berlindung dibalik jargon-jargon keagamaan (misalnya dengan mengatakan bahwa Tuhan sedang menurunkan entah cobaan atau hukuman). Masih ingat dengan kisah Membeli Kupon Lotre dari de Mello? Jadi, bukan ajarannya yang salah, tapi interpretasi kita itulah yang keliru. Jangan keburu "menyalahkan" Tuhan setiap kali mendapat musibah. Ikhtiar dong!

Kata bapak saya, tahun 1950-1960, aliran listrik di Jawa Tengah sudah pakai aliran 110 volt. Tapi kemudian ada pengembangan infrastruktur listrik baru, sehingga aliran listrik diganti 220 volt.
Secara fisika, transmisi dengan tegangan tinggi memang lebih efisien. Baik dari selisih tegangan di lokasi tujuan, maupun investasi peralatan untuk konversi aliran transmisi ke voltase untuk distribusi. Gitu aja PLN masih sibuk beli BBM untuk membangkitkan listrik.
Posted by
Anonymous |
1:17 PM
berarti yg saya dengar adalah suatu propaganda ya?
waktu kecil saya dengar bahwa listrik 220v lebih aman dari 110v karena jika kestrum kita bisa mental, sedangkan yg 110v ga kuat utk mentalin kita :D
wah, tertipu saya..
Posted by
sandalian |
4:12 PM