« Home | Screenshot » | Obat atau Racun? » | Ikhtiar » | Simplifikasi » | Sabili dan Tsunami » | Duka Untuk Aceh » | Kosmos » | Alor » | Amazing Facts » | Fisika Star Trek »

Lagi-Lagi Gempa!

Gempa bumi kembali melanda wilayah negara kita. Setelah Alor, Nabire, dan Aceh, lantas disusul gempa yang lebih kecil di Palu, maka semalam pulau lombok (NTB) yang mendapat giliran. Kekuatan gempa sekitar 5.5 skala richter, episentrum gempa ada di selat Lombok (selat antara pulau Bali dan Lombok). Getarannya terasa sampai pulau Bali dan Sumbawa.

Kenapa sih akhir-akhir ini gempa sering terjadi? Apa ini tanda-tanda kalau kiamat sudah dekat? Well guys, dari segi geologi, letak negara kita ini memang sama sekali tidak strategis, tidak menguntungkan, dan tidak menjanjikan kehidupan yang tenang bagi warganya. Coba lihat peta ini:


Ada tiga lempeng benua ("plate"), masing-masing lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik, yang kesemuanya bertemu di wilayah Indonesia. Tidak semua negara "seberuntung" kita lho. Lantas apa hubungannya dengan gempa bumi? Jawabannya ada di gambar berikut:


Yang ditandai dengan titik-titik berwarna hijau itu adalah zona gempa bumi dangkal; titik coklat menandai zona gempa bumi dalam; sementara segitiga merah adalah gunung berapi. Kelihatan kalau titik-titik ini terkonsentrasi di daerah sepanjang pertemuan lempeng benua. So, jangan cepat-cepat mengeluh kalau Tuhan sedang marah-marah setiap kali bumi bergoncang. Itu memang alamiah koq :(.

Soal bagaimana pertemuan lempeng benua bisa mengundang "kehadiran" gempa bumi, rasanya sudah sering dibahas di mana-mana, jadi tidak perlu diulangi lagi disini. Tapi, sepertinya ada yang "kelupaan" disitu ;). Perhatikan segitiga-segitiga berwarna merah di sepanjang peta. Kelihatan kan, kalau Indonesia dikelilingi oleh begitu banyak gunung berapi?

Dalam diskusi di milis Fisika Indonesia (fisika_indonesia at yahoogroups.com) beberapa hari lalu, terungkap bahwa aktifnya lempeng tektonik Asia-Australia ditahun-tahun terakhir ini perlu diwaspadai. Rangkaian pegunungan Bukit Barisan hingga pesisir selatan Jawa-Bali-Lombok akhirnya juga akan terpengaruh aktivitas vulkanismenya. Rangkaian pegunungan (api) tersebut cepat atau lambat akan dipengaruhi oleh tumbukan tektonik dibawahnya yang memberikan tekanan besar pada celah-celah vulkanis diatasnya.

Salah satu titik merah itu, ada di selat Sunda. Itulah gunung Krakatau. Gunung api -- yang letusannya tahun 1883 tercatat sebagai yang paling dahsyat dalam jaman modern -- ini sebenarnya masih aktif. Kalau Krakatau sampai meletus, tsunami yang sangat dahsyat akan terjadi dan lebih besar dari bencana yang telah berlangsung di Aceh. Jakarta dan kota-kota pesisir di sebelah baratnya, juga Tanjung Karang di Lampung, akan disapu habis. Kalau itu benar-benar terjadi, hmmm ... alamat bencana luar biasa, baik dari segi korban jiwa maupun ekonomi. Mungkin Indonesia bakalan bangkrut.

Kalau dilihat dari peta Topografi skala 1:25.000 keluaran Bakosurtanal, pada jarak bibir pantai hingga radius 10-15 km kearah daratan dipesisir utara Jakarta hingga ke Merak elevasi rata-rata adalah sekitar 4-5 meter. Artinya bila ada gelombang ombak standing wave/tsunami setinggi 5-6 m (setinggi gelombang di Aceh), misalnya karena Krakatau meledak, bisa dibayangkan berapa besar kehancuran yang akan terjadi.

Pada letusan 1883, konon ketinggian gelombang hingga setinggi 20 m (setinggi pohon Kelapa). Kalau ketinggian ombak sebesar tahun 1883, akibatnya akan lebih mengerikan lagi. Jakarta dan kota-kota di pesisir utara Jawa Barat yang dekat dengan pengaruh Krakatau harus waspada. Pemerintah ada baiknya mulai membuat peta-peta mitigasi dan mekanismenya untuk daerah-daerah tersebut. Selama ini skenario mitigasi baru dipersiapkan utk daerah-daerah sekitar gunung api saja.

Btw, geologi bukanlah bidang saya. Catatan ini saya tulis cuma dalam kapasitas sebagai "pemerhati" yang prihatin :).