Eijkman dan Bosscha
Christiaan Eijkman (1858-1930), seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, memenangkan hadiah Nobel dalam bidang fisiologi (kedokteran) pada tahun 1929 atas penelitiannya yang mengungkap penyebab penyakit beri-beri, yaitu karena kekurangan bahan kaya nutrisi yang terdapat di pericarpium—kulit ari beras. Penemuan ini merupakan cikal bakal dari konsep vitamin yang kita kenal sekarang. Seperti yang sudah kita ketahui sejak di Sekolah Dasar dulu, bahan kaya nutrisi itu tidak lain adalah vitamin B.
Penelitian yang mengantarnya meraih Nobel itu dia lakukan di sebuah laboratorium permanen bernama Geneeskundig Laboratorium (laboratorium medis) yang berlokasi di bangsal Rumah Sakit Militer Batavia (sekarang RS Gatot Subroto, Jakarta). Laboratorium tersebut berdiri sejak 1988 yang pada jamannya merupakan lembaga riset prestisius berkelas dunia yang pernah ada di bumi Indonesia. Karena Eijkman tercatat sebagai direktur pertama disana, maka kelak laboratorium itu lebih dikenal sebagai Lembaga Eijkman.
Lembaga Eijkman sempat “mati suri” selama beberapa puluh tahun sebelum kemudian “dihidupkan” lagi pada 1993 sebagai Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME). Kini LBME masih merupakan salah satu lembaga penelitian biologi molekuler yang disegani di dunia internasional. Aneka subjek yang diteliti di lembaga ini mencakup penelitian terhadap berbagai penyakit infeksi, khususnya yang sering berjangkit di daerah tropis, serta penelitian terhadap keragaman human genom di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, penelitian ini merupakan salah satu pelengkap untuk Human Genome Project, proyek raksasa yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan untuk memetakan seluruh kode informasi genetika dalam pita DNA manusia.
* * * Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928) bukanlah seorang ilmuwan seperti halnya Eijkman. Ia hanyalah pengusaha perkebunan teh di Malabar dan Pengalengan, Jawa Barat. Namun dia juga dikenal sebagai orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.
Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan sebuah observatorium yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging, NISV (Perhimpunan Ahli Bintang Hindia Belanda). Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg. Pembangunan observatorium tersebut selesai dilaksanakan pada tahun 1928. Namun ia sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya karena keburu meninggal pada 26 November 1928, beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.
Sebagai penghargaan atas kontribusinya, observatorium yang ia dirikan dinamai sebagai observatorium Bosscha. Pada masanya, instrumen yang dimiliki observatorium Bosscha merupakan salah satu yang tercanggih di dunia. Bahkan hingga kini, observatorium Bosscha masih menjadi sebuah observatorium penting di belahan Bumi selatan. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss masih merupakan instrumen utama observatorium ini dengan subjek penelitian mencakup pengamatan bintang ganda, planet, dan gugus galaktik.
* * * Baik lembaga Eijkman maupun observatorium Bosscha adalah warisan pemerintahan penjajah Belanda. Perlu juga dicatat bahwa kedua institusi itu adalah lembaga riset terbaik pada masanya—tidak kalah dengan lembaga serupa yang berdiri di daratan Eropa (yang saat itu masih merupakan “kiblat” perkembangan sains dunia).
Memang, walau bagaimanapun penjajah adalah tetap penjajah. Tapi warisan mereka terhadap sais di negeri ini, antara lain lewat kedua institusi tersebut, tidak bisa dilupakan begitu saja. Paling tidak, ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemerintah Belanda kala itu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di tanah jajahannya. Sayangnya, komitmen serupa hampir-hampir tidak kita dapatkan dari pemerintah di era kemerdekaan sekarang.
Setelah kita terlepas dari penjajahan Belanda, adakah saintis Indonesia yang bisa seperti Eijkman, berhasil memperoleh hadiah Nobel atas riset yang dilakukannya di negeri ini? Atau akankah kelak ada dermawan seperti Bosscha yang rela mendonasikan sejumlah besar hartanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan? Ada baiknya suasana “Agustusan” kali ini kita jadikan momentum untuk introspeksi. Mudah-mudahan di era kemerdekaan ini masih ada diantara kita, warga Indonesia, yang bisa seperti Eijkman atau Bosscha.
Penelitian yang mengantarnya meraih Nobel itu dia lakukan di sebuah laboratorium permanen bernama Geneeskundig Laboratorium (laboratorium medis) yang berlokasi di bangsal Rumah Sakit Militer Batavia (sekarang RS Gatot Subroto, Jakarta). Laboratorium tersebut berdiri sejak 1988 yang pada jamannya merupakan lembaga riset prestisius berkelas dunia yang pernah ada di bumi Indonesia. Karena Eijkman tercatat sebagai direktur pertama disana, maka kelak laboratorium itu lebih dikenal sebagai Lembaga Eijkman.
Lembaga Eijkman sempat “mati suri” selama beberapa puluh tahun sebelum kemudian “dihidupkan” lagi pada 1993 sebagai Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME). Kini LBME masih merupakan salah satu lembaga penelitian biologi molekuler yang disegani di dunia internasional. Aneka subjek yang diteliti di lembaga ini mencakup penelitian terhadap berbagai penyakit infeksi, khususnya yang sering berjangkit di daerah tropis, serta penelitian terhadap keragaman human genom di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, penelitian ini merupakan salah satu pelengkap untuk Human Genome Project, proyek raksasa yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan untuk memetakan seluruh kode informasi genetika dalam pita DNA manusia.
Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan sebuah observatorium yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging, NISV (Perhimpunan Ahli Bintang Hindia Belanda). Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg. Pembangunan observatorium tersebut selesai dilaksanakan pada tahun 1928. Namun ia sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya karena keburu meninggal pada 26 November 1928, beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.
Sebagai penghargaan atas kontribusinya, observatorium yang ia dirikan dinamai sebagai observatorium Bosscha. Pada masanya, instrumen yang dimiliki observatorium Bosscha merupakan salah satu yang tercanggih di dunia. Bahkan hingga kini, observatorium Bosscha masih menjadi sebuah observatorium penting di belahan Bumi selatan. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss masih merupakan instrumen utama observatorium ini dengan subjek penelitian mencakup pengamatan bintang ganda, planet, dan gugus galaktik.
Memang, walau bagaimanapun penjajah adalah tetap penjajah. Tapi warisan mereka terhadap sais di negeri ini, antara lain lewat kedua institusi tersebut, tidak bisa dilupakan begitu saja. Paling tidak, ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemerintah Belanda kala itu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di tanah jajahannya. Sayangnya, komitmen serupa hampir-hampir tidak kita dapatkan dari pemerintah di era kemerdekaan sekarang.
Setelah kita terlepas dari penjajahan Belanda, adakah saintis Indonesia yang bisa seperti Eijkman, berhasil memperoleh hadiah Nobel atas riset yang dilakukannya di negeri ini? Atau akankah kelak ada dermawan seperti Bosscha yang rela mendonasikan sejumlah besar hartanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan? Ada baiknya suasana “Agustusan” kali ini kita jadikan momentum untuk introspeksi. Mudah-mudahan di era kemerdekaan ini masih ada diantara kita, warga Indonesia, yang bisa seperti Eijkman atau Bosscha.
