« Home | Militerisme » | Mengapa Nyala Api Menguncup? » | Intisari, Orkestra, Sains » | Technical Stuffs (Lagi) » | Pembuat Jembatan » | Cerita Seputar Weblog » | Musik Klasik » | Saladin » | Ketika Air Berubah » | Katak Hendak Jadi Lembu »

Lagi Soal Militerisme

Wajar kalau kita menonton film-film perang produksi Hollywood, apalagi yang mengisahkan aksi-aksi kepahlawanan pasukan negeri Paman Sam itu, mendadak timbul rasa kagum terhadap dunia kemiliteran. Seolah-olah tentara itu adalah sosok 'hero' yang sesungguhnya. Muda, tampan, berwibawa, dan patriotik. Sang sutradara kadangkala dengan piawai berhasil membuat penonton berkhayal, ingin seperti tokoh yang digambarkan dalam cerita itu. Sosok pria gagah, berbaris menyandang senjata dengan seragam khas tentara. Wah, alangkah bangganya kalau kita yang menjadi seperti itu.

Tapi coba perhatikan pula sisi lain yang juga tidak luput dari penggambaran Hollywood. Saat ada orang-orang sipil dilibatkan dalam upacara militer, kita tidak pernah melihat mereka - orang sipil itu - berdiri tegak dengan sikap sempurna, dengan dada dibusungkan sementara telapak tangan terkepal "seperti menggenggam beras" (istilah instruktur baris-berbaris saya dulu di sekolahan). Yang ada adalah orang-orang yang berdiri dengan sikap yang wajar. Ketika tentara menghormat bendera dengan cara khas militer, menyilangkan telapak tangan kanan di dahi, maka orang-orang sipil cukup dengan meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri.

Film memang tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya kepada penonton. Adalah naif apabila kita membayangkan bahwa dunia militer di Amerika persis seperti yang sering digambarkan oleh Hollywood - walaupun kebanyakan film perang Hollywood dibuat atas supervisi langsung dari Pentagon. Tapi setidaknya ada satu gambaran yang bisa kita tangkap. Ada tata aturan yang berbeda antara militer dan sipil, bahkan untuk hal yang paling sederhana, semacam menghormat bendera sekalipun.

Kembali menginjak bumi, ke negeri kita tercinta. Entah juga karena pengaruh bayangan dari film Hollywood, atau mungkin peninggalan dari budaya rezim terdahulu, militer dianggap sebagai tipe manusia ideal yang setengah malaikat, sempurna lahir-batin. Lantas mulailah sistem militer diadaptasikan dalam lingkungan sipil, dengan dalih untuk membentuk manusia-manusia yang punya disiplin tinggi, tahan uji, dan bermental baja. Semua diaplikasikan dalam bentuk rambut cepak, pakaian seragam, hingga jenjang kepangkatan. Beberapa ormas bahkan merasa perlu untuk membentuk pasukan paramiliter sendiri, lengkap dengan seragam loreng, dan atribut bergaya tentara dengan berbagai istilahnya. Sangat disayangkan karena itu semua pada kenyataannya hanya sebatas "kulit".

Penerapan sistem ala militer yang serba tanggung itu nyatanya tidak membawa hasil seperti yang diimpikan oleh para pembuat kebijakan. Ketika siswa sekolah dipaksa mengenakan pakaian seragam, dan melakukan upacara bendera tiap Senin, itu bukan berarti otomatis mencetak siswa yang disiplin, alim, dan bebas kenakalan. Pasukan paramiliter bentukan berbagai ormas itu juga nyatanya lebih terkesan brutal daripada disiplin. Lebih mengesankan sebagai preman ketimbang pahlawan.

Para psikolog menyebut gejala ini sebagai uniform complex. Ketika seseorang menggunakan suatu atribut khusus (katakanlah seragam), maka caranya menilai dirinya sendiri juga akan berbeda dengan tanpa menggunakan atribut. Orang akan merasa harga dirinya terangkat ketika menggunakan jas dan dasi, ketimbang saat mengenakan pakaian kasual. Ketika seseorang dididik secara militer, dengan menggunakan tata-cara dan penampilan mirip militer, maka caranya menilai dirinya pun akan berubah. Mereka yang punya "bintang" lebih banyak di bahunya akan cenderung menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka yang jumlah "bintangnya" lebih sedikit. Mereka yang berseragam loreng memandang dirinya lebih hebat daripada yang tidak berseragam. Hasilnya adalah kepongahan satu kelompok pada kelompok lainnya, dan penindasan dari satu kelompok kepada kelompok dibawahnya. Childish memang, tapi begitulah kenyataannya!