Curietherapy
Mengomentari entri tentang Marie Curie yang saya tulis hampir dua tahun lalu, seorang fisikawan kita menuturkan kisah ini lewat email:
Juga perlu saya tambahkan bahwa para operator mesin LINAC di Indonesia adalah orang-orang Fisika yang dipekerjakan dengan gaji hanya 1/20 dari gaji dokter! Saya tidak tahu harus berkomentar apa. :(
"...Sampai sekarang beberapa metoda beliau masih digunakan dengan sebutan (guess what!) Curietherapy. Nama ini terkadang hilang diganti dengan brachytherapy untuk laju dosis tinggi (HDR High Dose Rate) menggunakan Ir192 10 Curie (satuan aktivitas radiasi) dan ini harus dilaksanakan secara remote dalam ruang "kedap radiasi" dengan beton setebal 1-1,5 meter. Setiap iradiasi HDR umumnya sekitar 15 menit sebesar 15 Gray, pasien bisa pulang.
Untuk yang laju dosis rendah (LDR) nama Curietherapy masih lengket. LDR menggunakan Ir192 juga dan beberapa elemen lain sesuai carcinoma-nya sekitar miliGray dan memerlukan waktu kira-kira seminggu melekat pada jaringan target kanker. Mengapa Ir192 karena waktu parohnya tiga bulan sehingga dianggap aman dan energinya rendah 0,6 MeV sehingga problem proteksi menjadi agak gampang. Suster atau anggota keluarga boleh menjenguk pasien LDR tanpa proteksi tabir Pb. Dahulu dipakai Radium 1,25 MeV yang waktu parohnya panjang sekali sehingga menjadi masalah kalau hilang (jatuh ke lantai, disapu, dokternya pensiun atau mati padahal banyak radium di lemari, dll.) Kalau dokter menjenguk pasien atau mencabut kembali implant, mesti di belakang tabir Pb.
Ilmu kedokteran sudah begitu maju namun masih sulit mencari pengganti metoda radiasi untuk penyembuhan kanker, setidaknya sampai saat ini. Malah penggunaan mesin radiasi LINAC semakin marak. Singapura di NCC (National Cancer Center) punya 9 LINAC dan kemungkinan naik sampai 22 buah. Sementara saat ini Indonesia hanya punya 19 pusat radiasi dengan 16-17 buah LINAC tersebar di beberapa kota besar dan beberapa lagi ngadat, nggak ada dana untuk menjalankannya. Kami dari komunitas Fisika Medis sering sedih melihat kondisi ini..."
Juga perlu saya tambahkan bahwa para operator mesin LINAC di Indonesia adalah orang-orang Fisika yang dipekerjakan dengan gaji hanya 1/20 dari gaji dokter! Saya tidak tahu harus berkomentar apa. :(

Yah, begitulah... kadang dunia terasa 'tidak adil'
Posted by
Anonymous |
6:33 AM