« Home | Rumor » | Yang Serius, Yang Asyik » | Pelangi Feynman » | Sherina oh Sherina » | Puisi Pesimis, Puisi Optimis » | Nyepi » | Kiamat for Dummies » | Main-Main dengan Tensor » | Quantum Diaries » | Lagi-Lagi Gempa! »

Sisi Lain Bencana

Tinggal di daerah yang sering dilanda bencana seperti Indonesia, kita hanya punya dua hal yang bisa dijadikan sandaran. Yang pertama adalah Tuhan, dan yang kedua adalah ilmu pengetahuan. Untuk yang pertama, tentunya bergantung kepada religiositas kita masing-masing, dan saya tidak mau mencampuri wilayah itu. Sedangkan sandaran yang kedua, setidaknya bisa membuat kita mengerti apa yang terjadi, dan pada akhirnya bisa melakukan tindakan antisipasi yang tepat.

Dalam menghadapi keadaan yang kurang menyenangkan, umumnya kita akan lebih tenang kalau sudah mengetahui apa yang terjadi. Sebaliknya kita cenderung panik apabila kita tidak tahu persis duduk perkaranya. Hal serupa juga berlaku bagi kita yang pada dasarnya hidup di wilayah rawan bencana. Saat gempa mengguncang, gunung api menyemburkan letusannya, atau banjir melanda, sedikit bekal pengetahuan mengenai apa yang terjadi setidaknya bisa membuat kita lebih tenang, rasional, dan bijak dalam menyikapi.

Sisi ilmiah dari gempa bumi bukan hanya monopoli para ahli geologi-geofisika. Kita sebagai orang awam setidaknya perlu tahu sedikit yang kira-kira punya manfaat praktis. Saya masih sering terheran-heran ketika melihat pembawa acara talk show di TV mengajukan menanyakan ke petugas BMG tentang apakah waktu terjadinya gempa itu bisa diprediksi. Pertanyaan semacam ini mestinya tidak perlu diajukan, karena kalau kita tekun membaca ulasan ilmiah di media, sudah sangat jelas bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu meramalkan secara persis kapan gempa akan mengguncang suatu daerah.

Kalau aktifitas geologis di Sumatera saat ini terlihat kurang menguntungkan, mulai dari gempa yang berbuntut tsunami di Aceh, yang meluluh lantakkan Nias, mengguncang Padang, dan baru-baru ini juga disusul meningkatnya aktifitas beberapa gunung berapi, itu sama sekali bukan karena ada "kekuatan supra-natural" yang sedang mengamuk. Saya tidak akan bosan mengulang-ulang bahwa hal-hal itu adalah peristiwa natural. Hal yang wajar dan alamiah.

Banyak yang lantas memandang peristiwa itu secara spiritual. Bahwa manusia terlalu banyak dosa, dan bahwa Tuhan sedang menimpakan entah cobaan atau azab. Silahkan saja berpendapat demikian. Tapi hal ini jangan menjadikan kita bersikap pasrah; apa yang terjadi terjadilah, toh soal ajal sudah diatur dari "sononya". Sikap fatalis macam begini membuat kita jadi enggan belajar. Enggan mencari tahu apa yang terjadi, dan akhirnya juga enggan berikhtiar.

Upaya antisipasi yang tepat hanya bisa diambil apabila didasarkan kepada ilmu pengetahuan, bukannya logika semata. Dalam hal ini, kasus di Nias adalah contoh yang tragis. Penduduk Nias sebenarnya sudah lama menyadari bahwa daerahnya sering dihantam gempa bumi. Sayangnya, upaya antisipasi dilakukan dengan membangun rumah tinggal yang kokoh dengan harapan dapat menahan goncangan gempa. Ini langkah yang sepintas kelihatan logis, padahal dalam prakteknya malahan keliru. Konstruksi bangunan tahan gempa bukanlah bersandar pada kekuatan struktur bangunan, melainkan elastisitas bangunan. Konstruksi beton yang masif justeru membuat bangunan tidak elastis. Akibatnya, seperti yang sudah kita lihat, alih-alih menahan ancaman gempa, konstruksi bangunan semacam itu malahan menghambat upaya evakuasi karena tim penyelamat kesulitan untuk menyingkirkan reruntuhan bangunan yang rata-rata terbuat dari beton yang kokoh.

Beberapa bulan lalu, saya pernah cerita tentang bangunan tahan gempa di Bali. Disitu saya ungkapkan kalau bangunan disana rata-rata dibangun dari batako yang diapit kerangka beton bertulang. Mungkin ada yang bertanya, koq tidak pakai batu bata saja? Bukankah batu bata lebih kuat daripada batako? Penjelasannya, batako yang ringan itu sengaja dipilih untuk mendukung elastisitas bangunan yang diciptakan oleh rangka beton bertulang. Rangka baja pada beton akan ikut bergoyang mengikuti guncangan gempa Bumi, dan goyangan itu diteruskan ke dinding-dinding bangunan. Material yang ringan macam batako mendukung agar mekanisme ini bisa bekerja dengan efektif.

Saat menyaksikan liputan bencana alam di TV atau media cetak, kita hendaknya tidak hanya terpukau dengan tayangan para korban yang berdarah-darah dan berurai air mata itu. Selain sisi kemanusiaan, kita sebaiknya tidak melupakan sisi ilmiahnya. Ini penting supaya kita bisa mengambil pelajaran dari sana. Sekali lagi, ilmu pengetahuan itu penting, bukan saja supaya kita bisa mengerti apa yang terjadi, tapi juga agar kita bisa mengambil langkah antisipasi yang tepat.