« Home | Demokrasi yang Prematur » | Pengamat dan Pakar di Media » | Teori Segala Sesuatu » | Sisi Lain Bencana » | Rumor » | Yang Serius, Yang Asyik » | Pelangi Feynman » | Sherina oh Sherina » | Puisi Pesimis, Puisi Optimis » | Nyepi »

Para Ilmuwan Kita

Masih ingat dengan Oge? Sekedar flashback, tahun lalu, nama anak muda asal Papua ini sempat mencuat saat ia berhasil menyabet medali emas dalam lomba eksperimen fisika, The First Step to Nobel Prize in Physics. Nah, di tahun ini, Indonesia kembali mengulang sukses dengan meraih emas dari even yang sama. Bahkan kali ini tim asuhan Yohanes Surya Cs. tersebut berhasil mendulang dua emas, masing-masing atas nama Anike Nelce Bowaire (SMAN 1 Serui, Papua) dengan paper berjudul Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring, dan Dhina Prawita Susanti (SMAN 3 Semarang), dengan papernya Curved Motion of a Shuttlecock.

Kita tentu berharap keberhasilan adik-adik kita ini bisa dihargai sepantasnya. Bukan hanya penghargaan dalam bentuk publisitas (yang sebenarnya juga minim), namun juga dari segi fasilitas. Jangan sampai mereka berdua mengalami nasib sama seperti Oge yang tahun lalu gagal berangkat ke Polandia untuk mempresentasikan temuannya dihadapan dewan juri karena tidak berhasil mendapat sponsor untuk membiayai ongkos perjalanannya.

Yang menarik disini, dalam dua kali terakhir penyelengaraan even ini, medali emas jatuh ke tangan remaja asal Papua, propinsi paling timur di Indonesia yang sering dianggap terbelakang dibanding daerah-daerah lain. Paling tidak ini bisa menunjukkan kepada kita bahwa bakat-bakat fisika tidak hanya bisa muncul dari kota besar dengan fasilitas pendidikan yang lengkap, namun juga dari kota kecil dengan sarana yang seadanya.

* * *
Latar belakang Anike yang berasal dari Serui juga mengingatkan saya dengan fisikawan Indonesia, mendiang Hans Jacobus Wospakrik yang juga kelahiran kota itu. Beliau adalah salah seorang fisikawan terbaik terbaik yang kita miliki. Sebagai salah seorang dari sedikit fisikawan kita yang aktif berkontribusi melalui tulisan-tulisannya di berbagai jurnal internasional, publikasinya di jurnal-jurnal terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A, telah memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika untuk memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein.

Walaupun tidak sesering menerbitkan tulisan di jurnal internasional, sesekali beliau juga menulis buku-buku fisika populer untuk khalayak awam (non-ilmuwan). Satu karyanya yang pernah saya baca berjudul "Berkenalan dengan Teori Kerelatifan Umum Einstein dan Biografi Albert Einstein" (Penerbit ITB, 1987). Bukunya tipis saja, sampulnya hitam dengan gambar potret Einstein di masa tuanya. Saya sudah lupa, kapan tepatnya buku itu pertama kali saya baca (bukunya sendiri masih ada pada saya, tapi kertasnya sudah lecek). Yang jelas dari membaca buku itulah saya pertama kali mendapat gambaran mengenai teori relativitas Einstein sebelum saya sempat membaca buku-buku lain yang lebih "teknis". Buku karyanya yang terbaru, sekaligus terakhir, saat ini telah diterbitkan oleh Penerbit Unika Atma Jaya, bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia dengan judul "Dari Atomos Hingga Quark". Buku ini bercerita tentang partikel elementer dari atom masa Democritos hingga quark yang dikenal di abad ke-20.

Sayang, sebagaimana banyak ilmuwan Indonesia lainnya, Wospakrik tidak mendapat reward yang memadai dari pemerintah. Dengan tujuh hasil penelitian yang menembus jurnal internasional terkemuka, tiga hasil penelitian diterbitkan jurnal online yang bersifat internasional, tak terhitung penelitiannya yang diterbitkan jurnal dan prosiding dalam negeri, serta menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri mengajar dan membimbing mahasiswa di ITB, Dr Hans J Wospakrik yang meninggal pada 11 Januari 2005 dihargai Pemerintah hanya sampai golongan IV-A, lektor kepala! Kisah selengkapnya bisa dibaca disini.

* * *
Waktu saya menulis tentang Oge disini, sekitar setahun lalu, saya juga sempat bercerita tentang seorang astronom Indonesia yang kini bekerja di Max Planck Institute, Jerman. Waktu itu, dengan beberapa pertimbangan, saya tidak menyebutkan siapa nama ilmuwan yang saya maksud. Tapi dalam posting kali ini saya perlu menyebutkan identitasnya: Beliau adalah Pak Johny Setiawan. Kabar terbaru dari beliau, hasil kerjanya, berupa penemuan objek substelar yang mengedari bintang HD 11977, kini telah dipublikasikan melalui jurnal internasional Astronomy & Astrophysics.

Namun seperti publikasi sebelumnya, penemuan ini juga lebih dipandang sebagai hasil kerja ilmuwan Jerman ketimbang karya seorang putra Indonesia. Untungnya, detik.com masih sempat memuat sepintas mengenai profil beliau beserta penemuannya. Bicara soal media, beberapa bulan lalu sejumlah blog Indonesia juga sempat meributkan, kenapa media-media kita tidak ada yang memberitakan kemenangan dua remaja kita dalam kontes Google Code di India. Saya tidak ingin ikut meramaikan topik itu karena saya tahu persoalannya: Tidak ada pihak ketiga yang bersedia mengkomunikasikan keberhasilan mereka ke Media Massa. Dalam hal semacam ini, media kita selalu pasif, tidak proaktif menggali beritanya sendiri. Tidak heran, untuk menyosialisasikan keberhasilan anak asuhnya baru-baru ini, Prof. Yohanes Surya sampai harus menulis sendiri artikel tentang itu di harian Kompas (saya baca di Kompas edisi kemarin, Jum'at 17 Juli 2005).

Tentu saja pak Setiawan, sebagaimana kebanyakan ilmuwan lainnya, tidak gila publikasi di media massa umum. Publikasi di jurnal internasional yang bergengsi sudah cukup untuk menunjukkan kualitasnya sebagai seorang ilmuwan terkemuka. Cuma, kita di Indonesia ini perlu disadarkan bahwa masih ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Paling tidak, di luar negeri, nama Indonesia tidak cuma disebut-sebut berkaitan dengan tsunami, korupsi, atau busung lapar, tetapi juga kecemerlangan sebagian warganya dalam bidang sains. Karena itu, saya pribadi agak menyayangkan, kenapa media kita tidak juga mengimbangi berita-berita sedih itu dengan memuat prestasi-prestasi membanggakan dari warga kita. Btw, kebetulan, dalam emailnya ke saya beberapa hari lalu, pak Setiawan mengajak bertemu dan berdiskusi dalam konferensi APRIM 2005 di Bali tanggal 25-29 Juli mendatang. Saat ini saya rutin bolak-balik ke Bali, jadi mudah-mudahan kalau jadwalnya pas, saya ingin juga bertemu dengan beliau disana.

saya tunggu cerita selanjutnya... ;)

berharap kesan ertemuannya dg pak setiawan dibagi, begitu kan dhan?

gw sangat sedih dengan pemerintahan skr, para ilmuwan di biarkan begitu saja, kenapa para ilmuwan di biarkan untuk bekerja di luar negri. contoh aja para pejuang kita yang masih hidup, lihat kehidupannya, sepertinya para pejuang kita tidak di hargain sama pemerintah, pas waktu mau upacara 17 agustus aje mereka di panggil untuk mengenang pengorbanan mereka, selepas itu ya ...... lu lu gw gw.....

turut sedih dengan keadaam sekarang yang gak jelas tapi kita harus buat solusinya bukan buat huru hara tetap semangat perjuangan belum berakhir.

Post a Comment