« Home | Yang Serius, Yang Asyik » | Pelangi Feynman » | Sherina oh Sherina » | Puisi Pesimis, Puisi Optimis » | Nyepi » | Kiamat for Dummies » | Main-Main dengan Tensor » | Quantum Diaries » | Lagi-Lagi Gempa! » | Screenshot »

Rumor

Semalam warga Jakarta dikejutkan dengan beredarnya rumor SMS yg menyebutkan bahwa Jakarta akan dilanda tsunami sebagai akibat gempa yang berpusat di Padang yang diramalkan terjadi pada pukul 00:00 tengah malam. Saya bukanlah geolog, tapi dengan logika awam saja, saya bisa melihat bahwa skenario yang digambarkan di rumor tersebut salah besar. Coba lihat saja di peta. Bagaimana caranya gelombang tsunami yang dipicu gempa di Padang bisa sampai mencapai Jakarta? Ini mengingatkan saya dengan kejadian di Sidoarjo, baru-baru ini. Masyarakat disana panik waktu terjadi gempa karena menyangka akan disusul dengan tsunami. Kepanikan ini sebenarnya tidak perlu terjadi kalau saja mereka tahu bahwa wilayah Jawa Timur bagian utara (dikenal sebagai daerah "tapal kuda") relatif aman dari terjangan tsunami. Andaikata terjadi tsunami, misalnya dipicu oleh gempa yang berpusat di laut jawa, maka tsunami akan terlebih dahulu menghantam pulau Madura sebelum sempat mencapai Jawa Timur.

Kalau akhir-akhir ini beredar rumor tentang letusan krakatau (pernah saya tulis disini), letusan gunung berapi di danau Toba, bahkan gempa di Padang atau Nias, itu bukan berarti kejadian-kejadian itu bisa diramalkan secara persis kapan terjadinya. Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa meramalkan dengan tepat kapan gempa akan mengguncang suatu daerah sampai ke detik-menitnya. Kalau ada orang yang bisa meramal bahwa tanggal sekian jam sekian suatu wilayah akan terkena gempa, maka dia pasti bukan ahli geofisika, tapi paranormal :).

Lagipula, prediksi terhadap peristiwa geologis bukan bersandar pada perhitungan yang eksak, tapi berupa kisaran. Kalau dikatakan bahwa setelah Aceh dan Nias, maka "gilaran" berikutnya akan jatuh di Mentawai dan Padang, itu mesti disikapi dengan rasional pula. Kalau di sains komputer, perkiraan macam begini digolongkan sebagai fuzzy logic (logika kabur), bukannya logika biner yang serba pasti itu. Kita tahu bahwa penumpukan energi di sekitar Nias dan Padang (sebagai akibat pertemuan lempeng Eurasia dan Indo Australia) sudah sangat besar, dan tinggal menunggu waktu saja untuk dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Tapi kapan itu akan terjadi, yah, wallahu a'lam. Cuma Tuhan saja yang tahu. Ilmu pengetahuan saat ini hanya bisa memberikan gambaran, kira-kira ada sekian persen kemungkinan bahwa peristiwa itu akan terjadi pada sekian bulan atau sekian tahun kedepan, tapi tidak akan bisa memberikan angka pastinya.

Demikian juga soal letusan gunung berapi. Entah letusan Krakatau atau di danau Toba, juga harus dilihat dengan kacamata yang sama. Kalau dikatakan bahwa ada siklus 2000 tahun untuk peristiwa erupsi berskala besar, itu bukan berarti hal itu akan terjadi tepat dalam periode 2000 tahun. Alam tidak bekerja sebagaimana halnya jam beker :). Angka 2000 tahun itu (seandainya rumor tersebut valid), hanyalah kisaran. Kejadiannya sendiri bisa berulang dalam 1975 tahun, 2150 tahun, atau berapa saja di seputaran angka tersebut.

Kita di Indonesia sudah ratusan tahun hidup dibawah ancaman bencana alam. Sepanjang sejarah, ragam kejadian semacam gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan sebagainya telah dan akan terus melanda kita. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah kewaspadaan. Kita tidak mungkin mencegah semua bencana itu menimpa kita. Yang bisa dicegah adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar akibat bencana itu. Juga perlu diingat bahwa bencana tidak akan datang setiap waktu dan menimpa setiap orang. Pada kenyataaannya, peluang (baca: resiko) terkena bencana alam itu jauh lebih kecil ketimbang resiko mendapat kecelakaan lalu-lintas di jalan raya. Masyarakat yang tinggal di kaki gunung berapi aktif tentu tahu akan bahaya yang mengancam seandainya gunung tersebut meletus, tapi mereka toh bisa tenang-tenang saja. Bukan berarti menyepelekan. Kita tetap harus punya 'aware' tentang bencana yang bisa datang sewaktu-waktu, tapi hendaknya tidak sampai kehilangan akal sehat. Tetaplah bersikap rasional.