« Home | Nasrudin Mendinamit Punggungnya » | Lagi Soal Militerisme » | Militerisme » | Mengapa Nyala Api Menguncup? » | Intisari, Orkestra, Sains » | Technical Stuffs (Lagi) » | Pembuat Jembatan » | Cerita Seputar Weblog » | Musik Klasik » | Saladin »

Berpikir Ensiklopedik

"Informasi bukanlah pengetahuan, pengetahuan bukan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan bukanlah kemampuan untuk memprediksi. Masing-masing timbul dari yang lain dan semuanya kita butuhkan," demikian Sir Arthur Clarke, penulis kisah fiksi ilmiah nomor wahid itu pernah berujar.

Kita mungkin beranggapan kalau apa yang kita serap dari buku, tayangan Discovery Channel, atau hasil penelusuran dari berbagai situs web itu sebagai pengetahuan. Padahal, sepanjang kita belum dapat mengaplikasikan apa yang kita dapatkan itu, maka sebenarnya kita baru sebatas mendapatkan informasi dari sana. Saat memberikan pengantar untuk sebuah buku astronomi populer, Prof. Bambang Hidayat, astronom senior Indonesia yang pernah menjabat sebagai direktur Observatorium Bosscha menyatakan bahwa mempelajari sains tidak lepas dari landasan berupa thesa dan pemahaman atas proses. Tanpa kedua faktor tersebut, maka seseorang akan terperangkap dalam pola berpikir ensiklopedik. Hanya menguasai fakta tanpa mengerti makna dan esensinya.

Sayang sekali, pola berpikir ensiklopedik inilah yang banyak ditanamkan pada siswa sekolah di negara ini. Siswa dijejali dengan hafalan dengan hanya sedikit kesempatan untuk menggunakan daya analitis dan kreatifitasnya. Coba, apa faedahnya para siswa disuruh menghafalkan seluruh nama ibukota propinsi di Indonesia, atau tanggal berapa sebuah peristiwa tertentu terjadi? Juga apa manfaatnya menyuruh para siswa menghafalkan perkalian? Bukankah lebih baik mereka diajari bagaimana cara berhitung yang cepat dan efisien, misalnya? Entah kenapa, para orangtua juga bangga kalau anaknya memiliki kemampuan menghafal seperti 'kamus berjalan'. Padahal, pengetahuan tanpa implementasi itu ibarat hafal rumus tanpa bisa menggunakannya. Percuma!

Kalau begitu, apakah salah untuk mempelajari ilmu yang kurang aplikatif? Jawabnya, tentu tidak. Saat ilmu elektronika masih belum berkembang, Michael Faraday pernah ditanyai, "Apa gunanya mempelajari listrik dan kemagnetan?" Faraday menjawabnya dengan sebuah pertanyaan retoris, "Apalah gunanya memelihara seorang bayi?" Kita memang tidak tahu kegunaan mempelajari ilmu pengetahuan yang melulu mempelajari fakta. Namun kita tidak akan pernah tahu apa saja yang dapat diperbuat manusia di masa yang akan datang berdasarkan ilmu pengetahuan yang dikembangkan pada masa sekarang.