« Home | Kiamat for Dummies » | Main-Main dengan Tensor » | Quantum Diaries » | Lagi-Lagi Gempa! » | Screenshot » | Obat atau Racun? » | Ikhtiar » | Simplifikasi » | Sabili dan Tsunami » | Duka Untuk Aceh »

Nyepi

Hari ini, umat Hindu di Bali melaksanakan ritual Nyepi. Ritual ini dilaksanakan pada setiap tahun baru Saka dengan menjalankan empat jenis pantangan, yaitu amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungan (tidak boleh bepergian keluar rumah), amati geni (tidak menyalakan api/lampu), dan amati lelanguan (tidak menikmati tontonan/hiburan). Keempat pantangan ini disebut sebagai catur brata penyepian. Saat itu, umat Hindu Bali menghabiskan waktu dengan bermeditasi, menyucikan diri, baik lahir maupun batin.

Berbeda dengan umat Hindu yang memang harus menjalankan ritual agamanya, bagi umat non-Hindu di Bali, Nyepi bisa berarti mati kutu :). Bagi mereka ini, Nyepi artinya menjadi "tahanan rumah", karena praktis sepanjang hari harus tinggal dirumah, dan tidak diperkenankan pergi kemana-mana. Karena kebetulan pernah tinggal di Bali (bahkan sampai sekarang saya masih memegang KTP Bali), maka saya juga pernah merasakan sendiri bagaimana repotnya mengahadapi even tersebut.

Sehari sebelum hari-H, kita mesti mempersiapkan segala sesuatunya: belanja persediaan bahan makanan, camilan, beli buku bacaan, atau menyewa film untuk pembunuh waktu selama tidak ada yang bisa (boleh!) dikerjakan. Jangan sampai kehabisan gas atau minyak tanah untuk memasak saat Nyepi, karena dipastikan tidak akan ada toko yang buka. Tandon air harus diisi penuh-penuh, karena menghidupkan pompa air yang berisik di tengah suasana Nyepi yang sunyi sepi bisa mengundang kedatangan pecalang (hansip adat). Masih untung kalau pecalangnya baik, kita cuma ditegur, atau paling apes diteriaki. Tapi kalau kena yang galak, rumah kita bisa dilempari batu.

Bagi rumah yang sangat memerlukan penerangan (misalnya punya anak bayi atau ada orang sakit), maka ijin harus sudah diurus beberapa hari sebelum hari-H. Untuk umat beragama lain yang hendak melaksanakan ibadahnya, misalnya ke Mesjid saat Nyepi berlangsung di hari Jum'at, atau ke Gereja pada hari Minggu, ada dispensasi khusus. Tentu saja dalam peribadatan, tidak diperkenankan menggunakan pengeras suara. Masjid-masjid juga "libur" mengumandangkan adzan pada hari itu.

Sebenarnya, di lingkungan yang banyak dihuni pendatang (seperti di kompleks-kompleks perumahan), ritual nyepi ini bisa lebih fleksibel. Biarpun dari luar warung-warung atau kios keliatan tutup, tapi pemiliknya masih mau meladeni pembeli lewat jalan belakang. Asal saja kita perginya dengan jalan kaki (di lingkungan pendatang, para pecalang biasanya lebih toleran). Kalau mau pakai kendaraan ya resiko tanggung sendiri. Tapi di lingkungan desa adat yang masih teguh memegang tradisi, ritual nyepi betul-betul ditaati. Jadi, sial betul bagi para pendatang yang kebetulan tinggal disitu (kebetulan saya termasuk dalam kelompok yang ini).

Yang lebih seru justeru saat malam hari. Karena tidak boleh menyalakan api/lampu, maka itu artinya tidak boleh ada setitik cahayapun yang boleh keliatan memancar dari dalam rumah. Nonton TV saja akan jadi kerjaan yang ribet. Lubang angin dan ventilasi harus ditutup rapat-rapat supaya cahaya yang memancar dari layar TV tidak sampai kelihatan dari luar. Celakanya, dalam situasi yang demikian gelap gulita, cahaya yang sedikit saja sudah mampu membuat ruangan jadi terang benderang. Mata jadi sakit karena memelototi layar TV dibawah penerangan yang minim. Volume juga harus dikecilin abis-abisan, karena kalau sedikit saja kedengaran dari luar, bisa gawat.

Tapi, nyepi terkadang juga membawa "berkah" tersendiri juga, khususnya bagi orang kayak saya yang tergila-gila dengan bintang :). Kalau langit lagi cerah, cahaya yang sangat minim, ditambah udara yang bersih karena bebas asap dan polusi (untuk hari itu saja!) membuat situasi jadi ideal banget untuk mengadakan observasi. Jarang terjadi kita bisa melihat sedemikian banyak bintang di langit seperti saat ritual Nyepi berlangsung. Kalau betah berlama-lama memelototi langit, kita pasti bisa melihat beberapa meteor melintas. Objek-objek yang terlampau redup untuk bisa diamati dibawah cahaya lampu perkotaan, sekarang bisa leluasa diintip. Penampakan, atau "seing" dalam istilah astronominya, di Bali saat Nyepi mungkin lebih bagus daripada di Lembang (lokasi peneropongan bintang satu-satunya di negeri ini) pada hari-hari biasa. Sayangnya, karena hari raya Nyepi biasa jatuh di sekitar bulan Maret yang merupakan musim penghujan, jadi peluangnya fifty-fifty untuk mendapati langit bersih. Kalau kebetulan mendung, ya semoga saja tahun depan lebih beruntung :).