Harun Yahya
Di sebuah milis sains, ada peserta yang menyebut-nyebut nama Harun Yahya sebagai “ilmuwan muslim”. Sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya saya mendengar sebutan itu disematkan pada beliau. Tapi lama-lama saya jadi “tergelitik” juga untuk meluruskan. Apa benar sih Harun Yahya itu seorang ilmuwan? Bagaimana cara kerja seorang ilmuwan, dan apakah Harun Yahya telah bekerja dengan cara yang sama seperti halnya para ilmuwan bekerja?
Ilmuwan (scientist) adalah orang yang bekerja sesuai dengan latar belakang ilmunya dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) sebagai pegangan utamanya. Kalau kita masih ingat, mulai di bangku SMP dulu kita sudah belajar tentang penerapan metode ilmiah, walaupun masih sangat sederhana. Mulai dari menetapkan hipotesis, melakukan eksperimen dan observasi, hingga menarik kesimpulan. Sekarang, kita lihat, apakah Harun Yahya menggunakan metodologi itu untuk menghasilkan karya-karyanya? Kalau ya, maka dia seorang ilmuwan. Kalau tidak, berarti dia bukan ilmuwan. Saya sudah membaca sebagian karya beliau yang berhubungan dengan sains, dan saya lihat, disana beliau hanya merangkum berbagai literatur ilmiah-populer (buku/artikel/website) yang kemudian “dibumbui” dengan ayat-ayat Al Qur'an yang relevan, lantas jadilah buku. Alias, tidak ada buku beliau yang merupakan hasil penelitian/eksperimen yang menggunakan metode dan kaidah ilmiah. Karena itu, saya cenderung menggolongkan beliau sebagai penulis, atau tepatnya penulis sains, ketimbang ilmuwan.
Pada dasarnya, metode ilmiah sangat menekankan pada objektifitas. Hasil pengamatan/eksperimen akan diterima sebagaimana adanya tanpa dipengaruhi oleh suatu prakonsepsi tertentu. Metode ilmiah juga melibatkan hubungan yang saling mempengaruhi antara pemahaman induktif (pemahaman melalui observasi yang spesifik dan eksperimen untuk menentukan hipotesis dari teori yang lebih umum) dan pemahaman deduktif (pemahaman dari teori untuk menetapkan hasil eksperimen). Kalau Harun Yahya menggunakan ayat kitab suci untuk membahas sains, berarti dia telah memiliki sebuah prakonsepsi. Dia cenderung akan menolak apabila ada hasil penelitian atau eksperimen yang bertentangan dg prakonsepsi yang dipegangnya (contohnya teori evolusi). Dengan demikian faktor objektifitas jadi terabaikan. Ilmuwan sejati sama sekali tidak bekerja dengan cara semacam itu. Seorang ilmuwan sangat dituntut untuk memiliki kejujuran intelektual. Dia harus bersedia menerima fakta-fakta sains yang didukung data yang didapat melalui riset dengan metode ilmiah, betapapun itu bertentangan dengan keyakinan atau dogma yang dipercayainya.
Tulisan-tulisan Harun Yahya mencakup berbagai topik sains, mulai dari fisika, biologi, astronomi, genetika, hingga politik dan filsafat. Ini membuat pembaca dari kalangan awam jadi beranggapan bahwa beliau adalah ilmuwan serba bisa dan serba tahu. Padahal, ilmuwan sejati sangat menghargai spesialisasi. Seorang fisikawan cuma punya otoritas untuk bicara soal fisika; ahli biologi cuma berhak bicara soal biologi. Tidak mungkin ada orang yang bisa menguasai banyak bidang ilmu secara sekaligus (kalau bisa, itu pasti pemahamannya setengah-setengah). Boleh-boleh saja seseorang menulis atau menyebarkan hal diluar disiplin ilmu yang ditekuninya, namun dari segi etika, ia tidak diperkenankan untuk mengambil kesimpulan apapun dari sana. Maka itulah, pendekatan Harun Yahya dalam menentang teori evolusi kurang bisa diterima secara ilmiah. Pertama, dia tidak punya otoritas untuk itu (karena tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu yang sesuai). Yang kedua, kalau dia punya hipotesis tentang kekeliruan teori evolusi, maka yang harus dilakukannya adalah melakukan studi dengan metodologi ilmiah untuk membuktikan hipotesisnya itu, bukannya dengan mengkliping artikel-artikel populer, lantas langsung melompat ke kesimpulan bahwa teori evolusi adalah salah!
Tapi diluar itu, tentu saja kita juga harus menghargai upaya Harun Yahya dalam memasyarakatkan sains di kalangan umat sekaligus mempertebal keyakinan atas kebesaranNya. Namun kita hendaknya tidak sampai lupa untuk selalu mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kalau beliau memang ilmuwan, katakan sebagai ilmuwan, tapi kalau dia penulis, ya harus konsekuen untuk menempatkannya di posisi itu.
Ilmuwan (scientist) adalah orang yang bekerja sesuai dengan latar belakang ilmunya dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) sebagai pegangan utamanya. Kalau kita masih ingat, mulai di bangku SMP dulu kita sudah belajar tentang penerapan metode ilmiah, walaupun masih sangat sederhana. Mulai dari menetapkan hipotesis, melakukan eksperimen dan observasi, hingga menarik kesimpulan. Sekarang, kita lihat, apakah Harun Yahya menggunakan metodologi itu untuk menghasilkan karya-karyanya? Kalau ya, maka dia seorang ilmuwan. Kalau tidak, berarti dia bukan ilmuwan. Saya sudah membaca sebagian karya beliau yang berhubungan dengan sains, dan saya lihat, disana beliau hanya merangkum berbagai literatur ilmiah-populer (buku/artikel/website) yang kemudian “dibumbui” dengan ayat-ayat Al Qur'an yang relevan, lantas jadilah buku. Alias, tidak ada buku beliau yang merupakan hasil penelitian/eksperimen yang menggunakan metode dan kaidah ilmiah. Karena itu, saya cenderung menggolongkan beliau sebagai penulis, atau tepatnya penulis sains, ketimbang ilmuwan.
Pada dasarnya, metode ilmiah sangat menekankan pada objektifitas. Hasil pengamatan/eksperimen akan diterima sebagaimana adanya tanpa dipengaruhi oleh suatu prakonsepsi tertentu. Metode ilmiah juga melibatkan hubungan yang saling mempengaruhi antara pemahaman induktif (pemahaman melalui observasi yang spesifik dan eksperimen untuk menentukan hipotesis dari teori yang lebih umum) dan pemahaman deduktif (pemahaman dari teori untuk menetapkan hasil eksperimen). Kalau Harun Yahya menggunakan ayat kitab suci untuk membahas sains, berarti dia telah memiliki sebuah prakonsepsi. Dia cenderung akan menolak apabila ada hasil penelitian atau eksperimen yang bertentangan dg prakonsepsi yang dipegangnya (contohnya teori evolusi). Dengan demikian faktor objektifitas jadi terabaikan. Ilmuwan sejati sama sekali tidak bekerja dengan cara semacam itu. Seorang ilmuwan sangat dituntut untuk memiliki kejujuran intelektual. Dia harus bersedia menerima fakta-fakta sains yang didukung data yang didapat melalui riset dengan metode ilmiah, betapapun itu bertentangan dengan keyakinan atau dogma yang dipercayainya.
Tulisan-tulisan Harun Yahya mencakup berbagai topik sains, mulai dari fisika, biologi, astronomi, genetika, hingga politik dan filsafat. Ini membuat pembaca dari kalangan awam jadi beranggapan bahwa beliau adalah ilmuwan serba bisa dan serba tahu. Padahal, ilmuwan sejati sangat menghargai spesialisasi. Seorang fisikawan cuma punya otoritas untuk bicara soal fisika; ahli biologi cuma berhak bicara soal biologi. Tidak mungkin ada orang yang bisa menguasai banyak bidang ilmu secara sekaligus (kalau bisa, itu pasti pemahamannya setengah-setengah). Boleh-boleh saja seseorang menulis atau menyebarkan hal diluar disiplin ilmu yang ditekuninya, namun dari segi etika, ia tidak diperkenankan untuk mengambil kesimpulan apapun dari sana. Maka itulah, pendekatan Harun Yahya dalam menentang teori evolusi kurang bisa diterima secara ilmiah. Pertama, dia tidak punya otoritas untuk itu (karena tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu yang sesuai). Yang kedua, kalau dia punya hipotesis tentang kekeliruan teori evolusi, maka yang harus dilakukannya adalah melakukan studi dengan metodologi ilmiah untuk membuktikan hipotesisnya itu, bukannya dengan mengkliping artikel-artikel populer, lantas langsung melompat ke kesimpulan bahwa teori evolusi adalah salah!
Tapi diluar itu, tentu saja kita juga harus menghargai upaya Harun Yahya dalam memasyarakatkan sains di kalangan umat sekaligus mempertebal keyakinan atas kebesaranNya. Namun kita hendaknya tidak sampai lupa untuk selalu mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kalau beliau memang ilmuwan, katakan sebagai ilmuwan, tapi kalau dia penulis, ya harus konsekuen untuk menempatkannya di posisi itu.

Kadang terbayang bahwa justru Harun Yahya (HY) membawa umat Islam menjauh dari sains. Darwin dkk selalu dipandang dengan kelam. Pada akhirnya yang diuntungkan justru kedua ekstrim, yaitu: para ilmuwan yang anti agama dan para agamawan yang nggak mau melongok keluar kitab suci. Yang dirugikan adalah para ilmuwan yang hanif.
Tapi mungkin bayangan saya salah. Mungkin sebelum Harun Yahya malahan umat Islam tidak terlalu peduli sains :). Mungkin HY berhasil membuat mereka melek dan kagum pada sains, dan suatu hari akan belajar lebih dari sekedar baca HY, lalu kemudian bisa mengkritisi HY sendiri.
Masih mau nulis soal lain sih. Tapi ntar namanya bukan komentar. Namanya weblog pindah :).
Posted by
Koen |
1:31 PM