« Home | Telkom Speedy » | Eijkman dan Bosscha » | Bosscha Sekarang » | Liburan ... » | Cerita dari Olimpiade Fisika » | Sungai dari Firdaus » | Blog dan Media » | Tampilan Baru, Blog Baru » | Gempa Semalam » | Dunia Pendidikan Kita »

Jembatan Keledai

Gara-gara diskusi tentang Pluto yang barusan dikeluarkan dari keluarga planet, saya malahan baru tahu kalau ternyata ada banyak “jembatan keledai” yang dipakai orang untuk menghafalkan urut-urutan keluarga planet penghuni tata surya. Mulai dari “Membeli Velpen Buat Maryati Yang Sedang Ujian Negara Penghabisan” sampai “Mari Vetik Bunga Mawar Yang Satu Untuk Nona Pluto”. Untung saja IAU tidak jadi menambah jumlah planet menjadi 12 seperti usulan semula, he-he-he :).

Saya sendiri cenderung tidak memperlakukan astronomi sebagai pelajaran hafalan. Kalau kebetulan saya dari kecil sudah hafal diluar kepala urut-urutan planet mulai dari Merkurius sampai Pluto (yang sekarang sudah “didepak” dari keluarga planet), itu bukan karena jembatan keledai, melainkan lebih karena saya sudah jatuh cinta dengan astronomi jauh sebelum saya bisa membedakan antara cewek cantik dengan yang biasa-biasa saja :).

Menyimpang sedikit ke soal Pluto; sebagai “pecinta” astronomi, saya sebenarnya tidak merasa kehilangan atas berakhirnya status keplanetan Pluto. Klasifikasi adalah buatan manusia semata. Apapun klasifikasi yang dipakai, entah planet atau dwarfs planet seperti yang sekarang berlaku, toh Pluto secara fisik tidak berubah. Tetap sebagaimana adanya saat ia masih dianggap sebagai planet. Dalam sains, kita tidak boleh main perasaan, melainkan memakai ukuran. Hilangnya status keplanetan Pluto itu wajar saja dari konteks perkembangan sains, dan tidak perlu ditanggapi secara “sentimentil”, apalagi pakai aksi demo segala macam ;).

Kembali ke soal jembatan keledai. Mungkin jembatan keledai yang paling populer dikalangan anak SD hingga sekolah menengah adalah “mejikuhibiniu” untuk menghafalkan urut-urutan spektrum pelangi (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Padahal, seperti yang sudah pernah saya tulis disini, urut-urutan inipun sebenarnya tidak betul. Disamping pelangi sebenarnya lebih kaya warna—alih-alih hanya punya tujuh warna, definisi warna nila itupun sebenarnya masih belum jelas.

Tapi, teknik jembatan keledai ternyata tidak cuma dipakai oleh anak-anak di level sekolah menengah kebawah, melainkan juga oleh saintis profesional. Para astronom misalnya, juga punya jembatan keledai untuk menghafalkan urut-urutan kelas spektral bintang. Mau tahu seperti apa jembatan keledainya? Oh, Be A Fine Girl (Guy), Kiss Me!