« Home | Jembatan Keledai » | Telkom Speedy » | Eijkman dan Bosscha » | Bosscha Sekarang » | Liburan ... » | Cerita dari Olimpiade Fisika » | Sungai dari Firdaus » | Blog dan Media » | Tampilan Baru, Blog Baru » | Gempa Semalam »

Sains Harry Potter

Apa hubungannya Harry Potter dengan sains? Semua orang tahu kalau Harry Potter, serial novel terkenal buah pena J.K. Rowling itu bercerita tentang dunia sihir yang tentunya cuma sebatas fantasi, sementara sains adalah hal yang nyata, eksak.

Kaitan langsung diantara keduanya tentu saja tidak ada. Tapi, di tangan Roger Highfield, editor sains The Daily Telegraph, London, mengikuti kisah Harry Potter selama menimba ilmu di Hogwarts dapat berubah menjadi petualangan sains yang mengasyikkan. Setidaknya itu yang akan kita dapatkan dari membaca buku karangannya: The Science of Harry Potter, atau terjemahan indonesianya, Sains Harry Potter: Menjelaskan Sihir dengan Sains (Penerbit KPG, 2006).

Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Di bagian pertama, penulis lebih cenderung untuk menguraikan masalah “bagaimana caranya” yang bisa dianggap sebagai kajian ilmiah rahasia tentang segala sesuatu yang terjadi di Hogwarts maupun dunia sihir pada umumnya. Dan begitulah. Dari sapu terbang yang dikendarai Harry Potter dalam pertandingan Quidditch, kita bisa belajar tentang usaha para ilmuwan untuk menemukan bahan antigravitasi hingga teori relativitas umum dan khusus. Jam pembalik waktu Hermione Granger akan membawa kita belajar tentang teori kuantum dan semesta paralel. Topi seleksi pembaca pikiran akan menuntun kita memahami pola-pola aktivitas listrik dan magnetis dalam otak. Kacang segala rasa Bertie Bott akan mengungkap rahasia indera pengecap kita. Dan jangan lewatkan kelas magizoologi yang akan membuka sedikit rahasia rekayasa DNA yang dilakukan para ilmuwan muggle (istilah dalam buku Harry Potter untuk manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir).

Di bagian kedua, buku ini lebih memusatkan perhatian pada asal-mula pemikiran sihir, baik itu yang diungkapkan oleh mitos, legenda, ilmu gaib, dan semacamnya. Diawali dengan keterbatasan pikiran manusia, kita akan belajar tentang ilmu alkimia yang berawal dari mimpi para ilmuwan di masa lampau untuk mengubah unsur-unsur dasar menjadi emas, atau usaha pencarian “cairan kehidupan” yang identik dengan batu bertuah yang dikisahkan dalam salah satu serial Harry Potter. Semuanya akan membawa kita untuk melintasi berbagai cabang sains, mulai dari fisika partikel hingga biologi sel.

Sepintas konsep buku ini tidak jauh berbeda dengan buku semacam Fisika Star Trek (yang juga sudah pernah diulas disini). Keduanya sama-sama berangkat dari ide untuk memasyarakatkan sains lewat produk budaya pop. Kehadiran buku ini maupun buku sejenis kiranya tidak dimaksudkan untuk “membonceng” ketenaran Harry Potter (atau serial Star Trek, dan semacamnya), melainkan untuk menyediakan sebuah “atmosfer” yang lebih akrab bagi pembaca dalam membahas soal sains. Toh Sains dan sihir ternyata tidak mesti bertolak belakang, dan sumber keduanya pun sama, yakni rasa ingin tahu manusia. Sains dan sihir sama-sama menyimpan berbagai keajaiban yang mengundang kekaguman. Bukan begitu?