Sukhoi, Boeing, Hercules
Suara deru mesin pessawat yang tidak biasa agak mengejutkan bagi saya yang saat itu tengah santai menikmati hari Minggu. Waktu melongok keluar, nampak 4 pesawat tempur, dari jenis F16 dan F5 - kalau saya tidak salah mengidentifikasi - yang terbang membentuk formasi diamond. Belum lepas pandangan saya dari keempat pesawat tersebut, terdengar lagi deru lain yang lebih keras. "Nah, ini dia rajanya," kata seorang teman yang juga ikut keluar menyaksikan 'tontonan gratis' itu. Nampak 4 pesawat tempur lain yang melintas dengan formasi yang sama. Dari bentuk ekornya yang khas, tidak salah lagi, itulah pesawat-peaawat Sukhoi yang pembeliannya beberapa waktu lalu sempat bikin heboh itu.
Sekitar setengah jam F5, F16, dan Sukhoi menari-nari diatas langit Surabaya. Saya baru 'ngeh' kalau hari ini adalah tanggal 5 Oktober yang diperingati sebagai hari TNI, dan kebetulan kali ini peringatannya dipusatkan di kota saya. Sebenarnya sudah tiga hari ini deru serupa sering saya dengar pada menjelang siang, tapi karena saya sedang berada di kantor, berkutat dengan setumpuk pekerjaan, tentulah tidak sempat untuk keluar sekedar untuk melongok Sukhoi beraksi.
Jelek-jelek begini, saya juga peminat dirgantara lho. Kalau ditanya, benda buatan manusia apa yang paling cantik, maka pasti akan saya jawab "pesawat terbang". Tapi minat saya cuma terfokus pada pesawat terbang sipil, bukan pesawat tempur. Dulu, waktu masih sekolah di Denpasar, saya punya hobi unik, yaitu nongkrong di jalanan di pinggir landasan bandar udara Ngurah Rai di Denpasar, sekedar untuk menonton pesawat-pesawat yang hendak tinggal landas atau mendarat. Entah kenapa saya merasa itu adalah pertunjukan yang sangat menarik. Untuk ini, jumbojet keluaran Boeing atau Airbus adalah favorit saya. Boeing, terutama dari seri 747 di mata saya ibarat cewek cantik dengan bodi yang aduhai. Tapi pesawat Boeing seri 737-200 yang jadi favorit operator penerbangan partikelir di Indonesia itu merupakan perkecualian. Ini sih jumbojet banci. Kapasitasnya nggak terlalu besar, tapi potongannya gemuk. Bentuk mesinnya juga mengingatkan saya pada pesawat-pesawat keluaran tahun 1970-an. Terkesan kuno! Untuk airbus, saya cuma punya satu kata untuk melukiskannya: anggun.
Pernah melongok ke kokpit? Pernah sih, tapi bukan kokpit pesawat komersil, tapi justeru pesawat angkut militer, Hercules. Ceritanya terjadi pada tahun 1990-an awal, dalam penerbangan dengan Rute Denpasar - Dili - Baucau - Kupang. Ini rute yang tidak lazim karena pesawat komersial biasanya akan menuju Kupang terlebih dahulu sebelum meneruskan penerbangan ke kota-kota di Timor Timur - yang saat itu masih menjadi bagian dari Indonesia. Menurut 'orang dalam', rute ini sengaja ditempuh karena tidak ingin mengambil resiko menginapkan pesawat di Timor Timur yang situasinya saat itu sedang bergolak. Berkat 'orang dalam' pula saya bisa ikut dalam penerbangan ini, tentunya dengan membayar 'uang rokok' yang jumlahnya jauh dibawah tiket resmi penerbangan komersial untuk tujuan yang sama.
Penumpang yang diangkut dalam penerbangan ini adalah para prajurit TNI (dulu ABRI), keluarga prajurit, serta orang-orang sipil yang kepingin 'terbang hemat' ke Kupang. Tentu saja saya termasuk golongan yang terakhir ini. Selain itu, diangkut pula anjing-anjing pelacak yang ditempatkan dalam kerangkeng, sebuah pesawat ringan yang sudah 'dipreteli', dan - yang paling bikin merinding - tumpukan senjata dan amunisi dari berbagai ukuran dan jenis: mulai dari peluru, granat, hingga peluncur roket. Asal tahu saja, penerbangan ini tidak ditanggung oleh asuransi!
Hercules bukanlah termasuk pesawat favorit saya. Bodinya sebenarnya cukup lumayan, tetapi bentuk 'hidungnya' yang kurang proporsional itu membuatnya jadi kurang enak dilihat. Belum lagi catnya yang loreng, khas militer, membuat pesawat ini jadi berkesan angker. Normalnya, penerbangan komersial menuju Kupang akan memakan waktu sekitar satu setengah jam. Tapi untuk penerbangan kali ini, tidak ada jadwal yang pasti. Tidak ada pramugari yang menyampaikan informasi-informasi pada penumpang. Juga jangan harap ada kursi empuk dengan sabuk pengaman seperti penerbangan normal. Yang ada hanyalah bangku yang membujur sepanjang sisi pesawat, mirip seperti pada angkot. Sebagai pengganti sabuk pengaman, tersedia tali-temali yang dijalin berbentuk jaring di dinding pesawat sebagai tempat berpegangan saat pesawat melakukan prosedur tinggal landas ataupun mendarat.
Untuk menghilangkan rasa senewen dan tegang selama dalam penerbangan, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di dalam pesawat - yang suasananya lebih mirip truk pengangkut barang itu. Sekali-sekali saya memandang dengan tatapan cemas ke arah tumpukan amunisi yang diangkut. Bagaimana kalau ... uh, memikirkannya saja saya sudah tidak berani. Akhirnya sampai juga juga saya ke pintu kokpit. Saya sempatkan melongok kedalamnya dan bahkan 'beramah-tamah' pula dengan para awak yang bertugas (toh tidak ada tanda "dilarang berbicara dengan sopir"). Sang pilot sempat membesarkan hati saya yang betul-betul stress dan menyesal telah nekad mengikuti penerbangan gila-gilaan ini. Entah kenapa, sehabis 'omong-omong' dengan sang pilot, perasaan saya jadi lebih tenang. Mungkin karena si pilot berhasil meyakinkan saya kalau penerbangan ini telah cukup memenuhi prosedur keamanan. Tentu saja menurut standar militer.
Perasaan saya kembali dibikin kecut saat pesawat memasuki udara Timor Timur. Beberapa saat sebelum mendarat di Dili, pintu belakang pesawat dibuka sedikit. Dua orang tentara berjaga di masing-masing sisinya, dengan senapan mesin mengarah keluar. Mungkin untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada tembakan dari arah darat. Setiba di bandara Komoro, Dili, saya sempatkan untuk turun sejenak, menghirup udara segar. Tidak banyak yang bisa saya lihat disana. Selain pemandangan khas bandara, juga terlihat barisan pebukitan. Tapi apa yang kelihatan menyembul di bukit-bukit itu? Ya ampun, ternyata itu sederetan batu nisan! Konon, itu adalah makam para prajurit TNI yang gugur saat operasi Seroja dulu. Jelas ini, bukan pemandangan yang membesarkan hati, apalagi mengingat suasana hati saya yang masih sedikit tegang itu.
Penerbangan dari Dili ke Baucau ternyata singkat saja. Mungkin cuma sekitar 10 menit. Rasanya seperti tinggal landas lantas mendarat begitu saja. Dari Baucau, barulah moncong pesawat diarahkan ke Kupang. Hari sudah gelap ketika Hercules saya akhirnya menjejak landasan bandara El Tari, Kupang. Selain bersyukur, saya juga merasa kapok ikut dengan penerbangan edan seperti ini. Minggu berikutnya saya sudah berada dalam perut pesawat Fokker 28 milik Merpati dalam penerbangan kembali ke Denpasar. Memang kali ini saya tidak bisa mengunjungi kokpit, tapi paling tidak saya bisa duduk di kursi yang nyaman, dilayani oleh para pramugari cantik, dan yang paling penting: ada jaminan asuransinya.
Sekitar setengah jam F5, F16, dan Sukhoi menari-nari diatas langit Surabaya. Saya baru 'ngeh' kalau hari ini adalah tanggal 5 Oktober yang diperingati sebagai hari TNI, dan kebetulan kali ini peringatannya dipusatkan di kota saya. Sebenarnya sudah tiga hari ini deru serupa sering saya dengar pada menjelang siang, tapi karena saya sedang berada di kantor, berkutat dengan setumpuk pekerjaan, tentulah tidak sempat untuk keluar sekedar untuk melongok Sukhoi beraksi.
Jelek-jelek begini, saya juga peminat dirgantara lho. Kalau ditanya, benda buatan manusia apa yang paling cantik, maka pasti akan saya jawab "pesawat terbang". Tapi minat saya cuma terfokus pada pesawat terbang sipil, bukan pesawat tempur. Dulu, waktu masih sekolah di Denpasar, saya punya hobi unik, yaitu nongkrong di jalanan di pinggir landasan bandar udara Ngurah Rai di Denpasar, sekedar untuk menonton pesawat-pesawat yang hendak tinggal landas atau mendarat. Entah kenapa saya merasa itu adalah pertunjukan yang sangat menarik. Untuk ini, jumbojet keluaran Boeing atau Airbus adalah favorit saya. Boeing, terutama dari seri 747 di mata saya ibarat cewek cantik dengan bodi yang aduhai. Tapi pesawat Boeing seri 737-200 yang jadi favorit operator penerbangan partikelir di Indonesia itu merupakan perkecualian. Ini sih jumbojet banci. Kapasitasnya nggak terlalu besar, tapi potongannya gemuk. Bentuk mesinnya juga mengingatkan saya pada pesawat-pesawat keluaran tahun 1970-an. Terkesan kuno! Untuk airbus, saya cuma punya satu kata untuk melukiskannya: anggun.
Pernah melongok ke kokpit? Pernah sih, tapi bukan kokpit pesawat komersil, tapi justeru pesawat angkut militer, Hercules. Ceritanya terjadi pada tahun 1990-an awal, dalam penerbangan dengan Rute Denpasar - Dili - Baucau - Kupang. Ini rute yang tidak lazim karena pesawat komersial biasanya akan menuju Kupang terlebih dahulu sebelum meneruskan penerbangan ke kota-kota di Timor Timur - yang saat itu masih menjadi bagian dari Indonesia. Menurut 'orang dalam', rute ini sengaja ditempuh karena tidak ingin mengambil resiko menginapkan pesawat di Timor Timur yang situasinya saat itu sedang bergolak. Berkat 'orang dalam' pula saya bisa ikut dalam penerbangan ini, tentunya dengan membayar 'uang rokok' yang jumlahnya jauh dibawah tiket resmi penerbangan komersial untuk tujuan yang sama.
Penumpang yang diangkut dalam penerbangan ini adalah para prajurit TNI (dulu ABRI), keluarga prajurit, serta orang-orang sipil yang kepingin 'terbang hemat' ke Kupang. Tentu saja saya termasuk golongan yang terakhir ini. Selain itu, diangkut pula anjing-anjing pelacak yang ditempatkan dalam kerangkeng, sebuah pesawat ringan yang sudah 'dipreteli', dan - yang paling bikin merinding - tumpukan senjata dan amunisi dari berbagai ukuran dan jenis: mulai dari peluru, granat, hingga peluncur roket. Asal tahu saja, penerbangan ini tidak ditanggung oleh asuransi!
Hercules bukanlah termasuk pesawat favorit saya. Bodinya sebenarnya cukup lumayan, tetapi bentuk 'hidungnya' yang kurang proporsional itu membuatnya jadi kurang enak dilihat. Belum lagi catnya yang loreng, khas militer, membuat pesawat ini jadi berkesan angker. Normalnya, penerbangan komersial menuju Kupang akan memakan waktu sekitar satu setengah jam. Tapi untuk penerbangan kali ini, tidak ada jadwal yang pasti. Tidak ada pramugari yang menyampaikan informasi-informasi pada penumpang. Juga jangan harap ada kursi empuk dengan sabuk pengaman seperti penerbangan normal. Yang ada hanyalah bangku yang membujur sepanjang sisi pesawat, mirip seperti pada angkot. Sebagai pengganti sabuk pengaman, tersedia tali-temali yang dijalin berbentuk jaring di dinding pesawat sebagai tempat berpegangan saat pesawat melakukan prosedur tinggal landas ataupun mendarat.
Untuk menghilangkan rasa senewen dan tegang selama dalam penerbangan, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di dalam pesawat - yang suasananya lebih mirip truk pengangkut barang itu. Sekali-sekali saya memandang dengan tatapan cemas ke arah tumpukan amunisi yang diangkut. Bagaimana kalau ... uh, memikirkannya saja saya sudah tidak berani. Akhirnya sampai juga juga saya ke pintu kokpit. Saya sempatkan melongok kedalamnya dan bahkan 'beramah-tamah' pula dengan para awak yang bertugas (toh tidak ada tanda "dilarang berbicara dengan sopir"). Sang pilot sempat membesarkan hati saya yang betul-betul stress dan menyesal telah nekad mengikuti penerbangan gila-gilaan ini. Entah kenapa, sehabis 'omong-omong' dengan sang pilot, perasaan saya jadi lebih tenang. Mungkin karena si pilot berhasil meyakinkan saya kalau penerbangan ini telah cukup memenuhi prosedur keamanan. Tentu saja menurut standar militer.
Perasaan saya kembali dibikin kecut saat pesawat memasuki udara Timor Timur. Beberapa saat sebelum mendarat di Dili, pintu belakang pesawat dibuka sedikit. Dua orang tentara berjaga di masing-masing sisinya, dengan senapan mesin mengarah keluar. Mungkin untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada tembakan dari arah darat. Setiba di bandara Komoro, Dili, saya sempatkan untuk turun sejenak, menghirup udara segar. Tidak banyak yang bisa saya lihat disana. Selain pemandangan khas bandara, juga terlihat barisan pebukitan. Tapi apa yang kelihatan menyembul di bukit-bukit itu? Ya ampun, ternyata itu sederetan batu nisan! Konon, itu adalah makam para prajurit TNI yang gugur saat operasi Seroja dulu. Jelas ini, bukan pemandangan yang membesarkan hati, apalagi mengingat suasana hati saya yang masih sedikit tegang itu.
Penerbangan dari Dili ke Baucau ternyata singkat saja. Mungkin cuma sekitar 10 menit. Rasanya seperti tinggal landas lantas mendarat begitu saja. Dari Baucau, barulah moncong pesawat diarahkan ke Kupang. Hari sudah gelap ketika Hercules saya akhirnya menjejak landasan bandara El Tari, Kupang. Selain bersyukur, saya juga merasa kapok ikut dengan penerbangan edan seperti ini. Minggu berikutnya saya sudah berada dalam perut pesawat Fokker 28 milik Merpati dalam penerbangan kembali ke Denpasar. Memang kali ini saya tidak bisa mengunjungi kokpit, tapi paling tidak saya bisa duduk di kursi yang nyaman, dilayani oleh para pramugari cantik, dan yang paling penting: ada jaminan asuransinya.
