Kampung Halaman
Punyakah saya kampung halaman? Saya mungkin bisa mengklaim Kotogadang di Sumatera Barat sebagai kampung halaman saya, atau minimal tempat nenek-moyang saya berasal. Tapi saya toh belum pernah menginjakkan kaki disana. Dan jikalau suatu saat saya berkesempatan untuk berkunjung kesana, terus terang saya sangsi apakah masih akan bertemu dengan seseorang yang masih saya kenal dan punya hubungan saudara.
Mungkin untuk praktisnya saya bisa menyebut Kupang sebagai darah asal saya. Tapi, disamping saudara jauh yang jumlahnya tinggal segelintir, paling-paling disana saya hanya akan menjumpai pusara kakek-nenek saya yang kesemuanya sudah tiada. Atau bagaimana dengan Kediri, kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan pabrik rokok Gudang Garamnya itu? Tapi disitupun saya hanya akan menemukan rumah sakit tempat saya dilahirkan. Saya tidak punya sanak saudara atau siapapun juga di kota itu.
Akhirnya, pulau Bali juga yang menjadi tujuan 'mudik' saya tahun ini. Di pulau ini saya memang pernah menetap dan menghabiskan sebagian masa kecil saya (sebagian lagi saya lewatkan di Bandung). Di pulau ini juga ayah saya hingga kini masih bertugas sebagai pegawai negeri.
Bali memang bukan kampung halaman saya, juga bukan daerah asal atau tempat kelahiran. Tapi esensi mudik adalah silaturahmi. Menjenguk orang-orang tersayang, bermaaf-maafan dan bersama melewatkan hari raya. Bukan untuk menjenguk daerah asal, kampung halaman, atau tempat kelahiran. Kalau ada yang bertanya, saya orang mana, dan dimanakah letak kampung halaman saya, maka jawaban saya lugas saja: Indonesia.
Selamat berlebaran. Taqabballaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
Mungkin untuk praktisnya saya bisa menyebut Kupang sebagai darah asal saya. Tapi, disamping saudara jauh yang jumlahnya tinggal segelintir, paling-paling disana saya hanya akan menjumpai pusara kakek-nenek saya yang kesemuanya sudah tiada. Atau bagaimana dengan Kediri, kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan pabrik rokok Gudang Garamnya itu? Tapi disitupun saya hanya akan menemukan rumah sakit tempat saya dilahirkan. Saya tidak punya sanak saudara atau siapapun juga di kota itu.
Akhirnya, pulau Bali juga yang menjadi tujuan 'mudik' saya tahun ini. Di pulau ini saya memang pernah menetap dan menghabiskan sebagian masa kecil saya (sebagian lagi saya lewatkan di Bandung). Di pulau ini juga ayah saya hingga kini masih bertugas sebagai pegawai negeri.
Bali memang bukan kampung halaman saya, juga bukan daerah asal atau tempat kelahiran. Tapi esensi mudik adalah silaturahmi. Menjenguk orang-orang tersayang, bermaaf-maafan dan bersama melewatkan hari raya. Bukan untuk menjenguk daerah asal, kampung halaman, atau tempat kelahiran. Kalau ada yang bertanya, saya orang mana, dan dimanakah letak kampung halaman saya, maka jawaban saya lugas saja: Indonesia.
Selamat berlebaran. Taqabballaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
