Menyambut Ramadhan
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun. Tak terasa kita kembali berada di ambang Ramadhan, bulan penuh berkah yang kedatangannya selalu dirindukan oleh setiap pribadi muslim yang bertaqwa.
Ramadhan selalu saya sambut dengan gembira sekaligus haru-biru. Gembira karena inilah bulan dimana ibadah terasa nikmat, ketika pahala digandakan, ketika rahmat dan ampunan diturunkan. Haru-biru, karena setiap memasuki Ramadhan, saya teringat akan usia yang bertambah setahun, walaupun pada hakikatnya sisa umur berkurang setahun jua. Di bulan inilah, ketika kalendar hijriyah menunjukkan tanggal 27 Ramadhan, Allah Swt menghadirkan saya ke dunia (karena itulah orangtua memberikan nama Ramadhani).
Saya dilahirkan saat sebahagian Muslimin sedang bersiap-siap menyambut lebaran, pulang menjenguk kerabat di kampung halaman. Namun sebagian lagi justeru harap-harap cemas mengharapkan lailatul qadar. Penanggalan masehi saat itu menunjukkan tanggal 22 September, ketika udara sedang panas-panasnya karena Matahari sedang berada tepat di atas garis katulistiwa. Para astronom menyebutnya sebagai titik autumnal equinox, saat orang-orang di belahan utara Bumi sedang menyambut peralihan musim dari musim panas ke musim gugur, sementara di belahan selatan, matahari musim semi mulai mencairkan salju musim dingin.
Ramadhan adalah saat untuk merenungkan kembali apa saja yang telah diperbuat selama setahun belakangan, dan juga tahun-tahun sebelumnya. Rasanya masih sangat sedikit pencapaian yang sudah diraih. Masih banyak harapan yang belum terwujud, masih banyak niat yang belum kesampaian, belum lagi tumpukan noda dan dosa yang seberapa banyaknya hanya Allah jualah yang Maha Tahu. Sebuah pertanyaan "klasik" yang selalu muncul di awal Ramadhan juga kembali terngiang: akankan saya akan berjumpa lagi dengan Ramadhan berikutnya?
Ramadhan bagi saya memang bukan sekedar sahur di tengah malam, berpuasa di siang hari dan ibadah Tarawih di malam hari. Ramadhan adalah bulan kontemplasi. Inilah saat yang tepat bagi saya untuk menemukan kembali hidup ini, reinvent -- meminjam istilah seorang sahabat maya. Kini saatnya bagi saya untuk menghaturkan beribu maaf atas segala salah dan khilaf bagi sahabat semua. Insya Allah, kita sambut Ramadhan dengan hati bersih dan pikiran yang tenang dalam menjalani ibadah. Marhaban ya Ramadhan!
Ramadhan selalu saya sambut dengan gembira sekaligus haru-biru. Gembira karena inilah bulan dimana ibadah terasa nikmat, ketika pahala digandakan, ketika rahmat dan ampunan diturunkan. Haru-biru, karena setiap memasuki Ramadhan, saya teringat akan usia yang bertambah setahun, walaupun pada hakikatnya sisa umur berkurang setahun jua. Di bulan inilah, ketika kalendar hijriyah menunjukkan tanggal 27 Ramadhan, Allah Swt menghadirkan saya ke dunia (karena itulah orangtua memberikan nama Ramadhani).
Saya dilahirkan saat sebahagian Muslimin sedang bersiap-siap menyambut lebaran, pulang menjenguk kerabat di kampung halaman. Namun sebagian lagi justeru harap-harap cemas mengharapkan lailatul qadar. Penanggalan masehi saat itu menunjukkan tanggal 22 September, ketika udara sedang panas-panasnya karena Matahari sedang berada tepat di atas garis katulistiwa. Para astronom menyebutnya sebagai titik autumnal equinox, saat orang-orang di belahan utara Bumi sedang menyambut peralihan musim dari musim panas ke musim gugur, sementara di belahan selatan, matahari musim semi mulai mencairkan salju musim dingin.
Ramadhan adalah saat untuk merenungkan kembali apa saja yang telah diperbuat selama setahun belakangan, dan juga tahun-tahun sebelumnya. Rasanya masih sangat sedikit pencapaian yang sudah diraih. Masih banyak harapan yang belum terwujud, masih banyak niat yang belum kesampaian, belum lagi tumpukan noda dan dosa yang seberapa banyaknya hanya Allah jualah yang Maha Tahu. Sebuah pertanyaan "klasik" yang selalu muncul di awal Ramadhan juga kembali terngiang: akankan saya akan berjumpa lagi dengan Ramadhan berikutnya?
Ramadhan bagi saya memang bukan sekedar sahur di tengah malam, berpuasa di siang hari dan ibadah Tarawih di malam hari. Ramadhan adalah bulan kontemplasi. Inilah saat yang tepat bagi saya untuk menemukan kembali hidup ini, reinvent -- meminjam istilah seorang sahabat maya. Kini saatnya bagi saya untuk menghaturkan beribu maaf atas segala salah dan khilaf bagi sahabat semua. Insya Allah, kita sambut Ramadhan dengan hati bersih dan pikiran yang tenang dalam menjalani ibadah. Marhaban ya Ramadhan!
