« Home | Mitos, Fakta, dan Penelitian » | Sukhoi, Boeing, Hercules » | Berpikir Ensiklopedik » | Nasrudin Mendinamit Punggungnya » | Lagi Soal Militerisme » | Militerisme » | Mengapa Nyala Api Menguncup? » | Intisari, Orkestra, Sains » | Technical Stuffs (Lagi) » | Pembuat Jembatan »

Antara Legian-Paiton

Sepertinya baru kemarin suara menggelegar itu mengguncang gendang telinga saya. Rasanya baru kemarin saya terpekur di sebuah sudut jalan di Legian, di antara puing-puing bangunan dan bangkai kendaraan. Masih jelas dalam ingatan saya, tumpukan mayat-mayat yang hangus, nyaris tak berbentuk, yang terserak begitu saja di kamar jenazah RS Sanglah.

Setahun sudah tragedi mengerikan di Legian berlalu. Kita tidak cuma bicara tentang 200-an nyawa yang melayang seketika dalam peristiwa itu, tapi juga sebuah propinsi dengan tiga setengah juta penduduk yang ekonominya nyaris sekarat, bahkan hingga saat ini. Kita juga bicara soal sebuah negara berpenduduk 200 juta jiwa yang kini terseok-seok menghadapi ancaman teror yang muncul bertubi-tubi. Sebuah negara besar yang lemah dalam nyaris segala hal, yang terombang-ambing dalam apa yang disebut sebagai "perang global melawan terorisme" yang dihembuskan oleh negara-negara yang lebih maju.
* * *

Dalam perjalanan darat di malam hari antara Surabaya-Denpasar, gemerlap lampu-lampu di PLTU Paiton selalu menyajikan pemandangan yang menarik untuk sekedar dilongok. Mencapai Paiton bagi saya merupakan isyarat bahwa kendaraan telah mencapai sepertiga perjalanan, apabila dimulai dari Surabaya, atau tiga perempatnya, apabila bertolak dari Denpasar. Saat melihat lampu-lampu Paiton, saya boleh berharap dalam tiga jam kemuka akan tiba di Surabaya, atau dalam rute sebaliknya, mencapai Banyuwangi untuk selanjutnya menyeberang ke Bali.

Kalau belakangan ini nama Paiton mendadak menjadi buah bibir, pastilah bukan karena ada apa-apa dengan PLTU yang berlokasi di Probolinggo itu. Ini tentang sebuah peristiwa kecelakaan yang terjadi tidak jauh dari tempat itu, dengan 54 nyawa melayang seketika sementara tubuh mereka hangus terbakar. Terus terang, ketika media menayangkan gambar-gambar korban kecelakaan yang terjadi baru-baru ini disana, ingatan saya kembali melayang kepada apa yang saya lihat di Sanglah setahun silam.
* * *

Peristiwa Legian mengajarkan kepada kita, betapa mahalnya "harga" sebuah keamanan saat ini. Kita mendadak akrab dengan sekuriti yang ketat saat memasuki fasilitas publik. Atas nama keamanan pula, kita harus rela menerima pandangan curiga petugas sekuriti, berurusan dengan detektor logam, atau bahkan digeledah, hanya untuk bisa masuk dan berbelanja di sebuah mall.

Sebaliknya, peristiwa Paiton kembali memberi pelajaran pada kita, betapa murahnya harga sebuah keselamatan. Sekali lagi kita ditunjukkan, bagaimana bobroknya sistem layanan transportasi publik di negeri ini. Ketika peristiwa Legian yang korbannya rata-rata orang asing membuat kita mendadak "care" soal keamanan, apakah peristiwa Paiton yang memakan korban anak bangsa sendiri bisa membuat pihak-pihak yang berwenang peduli soal keselamatan? Apakah peristiwa ini bisa mengetuk mereka yang punya kuasa untuk memperbaiki sistem layanan publik di negeri ini? Sejauh ini, yang terlihat hanyalah pendekatan klasik. Para korban mendapatkan santunan dan limpahan simpati, sementara mereka yang dianggap bersalah segera diusut, untuk selanjutnya didudukkan di kursi pesakitan dimuka hakim, dan kemudian menerima vonis. Lantas persoalan dianggap selesai. Kita masih berkutat pada persoalan siapa yang salah, bukannya apa yang salah.

Legian, Paiton, mayat-mayat yang hangus terbakar. Semua itu membuat saya berpikir, begitu mudahkan nyawa melayang sia-sia di negeri ini? Benarlah kata penyair Taufiq Ismail: Malu aku jadi orang Indonesia!