Buleleng
Adalah Buleleng, sebuah kabupaten yang terletak di "punggung" peta Pulau Dewata. Singaraja adalah ibukota kabupaten yang berjuluk "Bumi Makepung" ini -- diambil dari nama kontes balap sapi tradisi lokal yang mirip dengan karapan sapi di pulau Madura. Kota Singaraja dikenal dengan semboyannya "Singaraja Sakti", yang oleh mereka yang punya jiwa humor suka dipelesetkan dengan membalik susunan hurufnya sedemikian rupa hingga membentuk kalimat "Sakit Raja Singa".
Letak Singaraja sekitar 90 km arah utara dari Denpasar. Perjalanan dari Denpasar ke sana akan melewati kawasan pegunungan di Bedugul, dengan hawa sejuk dan pemandangan indah danau Bratan, Buyan, dan Tamblingan. Selepas dari Bedugul, perjalanan akan berubah menjadi siksaan, khususnya bagi mereka yang mudah terserang mabuk darat, saat kendaraan melewati jalanan menurun yang sempit dan berkelok-kelok sepanjang sisa perjalanan hingga mencapai kota Singaraja.
Tidak banyak yang istimewa dari kabupaten ini. Saat Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih tergabung dalam satu propinsi dengan nama Sunda Kecil, Singaraja adalah ibukota propinsinya. Ketika Sunda Kecil dipecah, dan Bali menjadi propinsi yang berdiri sendiri, maka pilihan sebagai ibukota propinsi jatuh ke kota Denpasar.
Membicarakan daerah di Bali tanpa menyinggung soal objek wisata rasanya kurang lengkap. Di Buleleng, pantai Lovina dan permandian Air Sanih merupakan tempat tetirah yang paling populer. Lebih ke timur lagi, kita akan menjumpai daerah-daerah "minus" seperti Seririt atau Grokgak. Disana kita mungkin tidak akan merasa sedang berada di Bali. Tanah kering kerontang dengan diselingi pohon-pohon lontar dengan batu-batuan sisa letusan gunung agung sekitar dasawarsa 1960-an lebih banyak mendominasi pemandangan. Disana kita mungkin lebih merasa berada di daerah miskin semacam gunungkidul atau malahan pulau Timor ketimbang di Bali.
***
Dalam dua-tiga hari belakangan ini, nama Buleleng dan Singaraja sering disebut-sebut dalam siaran berita atau lembaran surat kabar. Lagi-lagi soal bentrok antar pendukung partai, yang sedihnya harus menelan korban jiwa, orang-orang lugu yang mati konyol untuk sebuah ketololan yang bernama "partai politik".
Bali adalah daerah yang masyarakatnya relatif homogen. Memang antar daerah kabupaten, ada beberapa perbedaan minor, tapi selama berabad-abad, mereka telah belajar untuk mengelola perbedaan dengan baik. Satu-dua kali terjadi pertikaian antar kelompok masyarakat, namun biasanya bisa diatasi secara adat tanpa menimbulkan pertumpahan darah. Namun ketika kemudian beragam partai politik tumbuh dengan massanya sendiri-sendiri, kedewasaan untuk mengelola perbedaan mulai mengalami ujian. Bukan rahasia lagi kalau selama ini friksi antar pendukung partai tidaklah merupakan hal yang jarang terjadi. Tapi ketika kemudian pertikaian ini berbuntut menjadi kerusuhan yang membawa korban jiwa, maka pantas kalau orang luar bertanya: ada apa dengan Bali?
Walaupun sering dipersepsikan sebagai masyarakat yang ramah dan santun budi bahasanya, orang Bali toh bukanlah malaikat. Mereka juga bisa marah, bisa emosi, dan bisa pula berlaku brutal; sama seperti umumnya masyarakat daerah lain di negara ini. Dan pemantik mana lagi yang paling ampuh untuk menyalakan sumbu kerusuhan di pulau ini selain perbedaan haluan politik?
Masyarakat kita memang belum dewasa dalam berpolitik. Ketika perbedaan warna baju bisa memancing persoalan, maka boleh dibilang kita masih dalam fase "balita". Masih dalam suasana peralihan dari bayi ke masa kanak-kanak. Kasus di Bali adalah hal yang bisa terjadi di mana saja di negara ini. Wajar kalau banyak orang yang mengkhawatirkan masa kampanye pemilihan umum yang kini tinggal hitungan bulan itu. Pendukung fanatik parpol yang didominasi oleh orang-orang dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi yang rendah, kelaparan dan frustrasi, adalah kombinasi buruk yang bisa memicu persoalan serius. Akankah Pemilu mendatang akan menjadi ajang mengumbar kebrutalan? Semoga saja tidak!
Letak Singaraja sekitar 90 km arah utara dari Denpasar. Perjalanan dari Denpasar ke sana akan melewati kawasan pegunungan di Bedugul, dengan hawa sejuk dan pemandangan indah danau Bratan, Buyan, dan Tamblingan. Selepas dari Bedugul, perjalanan akan berubah menjadi siksaan, khususnya bagi mereka yang mudah terserang mabuk darat, saat kendaraan melewati jalanan menurun yang sempit dan berkelok-kelok sepanjang sisa perjalanan hingga mencapai kota Singaraja.
Tidak banyak yang istimewa dari kabupaten ini. Saat Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih tergabung dalam satu propinsi dengan nama Sunda Kecil, Singaraja adalah ibukota propinsinya. Ketika Sunda Kecil dipecah, dan Bali menjadi propinsi yang berdiri sendiri, maka pilihan sebagai ibukota propinsi jatuh ke kota Denpasar.
Membicarakan daerah di Bali tanpa menyinggung soal objek wisata rasanya kurang lengkap. Di Buleleng, pantai Lovina dan permandian Air Sanih merupakan tempat tetirah yang paling populer. Lebih ke timur lagi, kita akan menjumpai daerah-daerah "minus" seperti Seririt atau Grokgak. Disana kita mungkin tidak akan merasa sedang berada di Bali. Tanah kering kerontang dengan diselingi pohon-pohon lontar dengan batu-batuan sisa letusan gunung agung sekitar dasawarsa 1960-an lebih banyak mendominasi pemandangan. Disana kita mungkin lebih merasa berada di daerah miskin semacam gunungkidul atau malahan pulau Timor ketimbang di Bali.
Dalam dua-tiga hari belakangan ini, nama Buleleng dan Singaraja sering disebut-sebut dalam siaran berita atau lembaran surat kabar. Lagi-lagi soal bentrok antar pendukung partai, yang sedihnya harus menelan korban jiwa, orang-orang lugu yang mati konyol untuk sebuah ketololan yang bernama "partai politik".
Bali adalah daerah yang masyarakatnya relatif homogen. Memang antar daerah kabupaten, ada beberapa perbedaan minor, tapi selama berabad-abad, mereka telah belajar untuk mengelola perbedaan dengan baik. Satu-dua kali terjadi pertikaian antar kelompok masyarakat, namun biasanya bisa diatasi secara adat tanpa menimbulkan pertumpahan darah. Namun ketika kemudian beragam partai politik tumbuh dengan massanya sendiri-sendiri, kedewasaan untuk mengelola perbedaan mulai mengalami ujian. Bukan rahasia lagi kalau selama ini friksi antar pendukung partai tidaklah merupakan hal yang jarang terjadi. Tapi ketika kemudian pertikaian ini berbuntut menjadi kerusuhan yang membawa korban jiwa, maka pantas kalau orang luar bertanya: ada apa dengan Bali?
Walaupun sering dipersepsikan sebagai masyarakat yang ramah dan santun budi bahasanya, orang Bali toh bukanlah malaikat. Mereka juga bisa marah, bisa emosi, dan bisa pula berlaku brutal; sama seperti umumnya masyarakat daerah lain di negara ini. Dan pemantik mana lagi yang paling ampuh untuk menyalakan sumbu kerusuhan di pulau ini selain perbedaan haluan politik?
Masyarakat kita memang belum dewasa dalam berpolitik. Ketika perbedaan warna baju bisa memancing persoalan, maka boleh dibilang kita masih dalam fase "balita". Masih dalam suasana peralihan dari bayi ke masa kanak-kanak. Kasus di Bali adalah hal yang bisa terjadi di mana saja di negara ini. Wajar kalau banyak orang yang mengkhawatirkan masa kampanye pemilihan umum yang kini tinggal hitungan bulan itu. Pendukung fanatik parpol yang didominasi oleh orang-orang dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi yang rendah, kelaparan dan frustrasi, adalah kombinasi buruk yang bisa memicu persoalan serius. Akankah Pemilu mendatang akan menjadi ajang mengumbar kebrutalan? Semoga saja tidak!
