« Home | Menyambut Ramadhan » | Dibalik Selembar Lima-Ribuan » | Pembodohan Lewat Iklan » | Antara Legian-Paiton » | Mitos, Fakta, dan Penelitian » | Sukhoi, Boeing, Hercules » | Berpikir Ensiklopedik » | Nasrudin Mendinamit Punggungnya » | Lagi Soal Militerisme » | Militerisme »

Blaine dan Puasa

Selama 44 hari, David Blaine, pesulap kondang asal Amerika Serikat itu terkurung di sebuah kotak kaca yang tergantung pada derek, di sebuah tempat yang bersebelahan dengan Tower Bridge, tepi sungai Thames, London. Selama itu, ia hanya menggantungkan hidupnya dengan minum air putih, tanpa makan sama sekali. Aksi edan itu baru berakhir pada 20 Oktober 2003, ketika sang pesulap yang mulai kepayahan itu dikeluarkan dari kotak kacanya setelah meringkuk disana sejak memulai aksinya, 5 September 2003.

Tidak semua orang setuju dengan sensasi yang digelar Blaine. Ia melakukannya bukan semata demi popularitas. Sebuah peliputan dan wawancara eksklusif senilai satu juta Dolar AS dengan sebuah jaringan televisi telah menantinya. Bagi yang tidak setuju, Blaine dianggap telah melecehkan kaum miskin yang setiap hari bergelut dengan kelaparan tanpa ada harapan untuk mendapat uang dari rasa laparnya itu. Beberapa orang bahkan mengejeknya dengan cara keterlaluan. Mereka mengikatkan burger keju pada helikopter yang dikendalikan melalui remote-control, dan kemudian menerbangkannya mengelilingi sangkar kaca dimana Blaine yang kelaparan mendekam.

***

Kita umat Islam, tentu juga tidak berniat untuk berlapar-lapar hanya demi uang seperti halnya Blaine. Kita berpuasa untuk sesuatu yang lebih bernilai daripada itu. Di bulan penuh berkah ini, Allah Swt telah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi setiap amalan yang dikerjakan. Apa lagi yang lebih tinggi nilainya dari pahala yang dijanjikan langsung oleh Sang Khaliq?

Tapi apakah kita hanya berpuasa semata-mata demi pahala? Sehari-hari, kita juga menjumpai banyak kaum miskin yang harus kelaparan tanpa imbalan pahala. Sebagian dari mereka, malahan terperosok ke dalam lumpur dosa, hanya untuk memenuhi tuntutan perut. Saat kita berpuasa, kita masih dapat berharap akan menikmati hidangan buka selepas adzan maghrib berkumandang, sementara mereka yang kelaparan tanpa harapan, tidak tahu apakah ada cukup rezeki hari ini untuk sekedar mengganjal perut yang kosong.

Ketika bulan Ramadhan tiba, warung-warung kita paksa untuk "bertoleransi", dengan tidak buka siang hari, atau kalaupun buka, dipasangi tabir agar pemandangan didalamnya tidak "mengganggu" mereka yang sedang berpuasa. Tapi pernahkah kita berpikir, ketika menikmati santapan di sebuah warung, ada diantara saudara kita yang cuma bisa menatap dengan perut keroncongan karena di sakunya tidak ada uang barang sepeserpun?

Puasa bukanlan sekedar ladang perburuan pahala. Esensi puasa selain meningkatkan amal ibadah dan menundukkan hawa nafsu, juga untuk menumbuhkan empati kepada mereka yang berkekurangan. Empati yang kemudian berkembang menjadi kepedulian, yang lantas diwujudkan dalam bentuk amaliah sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Melalui puasa kita diingatkan, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan, dan sehari-hari bergulat dengan rasa lapar. Mari kita ulurkan tangan untuk mereka. Kalau kita berpuasa semata-mata hanya demi mengejar pahala, lantas apa bedanya kita dengan Blaine?

Niat puasa adalah karena Allah SWT. itu sudah cukup. Thx Dhani. Wasalam.

Post a Comment