Dibalik Selembar Lima-Ribuan
Masih ingat dengan lembaran uang kertas 5000 Rupiah tahun emisi 1992? Di bagian muka uang kertas itu tergambar sebuah alat musik petik tradisional, sementara pada bagian belakangya terpampang lukisan danau tiga warna, Kelimutu. Kedua obyek ini sebenarnya merupakan ikon khas dari propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemilihan tema ini, entah disengaja atau sekedar kebetulan, cocok dengan karakter gubernur bank sentral kala itu, Adrianus Mooy, yang memang asli putra NTT. Kemungkinan atas alasan serupa, maka uang kertas bernominal sama dengan tahun emisi yang lebih baru (2001) penuh dengan nuansa Minang. Tidak heran, soalnya yang menjabat gubernur Bank Indonesia kala itu adalah Syahril Sabirin yang memang asli 'urang awak'.
Alat musik petik yang barusan disinggung diatas itu bernama Sasando, dan merupakan alat musik tradisional dari pulau Rote. Bicara soal Rote, tidak lepas dari cerita tentang batas-batas negara ini. Kita tentunya sudah tahu tentang batas barat dan timur negara kita lewat lagu "Dari Sabang sampai Merauke" yang terkenal itu. Tapi, batas utara dan selatannya, justeru dikenal lewat jingle iklan sebuah produk mi instan. Sayangnya, penggambarannya justeru kurang tepat. Batas utara tanah air kita memang ada di Talaud (tepatnya di kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara), tapi batas paling selatan bukanlah di Timor, melainkan di pulau Rote. Itupun tidak mutlak, mengingat selepas pulau Rote masih ada pulau-pulau karang kecil tak berpenghuni. Sebagian milik Indonesia, sebagian diklaim oleh Australia, dan sebagian lagi masih dalam sengketa.
Satu hal yang menarik dari Sasando ini, walaupun merupakan alat musik tradisional, tapi ia cukup luwes juga saat dipakai untuk mengiringi lagu-lagu pop modern. Untuk urusan ini, apabila dimainkan secara solo, instrumen ini boleh ditandingkan dengan harpa. Rahasia keunikan warna suara Sasando mungkin terletak pada "overtone" yang dihasilkan oleh resonansi suara petikan dawai senar dengan bagian pinggirannya yang terbuat dari jalinan daun lontar. Dalam acara-acara resmi, biasanya instrumen ini dimainkan oleh seorang laki-laki berpakaian adat, berupa kemeja putih berlengan panjang dengan sarung dan selempang dari tenunan khas setempat, lengkap dengan topi tradisional yang juga dibuat dari jalinan daun lontar. Topi tradisional yang disebut ti'ilangga ini juga kelihatan unik, karena biarpun sepintas mirip seperti topi koboi, tapi bagian depannya seolah-olah punya "antena".
Sementara itu, danau tiga-warna, Kelimutu, yang tergambar di balik uang kertas itu, berada di pulau Flores. Sebenarnya, warna ketiga danau ini tidak tepat benar sebagaimana terlukis disana. Warna ketiga danau itu selalu berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Konon itu akibat dari perubahan aktifitas vulkanis yang berpengaruh terhadap warna tumbuhan air semacam ganggang yang hidup disana. Saat ini, danau yang pada lembaran mata uang itu dilukiskan berwarna merah, terlihat berwarna kehitaman. Yang digambarkan berwarna hijau, kini lebih condong ke biru muda, sementara yang digambarkan berwarna biru, masih tetap biru, tapi lebih pekat. Saya sendiri kurang yakin, kapan terakhir kalinya (atau apa memang pernah) ketiga danau tersebut membentuk kombinasi warna merah-hijau-biru sebagaimana yang tergambar di lembaran lima-ribuan itu.
Pulau Flores, tempat danau ini berada, juga merupakan pulau yang sangat indah. Pelabuhan lautnya di Ende termasuk salah satu pelabuhan yang paling cantik yang pernah saya singgahi. Paduan panorama laut berpadu dengan barisan pegunungan yang menghijau, dengan kota Ende di latar depan, betul-betul membuat mata terasa sejuk. Bicara soal pelabuhan, nama danau Kelimutu juga diabadikan pada sebuah kapal penumpang milik PELNI yang kini melayari perairan di wilayah Indonesia bagian timur. Sekitar sepuluh tahun silam, saya pernah menumpang kapal itu dalam pelayaran selama tiga hari dua malam di kelas ekonomi. Gara-gara itu, saya terkena serangan typhus akibat jatah makanan yang tidak manusiawi yang disajikan diatas kapal.
Berbeda dengan Rote atau Flores, pulau Timor, dimana kota Kupang--ibukota propinsi NTT--berada, tidak banyak menyimpan hal yang menarik. Kupang adalah kota yang berdiri diatas tanah gersang berbatu karang. NTT sendiri dikenal sebagai salah satu propinsi yang termiskin. Saking miskinnya, sampai-sampai akronim NTT pun dipelesetkan sebagai "Nasib Tidak Tentu". Walaupun memiliki banyak tempat tetirah, seperti pulau Komodo yang terkenal itu, tapi yang banyak menikmati keuntungan dari sana adalah propinsi tetangganya, Nusa Tenggara Barat (NTB). Maklum, pulau Komodo atau Flores malahan lebih mudah dicapai dari pulau Lombok ketimbang dari Kupang. Selain karena jarak tempuh yang lebih dekat, infrastruktur di Lombok juga lebih bagus. Tidak heran, sekarang saja banyak orang yang mengira pulau komodo merupakan bagian dari propinsi NTB.
Nasib propinsi ini makin tidak keruan ketika harus harus berhadapan dengan persoalan pengungsi dari negara tetangga, Timor Leste alias Timor Lorosa'e. Padahal, ketika negara itu masih merupakan bagian dari Indonesia dengan nama Timor-Timur, nyaris seluruh perhatian dari Jakarta tercurah ke sana, sementara NTT sebagai propinsi tetangganya seperti terabaikan. Andaikan saja dana yang tercurah ke Timor-Timur dahulu dipakai untuk mengembangkan NTT ...
Alat musik petik yang barusan disinggung diatas itu bernama Sasando, dan merupakan alat musik tradisional dari pulau Rote. Bicara soal Rote, tidak lepas dari cerita tentang batas-batas negara ini. Kita tentunya sudah tahu tentang batas barat dan timur negara kita lewat lagu "Dari Sabang sampai Merauke" yang terkenal itu. Tapi, batas utara dan selatannya, justeru dikenal lewat jingle iklan sebuah produk mi instan. Sayangnya, penggambarannya justeru kurang tepat. Batas utara tanah air kita memang ada di Talaud (tepatnya di kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara), tapi batas paling selatan bukanlah di Timor, melainkan di pulau Rote. Itupun tidak mutlak, mengingat selepas pulau Rote masih ada pulau-pulau karang kecil tak berpenghuni. Sebagian milik Indonesia, sebagian diklaim oleh Australia, dan sebagian lagi masih dalam sengketa.
Satu hal yang menarik dari Sasando ini, walaupun merupakan alat musik tradisional, tapi ia cukup luwes juga saat dipakai untuk mengiringi lagu-lagu pop modern. Untuk urusan ini, apabila dimainkan secara solo, instrumen ini boleh ditandingkan dengan harpa. Rahasia keunikan warna suara Sasando mungkin terletak pada "overtone" yang dihasilkan oleh resonansi suara petikan dawai senar dengan bagian pinggirannya yang terbuat dari jalinan daun lontar. Dalam acara-acara resmi, biasanya instrumen ini dimainkan oleh seorang laki-laki berpakaian adat, berupa kemeja putih berlengan panjang dengan sarung dan selempang dari tenunan khas setempat, lengkap dengan topi tradisional yang juga dibuat dari jalinan daun lontar. Topi tradisional yang disebut ti'ilangga ini juga kelihatan unik, karena biarpun sepintas mirip seperti topi koboi, tapi bagian depannya seolah-olah punya "antena".
Sementara itu, danau tiga-warna, Kelimutu, yang tergambar di balik uang kertas itu, berada di pulau Flores. Sebenarnya, warna ketiga danau ini tidak tepat benar sebagaimana terlukis disana. Warna ketiga danau itu selalu berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Konon itu akibat dari perubahan aktifitas vulkanis yang berpengaruh terhadap warna tumbuhan air semacam ganggang yang hidup disana. Saat ini, danau yang pada lembaran mata uang itu dilukiskan berwarna merah, terlihat berwarna kehitaman. Yang digambarkan berwarna hijau, kini lebih condong ke biru muda, sementara yang digambarkan berwarna biru, masih tetap biru, tapi lebih pekat. Saya sendiri kurang yakin, kapan terakhir kalinya (atau apa memang pernah) ketiga danau tersebut membentuk kombinasi warna merah-hijau-biru sebagaimana yang tergambar di lembaran lima-ribuan itu.
Pulau Flores, tempat danau ini berada, juga merupakan pulau yang sangat indah. Pelabuhan lautnya di Ende termasuk salah satu pelabuhan yang paling cantik yang pernah saya singgahi. Paduan panorama laut berpadu dengan barisan pegunungan yang menghijau, dengan kota Ende di latar depan, betul-betul membuat mata terasa sejuk. Bicara soal pelabuhan, nama danau Kelimutu juga diabadikan pada sebuah kapal penumpang milik PELNI yang kini melayari perairan di wilayah Indonesia bagian timur. Sekitar sepuluh tahun silam, saya pernah menumpang kapal itu dalam pelayaran selama tiga hari dua malam di kelas ekonomi. Gara-gara itu, saya terkena serangan typhus akibat jatah makanan yang tidak manusiawi yang disajikan diatas kapal.
Berbeda dengan Rote atau Flores, pulau Timor, dimana kota Kupang--ibukota propinsi NTT--berada, tidak banyak menyimpan hal yang menarik. Kupang adalah kota yang berdiri diatas tanah gersang berbatu karang. NTT sendiri dikenal sebagai salah satu propinsi yang termiskin. Saking miskinnya, sampai-sampai akronim NTT pun dipelesetkan sebagai "Nasib Tidak Tentu". Walaupun memiliki banyak tempat tetirah, seperti pulau Komodo yang terkenal itu, tapi yang banyak menikmati keuntungan dari sana adalah propinsi tetangganya, Nusa Tenggara Barat (NTB). Maklum, pulau Komodo atau Flores malahan lebih mudah dicapai dari pulau Lombok ketimbang dari Kupang. Selain karena jarak tempuh yang lebih dekat, infrastruktur di Lombok juga lebih bagus. Tidak heran, sekarang saja banyak orang yang mengira pulau komodo merupakan bagian dari propinsi NTB.
Nasib propinsi ini makin tidak keruan ketika harus harus berhadapan dengan persoalan pengungsi dari negara tetangga, Timor Leste alias Timor Lorosa'e. Padahal, ketika negara itu masih merupakan bagian dari Indonesia dengan nama Timor-Timur, nyaris seluruh perhatian dari Jakarta tercurah ke sana, sementara NTT sebagai propinsi tetangganya seperti terabaikan. Andaikan saja dana yang tercurah ke Timor-Timur dahulu dipakai untuk mengembangkan NTT ...
