« Home | Kampung Halaman » | Simfoni Nomor 9 » | Kiamat! » | Marie Curie » | Murphy's Law » | Buleleng » | Blaine dan Puasa » | Menyambut Ramadhan » | Dibalik Selembar Lima-Ribuan » | Pembodohan Lewat Iklan »

Setelah Lebaran Berlalu

Hiruk pikuk lebaran sudah seminggu berlalu. Ketupat lebaran mungkin sudah licin tandas, sementara kue lebaran mungkin sudah tinggal remah-remahnya saja. Sebagian dari kita sudah kembali berkutat dengan rutinitas.

Konon sih, secara bahasa, Idul Fitri artinya adalah kembali kepada fitrah. Tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi mereka yang menjalani ibadah puasa secara sungguh-sungguh. Bagi mereka yang berpuasa sekedar untuk menahan haus dan lapar, lebaran boleh jadi hanya berarti Idul futuur (kembali kepada makan siang).

Dari segi maknanya, sebutan "Idul Fitri" memang terasa lebih religius, sedangkan istilah "lebaran" lebih bermakna kultural. Lebaran identik dengan pakaian baru, ketupat, atau mudik. Sementara itu, kembali kepada fitrah, sebagaimana digambarkan dalam istilah Idul Fitri, membawa kita kepada pengertian seolah-olah "bayi yang baru lahir". Suci, bersih tanpa cela dan dosa.

Semoga saja, lebaran kali ini membawa kita kepada "Idul Fitri" yang sesungguhnya, dan bukan sekedar hanya bisa kembali kepada (menikmati) makan siang atau Idul Futuur itu :).