Minat Baca
Bicara soal minat baca masyarakat kita, pendapat orang tentang ini suka terpecah. Ada yang beranggapan memang minim, tapi ada juga yang menuding daya beli yang rendah yang membuat masyarakat kita kelihatan kurang doyan dengan kegiatan membaca. Lantas yang benar kira-kira yang mana ya?
Pertama soal daya beli. Umumnya orang bersedia mengeluarkan uangnya dengan melihat salah satu atau dua faktor: nilai manfaat dan nilai kesenangan. Kenyataannya, kebanyakan orang kita tidak pernah pelit untuk urusan kesenangan. Setiap ada film baru yang bagus, loket di gedung-gedung bioskop akan penuh dengan antrian calon penonton. Hal yang sama kita lihat di mall, toko kaset, atau di restoran fast food. Hampir setiap saat akan selalu ada orang yang bersedia membelanjakan uangnya disana.
Persoalannya sekarang, buku bagi sebagian besar diantara kita masih belum menjanjikan salah satu atau keduanya, baik nilai manfaat maupun kesenangan. Dus, dalam skala prioritas, keluar uang untuk membeli buku akan berada di urutan terendah. Mau bukti? Berapa banyak sih diantara kita yang begitu terima gaji atau -- bagi yang masih bergantung pada orangtua -- mendapat uang saku lantas langsung ngacir ke toko buku? Ceritanya berbeda kalau ada buku yang cukup menarik perhatian (punya nilai kesenangan), atau memang sangat diperlukan (punya nilai kebutuhan), baru deh, kelihatan "daya beli" orang Indonesia di toko buku :).
Persoalan lainnya mungkin juga berkenaan dengan budaya kultural kita. Ada yang berpendapat kalau masyarakat Indonesia itu lebih lekat dengan budaya verbal ketimbang literal. Coba lihat di terminal-terminal kendaraan umum. Walaupun sudah ada papan petunjuk dan rute yang ditempuh juga sudah tercetak di badan kendaraan, toh masih ada juga orang yang kerjanya meneriakkan rute kendaraannya untuk menarik penumpang.
Persepsi umum untuk kegiatan membaca juga tidak selalu positif. Orang yang punya hobi membaca sering diasosiasikan sebagai orang yang introvent, suka menyendiri, atau bahkan asosial. Tidak heran, kaum pecinta buku disini sering diberi sebutan "kutu buku", sebuah panggilan yang sebenarnya lebih bermakna ejekan ketimbang penghargaan.
Umumnya masyarakat kita suka bacaan yang ringan, macam novel atau fiksi. Untuk jenis non-fiksi, akhir-akhir ini ada trend peningkatan minat untuk bacaan sastra seperti karangan Kahlil Gibran, atau kumpulan kisah-kisah inspiratif seperti serial "Chicken Soup". Untuk buku-buku praktis, orang kita umumnya lebih suka buku yang sifatnya "how-to" ketimbang yang mengupas suatu hal secara mendalam.
So, bagaimana dengan buku macam Harry Potter, misalnya? Orang Indonesia baru mulai "kenal" Harry potter pada sekitar saat buku keempat diluncurkan, jadi ada "lag" yang cukup besar dari di negara asalnya. So, tidak bisa dikatakan kalau orang-orang yang mengantre untuk membeli terjemahan Indonesia dari novel JK Rowling ini adalah betul-betul penggemar sejati yang sudah mengikuti sejak awal. Ada kemungkinan "demam" Harry Potter di Indonesia, selain memang terkait dengan masalah selera, juga melibatkan persoalan gaya hidup dan bahkan tuntutan pergaulan.
Pertama soal daya beli. Umumnya orang bersedia mengeluarkan uangnya dengan melihat salah satu atau dua faktor: nilai manfaat dan nilai kesenangan. Kenyataannya, kebanyakan orang kita tidak pernah pelit untuk urusan kesenangan. Setiap ada film baru yang bagus, loket di gedung-gedung bioskop akan penuh dengan antrian calon penonton. Hal yang sama kita lihat di mall, toko kaset, atau di restoran fast food. Hampir setiap saat akan selalu ada orang yang bersedia membelanjakan uangnya disana.
Persoalannya sekarang, buku bagi sebagian besar diantara kita masih belum menjanjikan salah satu atau keduanya, baik nilai manfaat maupun kesenangan. Dus, dalam skala prioritas, keluar uang untuk membeli buku akan berada di urutan terendah. Mau bukti? Berapa banyak sih diantara kita yang begitu terima gaji atau -- bagi yang masih bergantung pada orangtua -- mendapat uang saku lantas langsung ngacir ke toko buku? Ceritanya berbeda kalau ada buku yang cukup menarik perhatian (punya nilai kesenangan), atau memang sangat diperlukan (punya nilai kebutuhan), baru deh, kelihatan "daya beli" orang Indonesia di toko buku :).
Persoalan lainnya mungkin juga berkenaan dengan budaya kultural kita. Ada yang berpendapat kalau masyarakat Indonesia itu lebih lekat dengan budaya verbal ketimbang literal. Coba lihat di terminal-terminal kendaraan umum. Walaupun sudah ada papan petunjuk dan rute yang ditempuh juga sudah tercetak di badan kendaraan, toh masih ada juga orang yang kerjanya meneriakkan rute kendaraannya untuk menarik penumpang.
Persepsi umum untuk kegiatan membaca juga tidak selalu positif. Orang yang punya hobi membaca sering diasosiasikan sebagai orang yang introvent, suka menyendiri, atau bahkan asosial. Tidak heran, kaum pecinta buku disini sering diberi sebutan "kutu buku", sebuah panggilan yang sebenarnya lebih bermakna ejekan ketimbang penghargaan.
Umumnya masyarakat kita suka bacaan yang ringan, macam novel atau fiksi. Untuk jenis non-fiksi, akhir-akhir ini ada trend peningkatan minat untuk bacaan sastra seperti karangan Kahlil Gibran, atau kumpulan kisah-kisah inspiratif seperti serial "Chicken Soup". Untuk buku-buku praktis, orang kita umumnya lebih suka buku yang sifatnya "how-to" ketimbang yang mengupas suatu hal secara mendalam.
So, bagaimana dengan buku macam Harry Potter, misalnya? Orang Indonesia baru mulai "kenal" Harry potter pada sekitar saat buku keempat diluncurkan, jadi ada "lag" yang cukup besar dari di negara asalnya. So, tidak bisa dikatakan kalau orang-orang yang mengantre untuk membeli terjemahan Indonesia dari novel JK Rowling ini adalah betul-betul penggemar sejati yang sudah mengikuti sejak awal. Ada kemungkinan "demam" Harry Potter di Indonesia, selain memang terkait dengan masalah selera, juga melibatkan persoalan gaya hidup dan bahkan tuntutan pergaulan.
