Tintin
Komik Tintin genap berusia 75 tahun. Di Belgia, negara asal dari komik karangan Herge ini, ulang tahunnya diperingati dengan menerbitkan koin Euro edisi kolektor yang memuat gambar tokoh Tintin dengan anjingnya, Snowy. Maklum, di negara itu, Tintin sudah dianggap sebagai simbol nasional.
Komik yang mengisahkan petualangan Tintin -- yang digambarkan sebagai wartawan, namun tidak pernah diceritakan menulis berita tapi selalu menjadi berita itu -- dengan tokoh-tokoh pendamping semacam Captain Haddock, pelaut yang cepat naik darah, profesor Calculus yang tuli dan linglung, serta pasangan detektif Thomson dan Thompson yang konyol itu termasuk komik yang populer di seluruh dunia. Tidak kurang dari 200 juta kopi, dengan versi terjemahan meliputi 35 bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia telah terjual selama ini.
Namun demikian, popularitas Tintin di Indonesia terhitung biasa-biasa saja. Komik ini memang punya penggemar, tapi jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan Asterix, misalnya. Kenapa demikian?
Orang Indonesia sebenarnya bukannya tidak punya minat baca. Persoalannya, mereka cuma suka bacaan-yang ringan-ringan. Karena itu, komik, sebagai jenis bacaan yang paling ringan jelas merupakan favorit penduduk negara ini. Sayangnya, sudah cuma suka jenis bacaan yang ringan, orang Indonesia juga lebih memilih untuk mengikuti cerita-cerita yang "seringan kapas" pula. Karena itu, jangan heran kalau komik ataupun cerita fiksi yang mengedepankan tokoh yang cerdas seringkali tidak mendapat tempat bagi khalayak pembaca di negeri ini. Karena alasan yang sama pula, disini Donal Bebek yang pemarah dan selalu sial itu lebih dikenal ketimbang Miki Tikus yang cerdik (berkebalikan dengan di negara asalnya). Begitu pula kenapa tokoh komik yang konyol semacam Shinchan atau Doraemon jauh lebih populer ketimbang tokoh macam Detective Conan.
Tokoh semacam Tintin, di Indonesia dipandang terlalu cerdas sehingga tidak terlalu menarik bagi pecinta komik di Indonesia yang umumnya menyukai tokoh-tokoh yang lucu dan konyol walaupun dengan intelegensi rendah. Kisah-kisah di komik Tintin juga dianggap terlalu ruwet untuk ukuran komik. Orang kita ternyata lebih suka alur cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Apakah ini memang cerminan mental bangsa ini?
Komik yang mengisahkan petualangan Tintin -- yang digambarkan sebagai wartawan, namun tidak pernah diceritakan menulis berita tapi selalu menjadi berita itu -- dengan tokoh-tokoh pendamping semacam Captain Haddock, pelaut yang cepat naik darah, profesor Calculus yang tuli dan linglung, serta pasangan detektif Thomson dan Thompson yang konyol itu termasuk komik yang populer di seluruh dunia. Tidak kurang dari 200 juta kopi, dengan versi terjemahan meliputi 35 bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia telah terjual selama ini.
Namun demikian, popularitas Tintin di Indonesia terhitung biasa-biasa saja. Komik ini memang punya penggemar, tapi jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan Asterix, misalnya. Kenapa demikian?
Orang Indonesia sebenarnya bukannya tidak punya minat baca. Persoalannya, mereka cuma suka bacaan-yang ringan-ringan. Karena itu, komik, sebagai jenis bacaan yang paling ringan jelas merupakan favorit penduduk negara ini. Sayangnya, sudah cuma suka jenis bacaan yang ringan, orang Indonesia juga lebih memilih untuk mengikuti cerita-cerita yang "seringan kapas" pula. Karena itu, jangan heran kalau komik ataupun cerita fiksi yang mengedepankan tokoh yang cerdas seringkali tidak mendapat tempat bagi khalayak pembaca di negeri ini. Karena alasan yang sama pula, disini Donal Bebek yang pemarah dan selalu sial itu lebih dikenal ketimbang Miki Tikus yang cerdik (berkebalikan dengan di negara asalnya). Begitu pula kenapa tokoh komik yang konyol semacam Shinchan atau Doraemon jauh lebih populer ketimbang tokoh macam Detective Conan.
Tokoh semacam Tintin, di Indonesia dipandang terlalu cerdas sehingga tidak terlalu menarik bagi pecinta komik di Indonesia yang umumnya menyukai tokoh-tokoh yang lucu dan konyol walaupun dengan intelegensi rendah. Kisah-kisah di komik Tintin juga dianggap terlalu ruwet untuk ukuran komik. Orang kita ternyata lebih suka alur cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Apakah ini memang cerminan mental bangsa ini?
