« Home | Nobel Fisika untuk Indonesia? » | Cerita Dibalik Nobel » | Kisah Pil Setan » | Hitung Cepat Cara Fermi » | All About MLM » | Manfaatkan Hari Ini » | Twilite dan Wagner » | "Peta Lidah" yang Keliru » | "Bunda" di Republika » | Agenda si "Gila" »

Crossover

Malam itu, sebuah stasiun radio swasta sedang menyiarkan sebuah acara musik klasik. Iseng-iseng, saya pun menelepon studio radio bersangkutan untuk me-request sebuah komposisi. Tidak menunggu lama, komposisi Canon karya Pachelbel yang saya minta pun mengudara. Namun yang membuat saya terkaget-kaget, setelah komposisi itu berakhir, si penyiar, entah dengan maksud apa, malahan memutarkan Lulaby, sebuah komposisi milik Bond, satu kelompok kwartet gesek wanita, yang memuat beberapa bar dari Canon, dengan dilatari oleh musik techno!

Terus terang saya merasa terganggu mendengar komposisi semacam ini muncul di acara musik klasik. Lulaby-nya Bond (jangan dikelirukan dengan Lulaby-nya Brahms -- semacam lagu 'Nina Bobo' yang di Indonesia malah diadaptasi sebagai lagu Natal itu) sama sekali bukan dari genre musik klasik. Komposisi ini sebenarnya lebih cocok untuk digologkan sebagai musik Crossover, yakini "perkawinan" antara musik klasik dengan modern, atau dengan bahasa yang lebih lugas: Musik klasik yang dimainkan dengan gaya kontemporer.

Munculnya musisi-musisi yang mengusung aliran Crossover memang mengundang pro dan kontra dari kalangan yang mengaku pecinta musik klasik serius. Satu pihak beranggapan bahwa aliran crossover dapat membantu memperkenalkan komposisi klasik pada anak-anak muda, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan apresiasi mereka pada musik klasik. Sebaliknya, mereka yang negatif punya pandangan bahwa Crossover cenderung merusak karya-karya klasik yang sudah berabad-abad dimainkan dengan 'pakem' yang standar dan baku.

Kadang-kadang proses adaptasi karya klasik menjadi musik Crossover memang terasa agak kelewatan. Yang bagi saya 'mengerikan' misalnya ketika Ode to Joy dari Simfoni nomor 9 Beethoven yang terkenal itu diadaptasi ke dalam versi hip-hop. Saya yakin kalau Beethoven bisa bangkit dari kuburnya, dia pasti akan shock mendengarkan karyanya 'dinyanyikan' dengan begitu rupa!

Yang masih mendingan misalnya yang dilakukan oleh Maksim, pianis asal Kroasia yang beberapa waktu lalu sempat berpentas di Jakarta. Walaupun dia meng-crossover beberapa karya musik piano klasik, mulai Rimsky-Korsakov, Frederick Chopin, Paganini, Grieg, hingga Handell, tapi ia tetap bermain sesuai partitur asli. Hanya saja musik latarnya yang dibuat kontemporer dengan memasukkan beberapa jenis instrumen modern, alih-alih berupa orkestra lengkap seperti pada versi klasiknya.

Walaupun sering merasa risih mendengar beberapa karya klasik yang bagus-bagus malahan 'digubah sampai rusak' oleh Vanessa Mae atau Bond, saya sebenarnya tidak apriori terhadap musik Crossover. Saya menganggap itu merupakan bagian dari kebebasan kreatif yang wajar-wajar saja dalam dunia seni. Tapi mbok kalau acaranya tentang musik klasik, ya jangan disisipi Crossover dong! Bagaimanapun juga keduanya adalah genre musik yang berbeda. Jangan dicampur aduk begitu!