Nobel Fisika untuk Indonesia?
Bagaimana peluang ilmuwan Indonesia untuk meraih hadiah Nobel? Ini pernah jadi topik hangat di Milis Sains Populer yang saya kelola. Ceritanya dipicu oleh pernyataan Prof. Yohanes Surya di beberapa Media bahwa tahun 2020, ilmuwan Indonesia akan bisa meraih hadiah Nobel Fisika. Kita tahu, Prof. Yohanes adalah "dedengkot" TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang telah sukses mengantarkan sejumlah siswa Indonesia memenangkan medali emas dalam even bergengsi Olimpiade Fisika Internasional.
Beberapa fisikawan kita beranggapan bahwa pernyatan tersebut overclaimed karena memperoleh hadiah Nobel itu bukan hal yang gampang. Perlu lebih dari sekedar kepintaran, karena sang ilmuwan juga harus bisa menemukan sesuatu yang bukan cuma baru, tapi juga punya manfaat yang signifikan bagi kepentingan ilmu pengetahuan maupun kemanusiaan.
Dengan kata lain, di luar faktor-faktor seperti kecerdasan, ketekunan, dukungan fasilitas, dll, faktor-faktor seperti "inspirasi","luck", dsb, dalam menemukan sebuah ide adalah sangat menentukan. Tapi sayangnya, datangnya "inspirasi" bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Inilah alasan mengapa seorang peraih Nobel fisika pada umumnya tidak pernah bisa meraih Nobel lebih dari satu kali, walaupun berpuluh-puluh publikasi baru telah mampu ia hasilkan semenjak publikasi yang menghasilkan Nobel itu. Karena "inspirasi" yang menghasilkan "ide paling cemerlang" nya itu hanya datang satu kali dalam hidupnya.
Sebaliknya, pihak yang optimis -- diwakili oleh seorang pembina TOFI -- menyatakan hal itu mungkin saja. Alasannya, para alumni TOFI kini telah banyak bertebaran di universitas-universitas papan atas dibawah bimbingan dari para Nobelis. Bekerja pada peraih hadiah nobel bukan hanya berarti menyerap ilmu mereka, melainkan juga filosofi, cara kerja, dan cara berpikir mereka. Dari sinilah diharapkan ilmuwan kita bisa mengaplikasikan pada penelitian yang mudah-mudahan kelak bisa membuahkan Nobel.
Secara teori kemungkinan bahwa fisikawan Indonesia bakalan menyabet hadiah Nobel masih dalam margin yang "mungkin" walaupun masih improbable setidaknya not truly impossible. Perlu dingat bahwa tahun 2020 itu masih lama dan perkembangan sains dewasa inipun semakin cepat. Sekarangpun ada Nelson Tansu yang umur 25 tahun sudah menjadi Profesor di Elektro Lehigh University USA. Terungkap juga bahwa tahun ini Widagdo, Peter Sahanggamu dan Rezy Pradipta (semuanya alumnus TOFI yang pernah meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika) mewakili MIT memenangkan BUPS (Boston Universities Physics Competition) sehingga merupakan kebaggaan MIT (bukan kebanggaan Indonesia) dan membuat nama Indonesia harum sekali di kota itu. Mereka semua masih S1 tapi sudah berada di bawah bimbingan Nobel prizewinner dan fisikawan utama dunia lainnya.
Memang marginnya rapat tapi mereka ini semangatnya sudah sangat terpacu. Bagi para pembimbung TOFI, ini sudah cukup alasan untuk menetapkan target tersebut. Yang jadi soal sebetulnya lebih kepada dukungan pemerintah yang minim dan juga sedikitnya perhatian dari masyarakat (orang kita lebih mengenal AFI ketimbang TOFI).
Diskusinya sendiri berlangsung cukup menarik dengan debat yang rada seru sehingga Prof. Yohanes sendiri terpaksa "turun tangan" dengan menyajikan sederet daftar pemenang nobel Fisika sejak 1960. Kelihatan dari sana kalau sebagian besar penerima nobel adalah mereka yang belajar dari ilmuwan yang pernah menerima Nobel sebelumnya. Walaupun kedua kubu akhirnya mengambil sikap "sepakat untuk tidak sepakat" dalam soal ini (toh kita tinggal menunggu tahun 2020 untuk membuktikannya), tapi ada satu hal menarik yang diungkapkan oleh tim pembina TOFI yang saya rasa perlu untuk di-share disini:
"...Hanya kami nggak bisa bilang: sudahlah nak kamu kerja aja nggak usah ngarapin Nobel segala, yang penting kamu sudah berusaha. Kalau itu sih jutaan manusia Indonesia sudah mengucapkannya dengan hasil yang begini-begini aja, tak perlu kami ulang bagi anak-anak cerdas ini. Sekalipun purely keberuntungan banyak saya lihat etos kerja orang Barat, Yahudi dan Cina itu (fisikawannya setidaknya) sangat mengharapkan Nobel Prize yang sangat memotivasi kinerja mereka. Ini yang perlu kita tiru. Maka kami bilang: Nak kamu mesti kerja keras. Nak kamu pandai dan bisa dapet Nobel. Nak Kamu harus jadi pemenang Nobel. Itu akan mengangkat nama bangsamu Nak ..."

orang indonesia gak bakalan bisa menyabet nobel klo hanya pikirannya UANG....DUIT......kapan mau maju indonesia klo hanya di urusin masalah korupsi ..tapi masalah pendidikan hanya cuap-cuap mulut saja .........................
salam dari ....kami..:P
Posted by
Unknown |
6:04 PM