« Home | "Peta Lidah" yang Keliru » | "Bunda" di Republika » | Agenda si "Gila" » | Non Book Book » | Milis Baru: Sains Populer » | Ada Apa dengan Einstein? » | Teluk Jakarta » | Dunia dalam Berita » | Oge » | Prangko »

Twilite dan Wagner

Hah! Twilite Orchestra menampilkan Wagner? Nggak salah nih? Rupanya bukan saya saja yang kaget. Wartawan yang meliput untuk harian Kompas juga menulisnya seolah-olah itu suatu hal yang tidak biasanya. Mungkin Addie MS, konduktor Twilite, sudah bosan mendengar komentar minor soal penampilan kelompoknya yang dituding lebih suka menampilkan musik pop dengan gaya klasik ketimbang musik klasik yang sesungguhnya.

Bisa jadi, gara-gara itu juga karya Wagner dipasang sebagai nomor pembuka sekaligus penutup dari pertunjukan di Balai Sarbini, Jakarta, 19 Juli lalu. Tapi rupanya Addie tidak cukup Pe-De untuk menampilkan komposisi Wagner yang berat-berat. Nomor Prelude dari Die Meistersinger von Nurnberg dan Mars dari Tannhauser bisa jadi merupakan pilihan yang cukup moderat.

Saya sendiri terus terang tidak tahu banyak soal Wagner dan musiknya. Untuk itu, sohib berikut sepertinya bisa jadi alamat yang tepat untuk bertanya ;). Memang sih, ada waktunya musik Wagner mengalun di ruang kerja saya, terutama kalau lagi suntuk. Tapi pilihan biasanya jatuh ke komposisi yang relatif ringan, dan kebetulan dua komposisi yang ditampilkan Twilite kali ini termasuk diantara nomor favorit saya. Rentetan suara terompet diiringi orkestra di permulaan, dengan sedikit sesi string yang lembut di pertengahan, dan dilanjut dengan irama yang sedikit 'menghentak' di bagian akhir, pada Mars dari Tannhauser terkadang cukup membantu untuk melepas stress. Cuma, kalau MP3-nya saya putar di komputer kantor, bisa membuat saya kelihatan seperti alien :(.

Denger-denger konser ini bakal dilanjut ke Surabaya. Boleh dimasukin di agenda nih. Moga-moga beberapa minggu kedepan saya masih diijinkan menghirup udara Surabaya. Sebetulnya saya pernah menyaksikan konser Twilite, tapi dalam suasana yang agak kurang mengenakkan, tepatnya pada acara "Bali Memorial Concert", untuk menghormati korban pemboman Bali 2002. Menyaksikan Twilite mengiringi "Amazing Grace" bersama choir dari mahasiswa Univ. Udayana, dan "Kulihat Ibu Pertiwi" yang dibawakan Sherina sambil menahan tangis (untung dia masih mampu menguasai diri!), rasanya memang bukan tontonan untuk hiburan. :(