Pelangi Feynman
Feynman* was gazing at a rainbow as if he had never seen one before. Or maybe as if it might be his last. I approached him cautiously and joined him in staring at the rainbow. It wasn't something I normally did -in those days. "Do you know who first explained the true origin of the rainbow?" I asked.
"It was Descartes," he said. After a moment he looked me in the eye.
"And what do you think was the salient feature of the rainbow that inspired Descartes's mathematical analysis?" he asked.
"I give up. What would you say inspired his theory?"
"I would say his inspiration was that he thought rainbows were beautiful . . ."
- From "FEYNMAN'S RAINBOW, A Search for Beauty in Physics and in Life", by Leonard Mlodinow.
Pada dasarnya, para ilmuwan meyakini bahwa alam (nature) itu indah, memiliki pola dan arah sehingga dapat dipelajari. Namun demikian, nature tidak bisa begitu saja dipelajari dengan mudah, karena sifatnya yang begitu kompleks. Lantas kita memerlukan sebuah "bahasa" tersendiri untuk melukiskan kompleksitas tersebut. Kita sebut "bahasa" itu sebagai matematika.
Di buku fisika Tipler (dua jilid buku fisika yang masing-masing tebalnya sebantal itu), pelangi mendapat tempat tersendiri untuk dibahas secara rinci -- sampai-sampai menyentuh ke soal pelangi inframerah segala. Tentu penjelasannya tidak sesederhana cerita di buku IPA waktu kita masih SD dulu, bahwa pelangi muncul akibat sinar matahari yang menembus titik-titik air di angkasa, lantas terurai menjadi spektrum "mejikuhibiniu" itu.
Ketika kita menyaksikan kemunculan pelangi, kita dapat menggunakan konsep fisika untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tidak demikian untuk menjelaskan bagaimana terjadinya. Dibalik keindahan pelangi, ada segudang konsep fisika yang hanya dapat dijelaskan dengan "bahasa" matematika. Disana ada serangkaian teori dan aplikasi tentang cahaya dan optik yang mesti dituangkan melalui serangkaian formula matematis.
Tidak semua fenomena alam bisa dijelaskan dengan bahasa yang terdiri dari serangkaian kata dan kalimat. Kita mungkin bisa menjelaskan bagaimana pelangi terbentuk dengan bahasa sehari-hari yang sederhana, tetapi ketika kita harus menjelaskan, misalnya sudut kritis antara matahari, titik-titik air dan garis pandang pengamat dimana pelangi mungkin terlihat, rasanya akan lebih mudah apabila yang digunakan adalah bahasa matematis.
Tentu saja, bagi mereka yang suka, formula itu terlihat begitu "cantik" dan "seksi". Mereka beranggapan demikian, karena bagi mereka, persamaan matematika memang bisa membuat otaknya "terangsang". Tapi bagi yang tidak suka, mungkin itik buruk rupa akan terlihat lebih "jelita" ketimbang angka.
Kita mungkin hanya bisa mereka-reka apa yang ada di benak Feynman ketika ia menatap pelangi dengan sedemikian terpesona. Apa yang ia rasakan mungkin sama dengan pesona yang muncul di benak Descartes ketika untuk pertama kalinya ia membuat analisa matematis tentang terbentuknya pelangi. Bagi ilmuwan semacam Feynman dan Descartes, fisika adalah sebuah puisi, matematika adalah bahasanya, sementara alam (nature) adalah sumber inspirasi.
Hmmm ... rasanya tidak salah kalau saya menamai blog ini dengan "Bianglala".
*) Richard P. Feynman (1918-1988), fisikawan Amerika Serikat yang pernah meraih nobel fisika untuk teori Elektrodinamika Kuantum (Quantum Electrodynamics, QED) yang menjelaskan tentang interaksi antara cahaya dengan atom dan elektron-elektronnya. Ia juga dikenal sebagai penulis buku-buku fisika, mulai dari "The Feynman Lectures on Physics" yang kelak menjadi buku teks standar untuk mahasiswa S1, hingga buku fisika populer semacam "Surely You're Joking Mr. Feynman" (terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan judul "Cerdas dan Jenaka cara Nobelis Fisika").
