Sherina oh Sherina
Tidak biasanya lagu yang dilantunkan Sherina, si mantan penyanyi cilik bersuara bening itu justeru membuat telinga saya terasa "panas". Bukannya lagu cinta sih (well, I hate love songs!), tapi lagu "Indonesia Menangis" yang dulu sering ditayangkan di Metro TV disela-sela liputan bencana Aceh itu. Beberapa bagian lagu itu, terutama pada bait yang berbunyi "sungguh deras curah murkaMu", betul-betul terasa "menusuk" telinga saya. Rasanya saya sudah berkali-kali menulis disini kalau saya paling tidak suka kalau bencana Aceh dikaitkan dengan hal-hal semacam "murka Tuhan", or something like that. Bagi saya, ini mirip dengan pemahaman seperti yang dianut para ekstrimis di Sabili itu. Eh, rupanya banyak juga yang sependapat dengan saya. Keberatan lantas diajukan, dan ... lirik yang "ngaco" tersebut akhirnya resmi direvisi. Horeee! :).
Yeah, Sherina mungkin termasuk selebriti yang paling "sering" saya singgung namanya di blog-blog saya (padahal saya hitung kata "Sherina" di blog Refleksi dan Bianglala, ternyata cuma sebanyak jari sebelah tangan, dan diantara semuanya tidak ada yang secara langsung berkaitan dengan dia). Sejak muncul sebagai penyanyi cilik pada 1999, dia memang dikenal sebagai penyanyi yang "tampil beda". Saat dunia lagu anak-anak dipenuhi oleh nyanyian konyol dan norak, dia muncul dengan lagu-lagu yang digarap dengan serius, malahan lebih serius dari lagu dewasa cenderung yang begitu-begitu saja. Saat orkestra masih dianggap musik yang berat, lagu-lagunya justeru dikemas dalam aransemen orkestra. Jadi, maklum saja, selain ada yang suka, yang benci juga bejibun. Bagi yang suka, dia itu contoh yang baik, bagi yang tidak suka, kemunculannya merusak tatanan :). Jadi, mulai deh dia jadi sasaran kerjahilan banyak orang, termasuk juga di internet. Tentang yang satu ini, kita punya banyak cerita. Kadang-kadang lucu, kadang-kadang ajaib.
Beberapa saat setelah melepas album pertamanya, sebuah ISP, menawarkan untuk membuatkan website pribadi untuk dia. Nggak pakai domain sendiri sih, cuma nebeng di site utama ISP itu. So far so good, sampai kemudian ISP itu seperti lepas tanggung jawab. Website tidak pernah diupdate, dan yang lebih gawat, entri-entri di guestbooknya mulai tidak terkendali. Kalau cuma orang iseng tidak apalah. Yang jadi pesoalan, mulai banyak entri yang kelihatan "menjurus" (you know what I mean). Karena khawatir, saya coba kirim email ke ayahnya, sekaligus menawarkan diri sebagai volunteer untuk menjaga website tersebut. Motivasinya sih semata-mata prihatin, tidak lebih. Soalnya saya ingat, problem serupa pernah dialami oleh sebuah website yang saya kelola, dan bahkan ceritanya lebih gawat lagi karena ada yang nekat mem-paste "cerita dewasa" ke guestbook Untungnya webmaster yang menjaga cukup sigap sehingga entri celaka itu bisa dihapus sebelum dibaca banyak orang. Kebayang nggak kalau cerita macam begitu di-post ke website yang pengunjungnya kebanyakan anak-anak? (ngebayangin aja saya sampai merinding).
Email jawaban yang saya terima betul-betul membuat saya tercenung di depan layar monitor. Ternyata pihak-pihak yang berkaitan dengan Sherina sendiri tidak punya akses apa-apa ke website tersebut. Setelah melihat gelagat yang kurang baik itu, ayahnya telah berkali-kali meng-email ISP itu, tapi sama sekali tidak digubris. Bahkan sampai dimintakan supaya site tersebut ditutup saja, tapi tetap tidak ada respon. Hebat betul ISP yang satu ini! Belakangan, setelah ayahnya mengirim snail-mail ke ISP itu, barulah website itu ditutup (Hah, menghubungi ISP harus lewat surat konvensional?!). Sekarang dia punya website "resmi" di sherinaonline.com, tapi sepertinya hampir nggak pernah diupdate. Maklum yang ngelola kayaknya juga volunteer :).
Masalah dengan internet tidak hanya soal website. Emailnya juga pernah dijahili orang. Alamat email resmi dia (yang tercantum pada sampul kaset pada album pertamanya) pernah dicoba dibobol. Alamat itu adalah mail forwarder berbayar, diteruskan ke account ayahnya. Ketika ada yang mencoba mengambil-alih, walaupun gagal, penyedia layanan itu lantas memberikan warning ke pemilik account. Pernah dia buka account sendiri di Yahoo. Semula baik-baik saja, sampai ada orang iseng yang berhasil membobol dan kemudian menyalah-gunakan accountnya itu. Selidik punya selidik, rupanya si kecil itu masih terlalu lugu untuk urusan password. Kalau kita buka account di Yahoo, kita kan dikasih pertanyaan rahasia yang sifatnya personal. Gunanya untuk memanggil password seaindainya kita kelupaan. Sayangnya, sebagai figur publik, bisa jadi ada ribuan orang yang hafal dengan biodatanya. Walhasil jebol deh :(. Habis itu, dia cuma nebeng account ayahnya, sampai kemudian muncul lagi dengan alamat email baru di Yahoo juga. Tapi nggak lama kemudian menghilang lagi sebelum lagi-lagi muncul dengan account ayahnya. Ternyata passwordnya kelupaan. Weleh!
O, iya. Dia punya milis juga di Yahoogroups (milisnya dikelola orang lain, tapi ayahnya sering posting, sementara Sherinanya sendiri malahan jarang muncul). Saya cuma sekali-sekali menjenguk milisnya via web, jadi nggak bisa cerita banyak. Tapi sepintas saya lihat profil anggotanya, ternyata lebih ajaib dari milis manapun. Bayangkan, anggotanya berkisar dari anak-anak yang belum lulus SD sampai bapak-bapak yang sudah menyandang gelar MSc.
Lepas dari persoalan internet, keseharian dia sebagai artis menurut saya cukup layak dijadikan contoh untuk artis lain. Tidak seperti sejawatnya (baik cilik maupun dewasa) yang dengan semangat aji mumpung terus menerima order untuk tampil dimana-mana, manajemen Sherina (dalam hal ini ortunya sendiri) termasuk ketat dalam memenuhi undangan manggung. Di masa puncak popularitasnya, dia malahan cuma diijinkan naik panggung sebulan sekali. Itupun hanya di acara-acara tertentu. Lantas muncul isu, dia dikomersilkan dengan mematok tarif kelewat tinggi. Lucu :), soalnya untuk kepentingan pendidikan, manajemennya tidak keberatan untuk tampil prodeo, alias gratis. Biaya untuk mengundang dia jadi mahal dia harus menyanyi dengan iringan orkestra. Ongkos mengundang itu sudah termasuk untuk membiayai pemain orkestra yang jumlahnya disyaratkan minimal 15 orang. Bandingkan dengan penyanyi lain yang tidak keberatan tampil walaupun cuma diiringi organ tunggal.
Kebanyakan penyanyi melakukan rekaman dengan diongkosi oleh produser. Setelah rekaman selesai dan albumnya beredar, maka mulailah si penyanyi jadi sapi perahan sang produser. Dia harus manggung kesana-kemari, juga meneruskan rekaman untuk memenuhi target sekian album yang tercantum dalam kontrak. Hal serupa tidak terjadi pada penyanyi kita ini. Seluruh proses rekaman dilakukan atas biaya sendiri, dan sampai saat ini dia masih independen, tidak bernaung dibawah label tertentu. Praktis dia tidak didikte oleh siapa-siapa. Bagusnya lagi, ortunya juga berkomitmen untuk tidak menjadikan anaknya sebagai "tambang emas". Mereka melihat anaknya punya bakat, dan bakat itu perlu disalurkan. Itu saja.
Biarpun pernah membintangi film yang cukup sukses tapi tawaran bermain sinetron selalu ditolak dengan KERAS. Pernah ada infotainment yang mewawancarai dia: "Koq nggak mau main sinetron?". Jawabannya tegas, lugas, dan tanpa basa-basi: "Main sineton itu buang-buang waktu!". Bagus juga, jadi dia tidak termakan oleh jerat yang dipasang oleh si "raja sinetron" itu (Namanya nggak berani saya sebut disini. Dia itu punya sepasukan tim pengacara khusus untuk membela kepentingannya lho!). Seorang (mantan) artis cilik seangkatan Sherina yang terjebak dalam dunia sinetron, barusan berakhir di pengadilan dengan buntut sanksi denda ratusan juta rupiah.
Tapi gara-gara omongannya yang suka kelewat ceplas-ceplos itu, tudingan semacam sombong dan sebagainya sering dialamatkan ke dia. Saya pikir tuduhan macam itu tidak terlalu salah, hanya saja perlu dilihat latar belakangnya. Dengan IQ 149, dia seperti punya pola pikir yang agak beda dengan anak seusianya. Wajar aja kalau ada orang yang mengajak bicara dengan asumsi dia masih anak-anak, akan terkaget-kaget. Apalagi dia itu tipe "chatterbox", dan dulu rada hiperaktif (nggak tahu sekarang). Saya saja, yang IQ-nya tidak setinggi itu (walaupun dalam skala tertentu masih tergolong "lumayan", hehehe), konon waktu kecil juga sering dianggap nyebelin (jangan-jangan sampai sekarang juga masih). So, ati-ati aja kalo dia udah mulai buka mulut. Tantowi Yahya aja kelabakan ;).
Karena sekarang bukan penyanyi cilik lagi, kemungkinan besar di albumnya yang berikut dia akan ditampilkan sebagai penyanyi remaja. Tapi soal materi lagu, kelihatannya masih ada tarik ulur. Maunya banyak pihak (termasuk juga saya sih), sebaiknya dia jangan nyanyiin lagu bertema cinta. Tapi pertimbangan "selera pasar" mungkin mengharuskan dia menyanyikan lagu dengan tema yang sangat-sangat-sangat saya benci itu *sigh*. Rencananya album barunya akan dilepas akhir tahun ini atau paling telat awal tahun depan. Elfa mungkin tidak lagi terlalu banyak terlibat. Sebaliknya Fariz RM, penyanyi kawakan yang notabene adalah pamannya sendiri akan lebih banyak berperan. Jadi, kita lihat sajalah ...
Yeah, Sherina mungkin termasuk selebriti yang paling "sering" saya singgung namanya di blog-blog saya (padahal saya hitung kata "Sherina" di blog Refleksi dan Bianglala, ternyata cuma sebanyak jari sebelah tangan, dan diantara semuanya tidak ada yang secara langsung berkaitan dengan dia). Sejak muncul sebagai penyanyi cilik pada 1999, dia memang dikenal sebagai penyanyi yang "tampil beda". Saat dunia lagu anak-anak dipenuhi oleh nyanyian konyol dan norak, dia muncul dengan lagu-lagu yang digarap dengan serius, malahan lebih serius dari lagu dewasa cenderung yang begitu-begitu saja. Saat orkestra masih dianggap musik yang berat, lagu-lagunya justeru dikemas dalam aransemen orkestra. Jadi, maklum saja, selain ada yang suka, yang benci juga bejibun. Bagi yang suka, dia itu contoh yang baik, bagi yang tidak suka, kemunculannya merusak tatanan :). Jadi, mulai deh dia jadi sasaran kerjahilan banyak orang, termasuk juga di internet. Tentang yang satu ini, kita punya banyak cerita. Kadang-kadang lucu, kadang-kadang ajaib.
Beberapa saat setelah melepas album pertamanya, sebuah ISP, menawarkan untuk membuatkan website pribadi untuk dia. Nggak pakai domain sendiri sih, cuma nebeng di site utama ISP itu. So far so good, sampai kemudian ISP itu seperti lepas tanggung jawab. Website tidak pernah diupdate, dan yang lebih gawat, entri-entri di guestbooknya mulai tidak terkendali. Kalau cuma orang iseng tidak apalah. Yang jadi pesoalan, mulai banyak entri yang kelihatan "menjurus" (you know what I mean). Karena khawatir, saya coba kirim email ke ayahnya, sekaligus menawarkan diri sebagai volunteer untuk menjaga website tersebut. Motivasinya sih semata-mata prihatin, tidak lebih. Soalnya saya ingat, problem serupa pernah dialami oleh sebuah website yang saya kelola, dan bahkan ceritanya lebih gawat lagi karena ada yang nekat mem-paste "cerita dewasa" ke guestbook Untungnya webmaster yang menjaga cukup sigap sehingga entri celaka itu bisa dihapus sebelum dibaca banyak orang. Kebayang nggak kalau cerita macam begitu di-post ke website yang pengunjungnya kebanyakan anak-anak? (ngebayangin aja saya sampai merinding).
Email jawaban yang saya terima betul-betul membuat saya tercenung di depan layar monitor. Ternyata pihak-pihak yang berkaitan dengan Sherina sendiri tidak punya akses apa-apa ke website tersebut. Setelah melihat gelagat yang kurang baik itu, ayahnya telah berkali-kali meng-email ISP itu, tapi sama sekali tidak digubris. Bahkan sampai dimintakan supaya site tersebut ditutup saja, tapi tetap tidak ada respon. Hebat betul ISP yang satu ini! Belakangan, setelah ayahnya mengirim snail-mail ke ISP itu, barulah website itu ditutup (Hah, menghubungi ISP harus lewat surat konvensional?!). Sekarang dia punya website "resmi" di sherinaonline.com, tapi sepertinya hampir nggak pernah diupdate. Maklum yang ngelola kayaknya juga volunteer :).
Masalah dengan internet tidak hanya soal website. Emailnya juga pernah dijahili orang. Alamat email resmi dia (yang tercantum pada sampul kaset pada album pertamanya) pernah dicoba dibobol. Alamat itu adalah mail forwarder berbayar, diteruskan ke account ayahnya. Ketika ada yang mencoba mengambil-alih, walaupun gagal, penyedia layanan itu lantas memberikan warning ke pemilik account. Pernah dia buka account sendiri di Yahoo. Semula baik-baik saja, sampai ada orang iseng yang berhasil membobol dan kemudian menyalah-gunakan accountnya itu. Selidik punya selidik, rupanya si kecil itu masih terlalu lugu untuk urusan password. Kalau kita buka account di Yahoo, kita kan dikasih pertanyaan rahasia yang sifatnya personal. Gunanya untuk memanggil password seaindainya kita kelupaan. Sayangnya, sebagai figur publik, bisa jadi ada ribuan orang yang hafal dengan biodatanya. Walhasil jebol deh :(. Habis itu, dia cuma nebeng account ayahnya, sampai kemudian muncul lagi dengan alamat email baru di Yahoo juga. Tapi nggak lama kemudian menghilang lagi sebelum lagi-lagi muncul dengan account ayahnya. Ternyata passwordnya kelupaan. Weleh!
O, iya. Dia punya milis juga di Yahoogroups (milisnya dikelola orang lain, tapi ayahnya sering posting, sementara Sherinanya sendiri malahan jarang muncul). Saya cuma sekali-sekali menjenguk milisnya via web, jadi nggak bisa cerita banyak. Tapi sepintas saya lihat profil anggotanya, ternyata lebih ajaib dari milis manapun. Bayangkan, anggotanya berkisar dari anak-anak yang belum lulus SD sampai bapak-bapak yang sudah menyandang gelar MSc.
Lepas dari persoalan internet, keseharian dia sebagai artis menurut saya cukup layak dijadikan contoh untuk artis lain. Tidak seperti sejawatnya (baik cilik maupun dewasa) yang dengan semangat aji mumpung terus menerima order untuk tampil dimana-mana, manajemen Sherina (dalam hal ini ortunya sendiri) termasuk ketat dalam memenuhi undangan manggung. Di masa puncak popularitasnya, dia malahan cuma diijinkan naik panggung sebulan sekali. Itupun hanya di acara-acara tertentu. Lantas muncul isu, dia dikomersilkan dengan mematok tarif kelewat tinggi. Lucu :), soalnya untuk kepentingan pendidikan, manajemennya tidak keberatan untuk tampil prodeo, alias gratis. Biaya untuk mengundang dia jadi mahal dia harus menyanyi dengan iringan orkestra. Ongkos mengundang itu sudah termasuk untuk membiayai pemain orkestra yang jumlahnya disyaratkan minimal 15 orang. Bandingkan dengan penyanyi lain yang tidak keberatan tampil walaupun cuma diiringi organ tunggal.
Kebanyakan penyanyi melakukan rekaman dengan diongkosi oleh produser. Setelah rekaman selesai dan albumnya beredar, maka mulailah si penyanyi jadi sapi perahan sang produser. Dia harus manggung kesana-kemari, juga meneruskan rekaman untuk memenuhi target sekian album yang tercantum dalam kontrak. Hal serupa tidak terjadi pada penyanyi kita ini. Seluruh proses rekaman dilakukan atas biaya sendiri, dan sampai saat ini dia masih independen, tidak bernaung dibawah label tertentu. Praktis dia tidak didikte oleh siapa-siapa. Bagusnya lagi, ortunya juga berkomitmen untuk tidak menjadikan anaknya sebagai "tambang emas". Mereka melihat anaknya punya bakat, dan bakat itu perlu disalurkan. Itu saja.
Biarpun pernah membintangi film yang cukup sukses tapi tawaran bermain sinetron selalu ditolak dengan KERAS. Pernah ada infotainment yang mewawancarai dia: "Koq nggak mau main sinetron?". Jawabannya tegas, lugas, dan tanpa basa-basi: "Main sineton itu buang-buang waktu!". Bagus juga, jadi dia tidak termakan oleh jerat yang dipasang oleh si "raja sinetron" itu (Namanya nggak berani saya sebut disini. Dia itu punya sepasukan tim pengacara khusus untuk membela kepentingannya lho!). Seorang (mantan) artis cilik seangkatan Sherina yang terjebak dalam dunia sinetron, barusan berakhir di pengadilan dengan buntut sanksi denda ratusan juta rupiah.
Tapi gara-gara omongannya yang suka kelewat ceplas-ceplos itu, tudingan semacam sombong dan sebagainya sering dialamatkan ke dia. Saya pikir tuduhan macam itu tidak terlalu salah, hanya saja perlu dilihat latar belakangnya. Dengan IQ 149, dia seperti punya pola pikir yang agak beda dengan anak seusianya. Wajar aja kalau ada orang yang mengajak bicara dengan asumsi dia masih anak-anak, akan terkaget-kaget. Apalagi dia itu tipe "chatterbox", dan dulu rada hiperaktif (nggak tahu sekarang). Saya saja, yang IQ-nya tidak setinggi itu (walaupun dalam skala tertentu masih tergolong "lumayan", hehehe), konon waktu kecil juga sering dianggap nyebelin (jangan-jangan sampai sekarang juga masih). So, ati-ati aja kalo dia udah mulai buka mulut. Tantowi Yahya aja kelabakan ;).
Karena sekarang bukan penyanyi cilik lagi, kemungkinan besar di albumnya yang berikut dia akan ditampilkan sebagai penyanyi remaja. Tapi soal materi lagu, kelihatannya masih ada tarik ulur. Maunya banyak pihak (termasuk juga saya sih), sebaiknya dia jangan nyanyiin lagu bertema cinta. Tapi pertimbangan "selera pasar" mungkin mengharuskan dia menyanyikan lagu dengan tema yang sangat-sangat-sangat saya benci itu *sigh*. Rencananya album barunya akan dilepas akhir tahun ini atau paling telat awal tahun depan. Elfa mungkin tidak lagi terlalu banyak terlibat. Sebaliknya Fariz RM, penyanyi kawakan yang notabene adalah pamannya sendiri akan lebih banyak berperan. Jadi, kita lihat sajalah ...
