« Home | Sukhoi, Boeing, Hercules » | Berpikir Ensiklopedik » | Nasrudin Mendinamit Punggungnya » | Lagi Soal Militerisme » | Militerisme » | Mengapa Nyala Api Menguncup? » | Intisari, Orkestra, Sains » | Technical Stuffs (Lagi) » | Pembuat Jembatan » | Cerita Seputar Weblog »

Mitos, Fakta, dan Penelitian

Sebuah penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini menyatakan kalau senyawa polifenol yang terkandung pada teh hitam memiliki manfaat positif untuk mencegah terbentuknya plak dan karang gigi. Jadi, orang dianjurkan untuk mengkonsumsi teh hitam sehabis makan. Padahal, menurut penelitian lain yang sudah cukup lama dipublikasikan, senyawa tanin dalam teh hitam dapat menghalangi penyerapan zat besi dari makanan. Karenanya, orang dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi teh hitam dalam rentang waktu 4 jam sebelum atau sesudah makan agar tidak mengalami defisiensi zat besi.

Kasus soal teh hitam ini kurang lebih sama dengan kasus pada permen. Sedari kecil, kita sudah diajari kalau banyak "makan" permen bisa membuat gigi keropos. Tapi jarang orang yang tahu kalau mengulum permen itu sebenarnya membantu menguatkan akar gigi karena merangsang keluarnya air liur (pada mulut yang kering karena produksi air liur sedikit, gigi cenderung gampang goyah). Sekarang pilih mana, gigi kuat tapi keropos, atau gigi yang cemerlang tapi gampang goyah? Pakai logika sajalah. Kita toh tidak perlu menghindar sama sekali dari perman supaya gigi tidak keropos, atau selalu mengulum permen supaya gigi jadi kuat kan?

Supaya tidak kekurangan zat besi, makan saja bayam banyak-banyak, siapa tahu bisa jadi sekuat Popeye. Ini juga pengertian yang salah kaprah. Kandungan zat besi pada bayam tidak jauh berbeda dengan yang dikandung oleh sayuran lainnya. Konon kesan bahwa bayam memiliki kandungan zat besi yang 'fantastis' muncul karena kesalahan publikasi terhadap hasil sebuah penelitian yang dimuat di sebuah jurnal bergengsi. Kesalahan ini, entah keliru mengutip atau sekedar kesalahan cetak, membuat angka kandungan zat besi pada bayam jadi terdongkrak.

Saat kita mengalami sariawan, kita lantas buru-buru mencari tablet vitamin C, atau memakan apa saja yang diklaim punya kandungan vitamin C yang tinggi. Ini tindakan yang sia-sia, karena vitamin C sama sekali tidak menyembuhkan sariawan, melainkan hanya mencegah kita mengalami sariawan. Mengkonsumsi vitamin C setelah sariawan terjadi tidak akan berfaedah apa-apa, dan malahan bisa semakin memperparah sariawan, terutama kalau kita mengkonsumsinya dalam bentuk tablet hisap. Kenapa? Kita tahu bahwa bakteri, terutama yang bersifat merugikan, sangat menggemari suasana yang asam. Coba tebak, apa yang akan terjadi akibat keasaman yang dibawa oleh tablet vitamin C itu di mulut yang bersariawan. Jawabannya sudah jelas: ancaman infeksi pada luka sariawan. Lantas apa betul kandungan vitamin C yang tinggi cuma ditemui dalam jeruk? Tidak juga. Ceritanya kurang lebih sama dengan kasus kandungan zat besi pada bayam tadi.

Para penggemar coklat pasti akan bersorak membaca penelitian bahwa coklat sama sekali tidak menyebabkan kegemukan, karena lemak kakao sebenarnya memiliki kandungan kolesterol HDL (High Density Liporotein), yang dikenal sebagai "kolesterol baik". Tapi dalam kenyataannya, lemak kakao harganya sangat mahal sehingga tidak banyak produsen yang menggunakan 100% lemak kakao untuk coklat yang mereka produksi. Biasanya mereka mencampurnya dengan lemak nabati atau hewani yang mengandung kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein), yang kita tahu merupakan "kolesterol jahat". Walhasil, mengkonsumsi coklat tetap saja mengandung ancaman kegemukan (lebih jauh soal "kolesterol baik" dan "kolesterol jahat" pernah saya tulis di sini)

Bicara soal kandungan "ini-itu" pada makanan, juga sering dikaitkan dengan mitos yang kadangkala tidak berdasar, walaupun juga tidak selamanya salah. Makan sayur kangkung dipercaya menyebabkan kantuk. Ini bukan berarti kangkung mengandung senyawa semacam 'obat tidur', melainkan karena struktur seratnya yang sulit dicerna oleh tubuh. Karena itu, tubuh mengeluarkan banyak energi untuk bisa mencernanya. Akibatnya, rasa kantuk pun bisa muncul, bukan karena reaksi dari kandungan tertentu, tapi karena tubuh perlu istirahat setelah bekerja keras mencerna makanan yang satu ini. Juga mitos tentang terong yang dipercaya bisa mengganggu fungsi 'kelelakian' atau nenas yang tidak bagus untuk urusan 'kewanitaan', itu semuanya sama sekali tidak benar.

Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk bisa tahu hal-hal seperti ini. Itu semua adalah pengetahuan umum yang (seharusnya) diketahui oleh setiap orang. Dengan demikian, tidak perlu lagi kita terkecoh dengan hasil penelitian yang masih bersifat preliminary yang tahu-tahu jatuh ke tangan wartawan, atau mitos-mitos tak berdasar tentang khasiat atau pantangan terhadap suatu jenis makanan. Juga hasil-hasil penelitian yang dieksploitir produsen makanan atau suplemen tertentu untuk melariskan produknya.