Kisah Abdul Aziz dan radio
Syekh Abdul Abdullah bin Hasan Al as-Syekh adalah keturunan langsung dari ibnu Abdul-Wahab, ulama pendiri faham wahabi yang terkenal puritan itu. Ia pun menjadi kepala kadi di Hijaz. Ia sama sekali tak setuju pada seluruh stasiun radio yang didirikan oleh raja Abdul Aziz di Arabia pada masa itu (sekitar tahun 1940-an). Ia merasa yakin bahwa itu semua adalah hasil karya Iblis. Dan ia mengeluh terlalu sering hingga sang Raja sangat kesal.
"Demi Allah, menurut Anda bagaimanakan iblis membuat mesin-mesin radio itu bekerja?" tanyanya pada Syekh tersebut.
"Demi Allah, aku memang tak tahu," jawab Syekh itu. "Tetapi aku yakin Setan setiap saat mengunjungi pemancar itu, dan pegawai-pegawaimu di tempat itu mempersembahkan sesaji kepadanya.
Abdul Aziz langsung berdiri - saat itu ia berada di majelisnya di Mekah - dan menggandeng tangan sang Syekh seraya membawanya ke stasiun radio di istananya.
"Lihatlah," katanya. "Tak ada bekas-bekas sesaji sedikitpun". Dan memang disitu tidak ada bekas darah maupun bulu-bulu hewan yang dijadikan korban untuk sesaji kepada Setan.
Tetapi Syekh Abdullah yakin sang Raja telah menipunya. Ia jadi lebih sering berkunjung ke stasiun radio itu tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ia berharap suatu saat akan berhasil menangkap basah pegawai stasiun radio tersebut. Ia bahkan mencoba menyuap operator radio untuk membocorkan kapan Setan biasa datang. Ia merasa yakin bahwa Setan sendiri yang datang membawa suara-suara yang didengarnya lewat udara.
Kunjungan Syekh Abdullah dan pertanyaannya yang tak berkeputusan itu akhirnya ikut membuat kesal para pegawai stasiun radio. Mereka mengeluh kepada Abdul Aziz dan sang Raja pun memanggil Syekh itu.
"Menurut pendapat anda," sang Raja bertanya. "Berapa jauh Setan dapat membawa sabda Allah?"
Syekh itu tercengang, tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang Raja. Abdul Aziz bertanya lagi "Apakah Setan akan mampu membawa sabda Allah dari sini ke Riyadh, atau dari Riyadh kemari?"
Syekh Abdullah merasa marah. "Ya Abdul Aziz," katanya. "Anda tentu bercanda. Aku tahu dan anda tahu bahwa Setan takkan mungkin mampu membawa sabda Allah. Jangankan dari Mekah ke riyadh, atau dari Riyadh ke Mekah. Satu jengkalpun tak akan mampu.
"Aku tidak bercanda dengan anda, O yang bijaksana," sahut sang Raja. Kemudian sekali lagi ia membawa Syekh Abdullah ke stasiun radionya.
"Aku sudah minta kepada imam di masjid agung Riyadh untuk pergi ke stasiun radioku di kota itu," kata sang Raja. "Dan kuharap anda mau mendengarkan apa yang diucapkannya.
Syekh Abdullah mendengarkan. Beberapa menit kemudian ia mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an bergemerisik di pesawat penerima.
"Betulkah ini anda?" ia bertanya lewat alat pemancar. Dan imam di masjid agung Riyadh yang merupakan sahabat karibnya menjawab memang benar itu suaranya.
Syekh abdullah juga membacakan beberapa ayat suci. Sahabatnya di Riyadh mengatakan bahwa ia bisa mendengar suara itu dengan jelas di jantung Nejad, sekitar 1200 km dari kota Mekah. Akhirnya, Syekh Abdullah yakin. Mulai saat itu ia memberkati radio sebagai salah satu keajaiban Allah. Ulama lainnya yang punya kecenderungan serupa, mencurigai radio sebagai alat Setan, pun mengikuti jejaknya. (Kisah nyata, dari "The Kingdom", by Robert Lacey).
"Demi Allah, menurut Anda bagaimanakan iblis membuat mesin-mesin radio itu bekerja?" tanyanya pada Syekh tersebut.
"Demi Allah, aku memang tak tahu," jawab Syekh itu. "Tetapi aku yakin Setan setiap saat mengunjungi pemancar itu, dan pegawai-pegawaimu di tempat itu mempersembahkan sesaji kepadanya.
Abdul Aziz langsung berdiri - saat itu ia berada di majelisnya di Mekah - dan menggandeng tangan sang Syekh seraya membawanya ke stasiun radio di istananya.
"Lihatlah," katanya. "Tak ada bekas-bekas sesaji sedikitpun". Dan memang disitu tidak ada bekas darah maupun bulu-bulu hewan yang dijadikan korban untuk sesaji kepada Setan.
Tetapi Syekh Abdullah yakin sang Raja telah menipunya. Ia jadi lebih sering berkunjung ke stasiun radio itu tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ia berharap suatu saat akan berhasil menangkap basah pegawai stasiun radio tersebut. Ia bahkan mencoba menyuap operator radio untuk membocorkan kapan Setan biasa datang. Ia merasa yakin bahwa Setan sendiri yang datang membawa suara-suara yang didengarnya lewat udara.
Kunjungan Syekh Abdullah dan pertanyaannya yang tak berkeputusan itu akhirnya ikut membuat kesal para pegawai stasiun radio. Mereka mengeluh kepada Abdul Aziz dan sang Raja pun memanggil Syekh itu.
"Menurut pendapat anda," sang Raja bertanya. "Berapa jauh Setan dapat membawa sabda Allah?"
Syekh itu tercengang, tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang Raja. Abdul Aziz bertanya lagi "Apakah Setan akan mampu membawa sabda Allah dari sini ke Riyadh, atau dari Riyadh kemari?"
Syekh Abdullah merasa marah. "Ya Abdul Aziz," katanya. "Anda tentu bercanda. Aku tahu dan anda tahu bahwa Setan takkan mungkin mampu membawa sabda Allah. Jangankan dari Mekah ke riyadh, atau dari Riyadh ke Mekah. Satu jengkalpun tak akan mampu.
"Aku tidak bercanda dengan anda, O yang bijaksana," sahut sang Raja. Kemudian sekali lagi ia membawa Syekh Abdullah ke stasiun radionya.
"Aku sudah minta kepada imam di masjid agung Riyadh untuk pergi ke stasiun radioku di kota itu," kata sang Raja. "Dan kuharap anda mau mendengarkan apa yang diucapkannya.
Syekh Abdullah mendengarkan. Beberapa menit kemudian ia mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an bergemerisik di pesawat penerima.
"Betulkah ini anda?" ia bertanya lewat alat pemancar. Dan imam di masjid agung Riyadh yang merupakan sahabat karibnya menjawab memang benar itu suaranya.
Syekh abdullah juga membacakan beberapa ayat suci. Sahabatnya di Riyadh mengatakan bahwa ia bisa mendengar suara itu dengan jelas di jantung Nejad, sekitar 1200 km dari kota Mekah. Akhirnya, Syekh Abdullah yakin. Mulai saat itu ia memberkati radio sebagai salah satu keajaiban Allah. Ulama lainnya yang punya kecenderungan serupa, mencurigai radio sebagai alat Setan, pun mengikuti jejaknya. (Kisah nyata, dari "The Kingdom", by Robert Lacey).
