« Home | Non Book Book » | Milis Baru: Sains Populer » | Ada Apa dengan Einstein? » | Teluk Jakarta » | Dunia dalam Berita » | Oge » | Prangko » | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi » | Soal "Kampung Tengah" »

Agenda si "Gila"

Bulan Juni ini, para orang "gila" punya banyak agenda untuk memuaskan "kegilaannya". Tentu "gila" yang saya maksudkan bukan dalam artian sakit jiwa, melainkan tergila-gila kepada sesuatu hal. Mereka yang gila bola kali ini dijejali dengan pertandingan-pertandingan di kejuaraan piala eropa, sementara si gila politik, tentu saja tidak kalah hebohnya dalam menyambut momen pemilihan presiden.

Saya kebetulan tidak berada dalam salah satu barisan "orang gila" tersebut. Saya bukan gila bola, dan untuk lebih jelas lagi, saya bukan penggemar sepak bola. Untuk yang satu ini, bahkan momen Piala Dunia sekalipun juga tidak mampu menarik perhatian saya. Gila politik? Apalagi! Saya punya kepedulian terhadap banyak hal, bahkan mungkin terlalu banyak hal, tapi saya pastikan politik tidak termasuk di dalamnya.

Tentu ini membat saya jadi kelihatan seperti orang aneh. Memang di kalangan orang yang tidak waras, mereka yang waras itulah yang Gila. Jadi, ketika saya memilih tidur ketika si gila bola sibuk bergadang untuk menyaksikan pertandingan Piala Eropa, atau ketika saya masuk kantor dalam keadaan segar bugar, sementara rekan-rekan yang lain dengan mata merah karena kurang tidur, maka itu artinya sayalah yang abnormal.

Tapi dibandingkan dengan ketidak pedulian saya soal bola, ketidak acuhan saya soal politik mungkin relatif masih bisa dimaafkan. Saya mungkin cuma salah satu diantara jutaan orang yang skeptis untuk urusan seputar Pemilu ini. Tapi bedanya, dalam pemilu kali ini saya tetap menyimpan sedikit optimisme. Pada pemilu legislatif, 5 April lalu, saya kebetulan harus memilih di luar propinsi dimana saya terdaftar sebagai pemilih, akibatnya diantara 4 surat suara yang harus dicoblos, saya hanya mengantungi satu diantaranya. Maklum, saya hanya punya hak pilih untuk DPR pusat, sedangkan untuk DPRD1, DPRD2, dan DPD, saya praktis kehilangan hak pilih. Tapi ini juga sudah tergolong kemajuan, soalnya dalam dua kali Pemilu sebelumnya, saya memilih untuk tidak memilih, alias Golput!

Langkah saya ini sebenarnya bertolak belakang dengan kelaziman, soalnya, ketika di Pemilu 1999, saat orang-orang sedang terbius euforia politik, saya malahan menyingkir. Lha, koq di Pemilu 2004, dimana semua pada pesimis, skeptis, bahkan apatis, saya malahan jadi optimis :). Pertimbangan saya simpel saja. Setelah euforia politik mereda, saya melihat masyarakat lebih rasional dalam menentukan pilihan politiknya. Dan itu artinya saya tidak perlu merasa sia-sia untuk ikut memilih.

Baik dalam kasus Piala Eropa, maupun Pemilihan Umum, memang akan selalu melahirkan orang-orang "gila". "Kegilaaan" ini berawal dari satu hal: ikatan emosional. Adalah ikatan emosional yang membuat orang betah menonton perjuangan klub-klub kesayangan untuk meraih juara, atau perjalanan Partai pujaan untuk memenangkan Pemilu, dan politisi idola untuk "menuju puncak". Sayangnya dalam hal ini, saya tidak punya keterikatan emosional dengan apapun, baik dalam konteks sepak bola atau politik. Walhasil sampai saat ini saya masih merasa waras-waras saja.