« Home | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi » | Soal "Kampung Tengah" » | Copy-Paste-Edit » | Lagi-Lagi Soal Iklan » | Masa Kampanye » | Membeli Kupon Lotre » | Kidal » | Teladan » | Kisah Abdul Aziz dan radio »

Prangko

Dulu, waktu saya masih anak-anak, saya pernah punya hobi mengkoleksi prangko (filateli). Saya tidak ingat lagi, kapan saya mulai menekuni hobi ini. Mungkin saat di kelas-kelas awal di Sekolah Dasar. Koleksi itu akhirnya berkembang, makin lama makin banyak. Tidak cuma dari dalam negeri, item koleksi saya malahan mayoritas terdiri dari prangko luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, negara asal prangko yang saya koleksi meliputi mulai dari Amerika Serikat hingga Zimbabwe, dari Arab Saudi hingga Israel.

Belakangan gairah saya mengumpulkan prangko mulai menyusut. Entah, mungkin karena banyak hal yang lebih menarik, atau karena merasa tantangannya mulai berkurang. Alasan yang kedua ini lebih dipicu mudahnya memperoleh perangko bekas yang dijajakan di counter-counter di Mall. Celakanya, beberapa koleksi yang saya dapat dengan cara ini malahan saya ragukan keasliannya.

Saat saya duduk di bangku sekolah menengah, keluarga dari almarhum kakek saya (tepatnya kakak dari seorang kakek saya) mewariskan beralbum-album prangko koleksi beliau. Ini bukan koleksi sembarangan, soalnya prangko-prangko itu yang paling muda berasal dari zaman pendudukan Jepang, sementara yang tertua berasal dari akhir abad ke-19. Kebanyakan prangko Hindia Belanda, namun ada juga dari negara-negara lain seperti Austria atau Prancis.

Yang saya maksud dengan "album prangko" itu bukan seperti yang kita kenal sekarang, tapi cuma buku tulis dimana prangko-prangko itu ditempelkan dengan secuil lem, sekedar supaya bisa melekat. Dan karena usianya, maka album plus prangkonya sudah banyak yang lapuk. Warnanya sudah kuning kecoklatan, banyak yang sudah rusak dimakan usia, atau dicuwil oleh tangan-tangan jahil.

Saya tidak tahu harus diapakan koleksi-koleksi itu. Kalau mengingat jumlahnya yang masih banyak, maka nilainya sebagai barang kuno jelas masih belum seberapa karena masih belum langka. Memang ada satu-dua yang menurut katalog prangko harganya akan cukup lumayan kalau dibawa ke pelelangan, tapi sementara ini, saya masih belum berniat untul 'melego' koleksi tersebut. Walhasil prangko-prangko itu hanya menempati rak buku saya di Bali, dan tidak pernah diapa-apakan. Belakangan, mungkin karena khawatir dengan kondisinya yang makin parah, maka keluarga saya mencoba menyelamatkannya dengan cara yang unik. Entah dapat ide dari mana, mereka memindahkan prangko-prangko tua itu dari album, menempelkannya di kertas manila, kemudian dipasangi pigura, dan dijadikan ... hiasan dinding!

Prangko-prangko itu sampai sekarang masih ada, entah sampai kapan. Walaupun saya tidak berminat lagi untuk menambah koleksi, tapi memelototi koleksi lama masih sering membawa keasyikan tersendiri bagi saya. Melihat hasil kerja sejak kecil yang masih awet hingga sekarang sering membuat saya merasa terbawa kembali ke masa-masa itu.

Mungkin suatu saat, koleksi itu bukan hanya menjadi kenangan masa kecil, melainkan 'monumen' atas budaya surat menyurat yang kini makin tergusur oleh sarana komunikasi modern seperti email atau SMS. Selain mengingatkan betapa lamanya waktu yang ditempuh oleh sepucuk surat dahulu, koleksi prangko juga menjadi kenang-kenangan dari masa ketika komunikasi lewat tulisan selalu dilakukan dengan bahasa yang santun dan susunan kalimat yang tertata. Jauh berbeda dengan komunikasi lewat email dan SMS yang melulu mengutamakan kecepatan tapi tidak membantu menciptakan manusia-manusia yang cakap menulis, berbahasa, maupun bersopan-santun lewat tulisan.