Soal "Kampung Tengah"
Konon soal kebiasaan makan adalah sesuatu yang sudah 'terprogram' sejak awal hidup seorang manusia, bahkan dipercaya sudah tertanam sejak ia masih di dalam kandungan. Itulah sebabnya, bagi kebanyakan perut Melayu, walaupun sudah terisi dengan BigMac lengkap dengan kentang goreng ukuran reguler dan minuman ringan, tetap belum terasa kenyang sebelum kemasukan nasi.
Tapi soal makan tidak cuma terkait dengan naluri alami untuk memuaskan perut yang lapar. Kadangkala, disana masuk pula unsur gaya hidup, bahkan gengsi. Ada anggapan bahwa apa yang dimakan oleh seseorang menunjukkan siapa orang itu.
Prinsip semacam inilah yang ditangkap oleh pengusaha waralaba makanan cepat saji impor. Unsur gaya hidup dan gengsilah yang menyebabkan orang rela antre, dan bahkan mengeluarkan banyak uang untuk makanan yang sebenarnya 'asing' bagi lidah mereka. Untuk kebanyakan orang Indonesia, ayam goreng tradisional yang dihidangkan dengan sambal dan lalapan disertai nasi hangat 'kebul-kebul' jelas lebih mengundang selera, dan lebih familiar terntunya, ketimbang ayam goreng berbalut tepung yang dimasak dengan bumbu rahasia serta hanya ditemani oleh kentang goreng dan saus cabai (chilli sauce) itu.
Tapi gaya hidup dan gengsi memang tidak selamanya laku dijual. Jadi, pengelola restoran cepat saji asing juga merasa perlu berinovasi untuk menyesuaikan sajian hidangan mereka dengan selera lokal. Kalau kita bisa memesan paket nasi di McDonalds atau KFC di Indonesia, jangan berharap kita bisa memesan paket menu yang sama di restoran serupa di Amerika Serikat. Begitu pula apabila kita mencicipi pizza di gerai waralaba lokal, jangan lantas beranggapan bahwa kita telah menikmati pizza yang serupa dengan yang biasa disantap oleh orang Italia, negara asal makanan itu, karena pizza asli Italia kemungkinan besar tidak akan sesuai dengan lidah melayu kita. Saya pernah mencicipi pizza Italia, dan boleh percaya boleh tidak, pizza itu ditaburi dengan keju permesan yang baunya mirip ... kaus kaki yang lama tidak dicuci! Tentu ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela makanan bangsa lain. Ingat bahwa kita juga terbiasa menyantai petai dan terasi yang baunya tidak kalah 'aduhai'. Juga di dunia ini mungkin cuma orang Indonesia yang menyantap pizza dengan dilumuri saus cabai. Inovasi -- yang sebenarnya agak kelewatan -- ini mungkin terpaksa ditempuh untuk menyesuaikan dengan selera lokal kita yang doyan makanan yang rasanya 'menyengat'.
Juga jangan heran apabila saat bersantap di kafe kita harus membayar mahal untuk seporsi kecil makanan yang tidak mengenyangkan dan minuman 'ala kadarnya'. Tentu saja, karena yang dijual di kafe-kafe itu bukan sekedar hidangan, tapi juga suasana. Dengan memesan secangkir kopi dan makanan ringan, kita bisa nongkrong berjam-jam sambil menikmati musik hidup atau berbincang dengan kolega. Kesempatan ini tentu tidak bisa kita dapati di restoran Padang misalnya, karena di sana umumnya berlaku aturan tidak tertulis, bahwa begitu hidangan sudah licin tandas, pelanggan diharap mengerti bahwa itulah saatnya untuk segera pergi ke kasir dan kemudian angkat kaki dari sana.
Soal "kampung tengah", metafora Melayu untuk perut, memang tidak sesederhana yang kita kira. Namun tentu saja itu semua hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tiap hari tinggal berpikir "hari ini makan apa". Sementara itu, masih banyak orang yang bangun tidur di pagi hari dengan pertanyan yang selalu berulang: Hari ini apa makan?
Tapi soal makan tidak cuma terkait dengan naluri alami untuk memuaskan perut yang lapar. Kadangkala, disana masuk pula unsur gaya hidup, bahkan gengsi. Ada anggapan bahwa apa yang dimakan oleh seseorang menunjukkan siapa orang itu.
Prinsip semacam inilah yang ditangkap oleh pengusaha waralaba makanan cepat saji impor. Unsur gaya hidup dan gengsilah yang menyebabkan orang rela antre, dan bahkan mengeluarkan banyak uang untuk makanan yang sebenarnya 'asing' bagi lidah mereka. Untuk kebanyakan orang Indonesia, ayam goreng tradisional yang dihidangkan dengan sambal dan lalapan disertai nasi hangat 'kebul-kebul' jelas lebih mengundang selera, dan lebih familiar terntunya, ketimbang ayam goreng berbalut tepung yang dimasak dengan bumbu rahasia serta hanya ditemani oleh kentang goreng dan saus cabai (chilli sauce) itu.
Tapi gaya hidup dan gengsi memang tidak selamanya laku dijual. Jadi, pengelola restoran cepat saji asing juga merasa perlu berinovasi untuk menyesuaikan sajian hidangan mereka dengan selera lokal. Kalau kita bisa memesan paket nasi di McDonalds atau KFC di Indonesia, jangan berharap kita bisa memesan paket menu yang sama di restoran serupa di Amerika Serikat. Begitu pula apabila kita mencicipi pizza di gerai waralaba lokal, jangan lantas beranggapan bahwa kita telah menikmati pizza yang serupa dengan yang biasa disantap oleh orang Italia, negara asal makanan itu, karena pizza asli Italia kemungkinan besar tidak akan sesuai dengan lidah melayu kita. Saya pernah mencicipi pizza Italia, dan boleh percaya boleh tidak, pizza itu ditaburi dengan keju permesan yang baunya mirip ... kaus kaki yang lama tidak dicuci! Tentu ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela makanan bangsa lain. Ingat bahwa kita juga terbiasa menyantai petai dan terasi yang baunya tidak kalah 'aduhai'. Juga di dunia ini mungkin cuma orang Indonesia yang menyantap pizza dengan dilumuri saus cabai. Inovasi -- yang sebenarnya agak kelewatan -- ini mungkin terpaksa ditempuh untuk menyesuaikan dengan selera lokal kita yang doyan makanan yang rasanya 'menyengat'.
Juga jangan heran apabila saat bersantap di kafe kita harus membayar mahal untuk seporsi kecil makanan yang tidak mengenyangkan dan minuman 'ala kadarnya'. Tentu saja, karena yang dijual di kafe-kafe itu bukan sekedar hidangan, tapi juga suasana. Dengan memesan secangkir kopi dan makanan ringan, kita bisa nongkrong berjam-jam sambil menikmati musik hidup atau berbincang dengan kolega. Kesempatan ini tentu tidak bisa kita dapati di restoran Padang misalnya, karena di sana umumnya berlaku aturan tidak tertulis, bahwa begitu hidangan sudah licin tandas, pelanggan diharap mengerti bahwa itulah saatnya untuk segera pergi ke kasir dan kemudian angkat kaki dari sana.
Soal "kampung tengah", metafora Melayu untuk perut, memang tidak sesederhana yang kita kira. Namun tentu saja itu semua hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tiap hari tinggal berpikir "hari ini makan apa". Sementara itu, masih banyak orang yang bangun tidur di pagi hari dengan pertanyan yang selalu berulang: Hari ini apa makan?
