« Home | Teluk Jakarta » | Dunia dalam Berita » | Oge » | Prangko » | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi » | Soal "Kampung Tengah" » | Copy-Paste-Edit » | Lagi-Lagi Soal Iklan » | Masa Kampanye »

Ada Apa dengan Einstein?

Indonesia sedang dilanda "demam Einstein". Demikian mungkin kesan yang ditangkap kalau kita melongok rak-rak toko buku akhir-akhir ini. Disana kita akan melihat beberapa judul buku yang bercerita tentang apa yang tidak diketahui Einstein, apa yang ingin diketahui oleh Einstein, atau bahkan apa yang dipikirkan orang seperti Einstein saat sedang bercukur. Buku-buku itu umumnya punya satu kesamaan: berusaha menjelaskan fenomena-fenomena alam secara sederhana, dan ditujukan untuk kalangan awam (baca: bukan ilmuwan). Semua buku semacam ini adalah terjemahan, namun tidak seluruhnya memiliki judul asli yang "berbau" Einstein. Ini memang strategi dagang khas Indonesia yang suka mengekor kesuksesan produk lain yang lebih dulu diterima pasar. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah memang demikian cara ilmuwan semacam Einstein dalam memahami fenomena-fenomena alam itu?

Konsep fisika merupakan kreasi murni pikiran manusia dan tidak ditentukan oleh dunia luar. Dalam usaha memahami realitas, kita ibarat seorang yang sedang berusaha memahami mekanisme sebuah arloji yang masih tertutup. Kita masih bisa melihat bagian depan dengan jarumnya yang bergerak, bahkan mendengar detikannya, tapi kita tidak mampu mengungkap sesuatu di balik itu. Jika kita mau berpikir, mestinya kita akan menggambar suatu mekanisme untuk segala hal yang akan kita teliti meski kita tak akan pernah meyakini bahwa gambar itu merupakan satu-satunya yang dapat menjelaskan hasil observasi kita itu. Kita tak akan pernah bisa membandingkan gambaran yang kita buat dengan mekanisme yang sebenarnya, bahkan kita tak dapat membayangkan kemungkinan arti dari pembandingan semacam itu. Demikian tulis Einstein dalam sebuah makalahnya pada 1938.

Jauh sebelum era Einstein, tepatnya pada tahun 1630-an, Rene Descartes, filsuf Prancis yang juga merupakan penggagas sains, telah menggambarkan alam semesta dan seisinya sebagai sebuah mesin raksasa atau yang disebutnya sebagai automata. Tiga ratus tahun lebih setelah itu, sains terus berkembang, terutama untuk mengungkap bagaimana mesin tersebut bekerja. Usaha untuk itu dijelaskan melalui beberapa observasi yang rumit sehingga menggugurkan pandangan simplistik seperti "iblis yang telah menggerakkan jarum pada arloji" (selain oleh Descartes, Galileo dan Newton juga menggunakan pendekatan ini untuk menciptakan apa yang sekarang disebut sebagai sains modern).

Gary Zukaf, penulis buku fisika post-Newton yang ia beri judul The Dancing Wu Li Masters (satu-satunya terjemahan Indonesia yang saya temui untuk buku yang pertama ditulis pada 1970-an ini diterbitkan pada 2003 oleh penerbit Kreasi Wacana dengan judul "Makna Fisika Baru dalam Kehidupan"), mengibaratkan ilmuwan sebagai seorang master, guru dalam dunia spiritual. Seorang master mengajarkan esensi. Ketika esensi sudah diraih, ia mengajarkan apa-apa yang diperlukan untuk mengembangkan persepsi itu.

Seorang master fisika tidak akan berbicara tentang gravitasi sampai murid-muridnya sendiri terheran-heran melihat kelopak bunga yang jatuh ke bumi. Dia tidak akan bicara tentang hukum fisika sampai murid-miridnya berkata, "Aneh, saya jatuhkan dua buah benda ke tanah. Yang satu berat, yang lainnya ringan, tetapi keduanya sampai di tanah secara bersamaan". Dia juga tidak akan berbicara tentang persamaan matematika sampai si murid menyadari, "Pasti ada suatu cara yang lebih mudah untuk menjelaskannya". Seorang master tidak mengajar, melainkan muridnyalah yang belajar.

Karena itulah maka, ilmu-ilmu, termasuk juga fisika sebenarnya bukanlah menjelaskan kenyataan di dunia. Dalam istilah Gary Zukaf, para ilmuwan, termasuk juga Einstein, tidaklah berusaha untuk menjelaskan fenomena alam sebagaimana yang diyakini sebagian orang. Mereka cuma "menari" bersama alam.