« Home | Prangko » | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi » | Soal "Kampung Tengah" » | Copy-Paste-Edit » | Lagi-Lagi Soal Iklan » | Masa Kampanye » | Membeli Kupon Lotre » | Kidal » | Teladan »

Oge

Perawakannya khas keturunan Melanesia, dengan kulit legam dan rambut keritingnya. Penampilan Septinus George Saa, atau Oge, demikian ia biasa disapa, mungkin akan menggoyahkan persepsi sebagian orang luar terhadap Indonesia, yang selama ini lebih dikenal dengan nama-nama seperti Soeharto, Abdurahman Wahid, atau Megawati.

Tapi bagi para "Dewa Fisika" dalam kompetisi eksperimen Fisika The First Step to Nobel Prize in Physics 2004, itu jelas bukan soal penting. Paper anak muda kelahiran Papua ini, dengan judul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor, telah berhasil mempesona dewan juri yang terdiri atas 30 fisikawan terkemuka dari 25 negara dibawah pimpinan Prof. Waldeman Gorzkowski, asal Polandia. Dalam kompetisi bergengsi ini, paper Oge telah menyisihkan ratusan paper lain yang dikirim oleh bakat-bakat muda bidang Fisika dari berbagai negara, dan meraih tempat terhormat di urutan pertama.

Sayangnya, berita tentang keberhasilan Oge di media dalam negeri terkesan 'sepoi-sepoi' saja. Publikasnya kalah jauh dengan berita soal pemenang kontes bakat untuk menjaring selebritis dadakan yang saat ini sedang marak di TV-TV. Apa boleh buat, memang demikianlah kenyataannya.

Bagaimana bangsa ini memperlakukan bakat-bakat cemerlang di bidang sains memang sudah menjadi rahasia umum. Banyak ilmuwan Indonesia yang jauh-jauh disekolahkan ke Luar Negeri, saat kembali ternyata tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah dengan susah payah dia pelajari dengan beasiswa dari uang rakyat itu. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan fasilitas maupun kucuran dana untuk kepentingan riset di tanah air. Belum lagi kalau kita bicara soal penghasilan maupun fasilitas yang bisa diberikan negara untuk para ilmuwan yang sangat jauh dari layak.

Tidak jarang pula ada ilmuwan yang 'membelot'. Setelah menyelesaikan studinya, ia malahan mencari kerja di luar negeri, ketimbang pulang dan 'terlunta-lunta' di negeri sendiri. Entah berapa banyak pemilik otak cemerlang yang akhirnya lepas dari Indonesia dengan cara semacam ini. Kita boleh protes, tapi dalam kenyataannya, para ilmuwan itu merasa dapat berbuat lebih banyak dengan ilmu yang dia miliki di luar negeri ketimbang di tanah airnya sendiri.

Seorang astronom berkebangsaan Indonesia, yang kini bekerja di Max Planck Institute di Jerman baru-baru ini "curhat" ke saya via email. Katanya, ia sebenarnya merasa risih membaca namanya ditulis di majalah setempat sebagai "German Astronomer", padahal dia masih merasa sebagai orang Indonesia. Sayangnya, dia sendiri merasa dilupakan oleh komunitas ilmuwan di Indonesia. Padahal dia ini bukan astronom sembarangan. Sebagai pimpinan tim pemburu planet ekstrasolar, sudah 2 planet ekstrasolar, 1 bintang katai coklat, serta 11 bintang bermassa kecil yang dia temukan bersama timnya. Prestasi yang bukan main-main, tapi tidak pernah dihargai di negerinya sendiri.

Sementara itu, kita di Indonesia masih sibuk dengan soal-soal remeh semacam nilai kelulusan dalam UAN sebesar 4,01 yang dianggap terlalu besar (kita boleh berkaca dari negara lain dengan standar kelulusan hingga 6 atau 7, tapi harus diingat bahwa kurikulum di Indonesia termasuk yang paling berat di dunia. Sering ada keluhan dari siswa pertukaran pelajar dari negara maju yang kesulitan mengikuti pembelajaran di Indonesia karena tuntutan kurikulum yang jauh lebih berat ketimbang di negara asalnya, sementara itu siswa Indonesia yang sekolah di luar negeri, malahan bisa santai-santai saja dengan kurikulum yang bisa satu atau dua tingkat dibawah yang biasa mereka pelajari di tanah air), atau tuntutan soal anggaran pendidikan yang 20% dari APBN (ini cuma wacana politis karena selama bangsa kita masih terbelit hutang, mustahil untuk memberi anggaran yang cukup untuk semua sektor, karena anggaran terbesar tentulah harus dipakai untuk membayar hutang plus bunganya itu).

Kembali ke soal Oge. Sementara kita masih sibuk memelototi mereka yang berfantasi untuk jadi idola di TV, Oge mungkin sudah menyusun rencana berikutnya. Sebagai pemenang kontes Fisika bergengsi, tidak sulit baginya untuk memperoleh beasiswa untuk menuntut ilmu di Universitas papan atas di luar negeri, bahkan tidak mustahil untuk mengejar cita-cita terbesarnya: Meraih hadiah Nobel. Saat itu, mungkin kita baru akan terkejut saat koran-koran menulis bahwa Nobel Fiska jatuh ketangan seorang "Fisikawan Amerika Serikat kelahiran Papua".