Dunia dalam Berita
Saat Perang Teluk jilid I pecah pada awal era 1990-an, acara TVRI yang satu ini pernah menjadi sangat populer. Saat itu, akses informasi masih belum begitu meluas. Mereka yang punya cukup uang bisa membeli antena parabola untuk menangkap siaran CNN atau Worldnet agar bisa memperoleh informasi terbaru dari medan tempur, tapi bagi orang kebanyakan, perkembangan "terakhir" baru bisa diikuti selepas jam 9 malam, saat acara ini ditayangkan.
Apa yang membuat Dunia dalam Berita menjadi acara favorit di masa itu adalah kenyataan bahwa orang merasa perlu mengetahui keadaan dunia luar, selain apa yang biasa mereka saksikan di negara sendiri. Kala itu, berita-berita dalam negeri biasanya didominasi oleh propaganda pembangunan, acara gunting pita, atau menteri penerangan yang bicara "atas petunjuk bapak Presiden". Ketika si pembaca berita menyebutkan bahwa "sekian orang tewas dan sekian lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan bom di Lebanon", sedikit banyak kita akan bersyukur bahwa kita tinggal di Indonesia dimana insiden-insiden semacam itu (saat itu) boleh dibilang tidak mungkin terjadi.
Akan halnya sekarang, ketika media menjadi makin liberal, maka berita dari luar negeri tidak lagi menarik banyak perhatian seperti dahulu. Pamor Dunia Dalam Berita pun mulai menyusut. Sebaliknya, penonton mulai beralih untuk mengikuti perkembangan berita di dalam negeri. Hal ini bisa dimengerti karena orang umumnya lebih memilih untuk menyaksikan materi berita dimana mereka memiliki semacam keterlibatan emosional didalamnya. Kita semua merasa bahwa berita semacam kecelakaan kereta api di India, misalnya, tidaklah begitu penting mengingat di negeri sendiri peristiwa yang sama bisa terjadi hampir setiap bulan. Bahkan untuk soal semacam ledakan bom, sudah terbuti bahwa kualitas para "bomber" warga negara Indonesia tidak kalah dengan sejawat mereka yang biasa beraksi di timur tengah itu.
Di lain pihak, industri televisi yang makin marak juga menggiring masyarakat untuk semakin pragmatis. Televisi kini lebih dianggap sebagai sarana hiburan ketimbang sumber informasi. Mereka lebih memilih untuk menyaksikan acara-acara hiburan, sinetron, dangdut, atau film, baik Holywood maupun Bolywood, ketimbang tayangan berita-berita yang memusingkan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita kini bisa melihat, bagaimana stasiun Metro TV yang diawal kelahirannya memproklamirkan diri sebagai stasiun berita, kini juga tidak ubahnya dengan stasiun-stasiun lain, juga menayangkan panggung musik dan film barat.
Terakhir, dengan maraknya penggunaan internet, maka peran televisi sebagai media informasi tercepat pun mulai tergeser oleh situs-situs berita. Dengan kecepatan yang ditawarkan oleh media informasi modern dewasa ini, kita tentu tidak perlu lagi untuk menunggu hingga jam 9 malam hanya untuk memperoleh informasi terbaru dari luar negeri. Walhasil kejayaan Dunia dalam berita kini hanyalah tinggal kenangan yang tidak mungkin terulang lagi.
Apa yang membuat Dunia dalam Berita menjadi acara favorit di masa itu adalah kenyataan bahwa orang merasa perlu mengetahui keadaan dunia luar, selain apa yang biasa mereka saksikan di negara sendiri. Kala itu, berita-berita dalam negeri biasanya didominasi oleh propaganda pembangunan, acara gunting pita, atau menteri penerangan yang bicara "atas petunjuk bapak Presiden". Ketika si pembaca berita menyebutkan bahwa "sekian orang tewas dan sekian lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan bom di Lebanon", sedikit banyak kita akan bersyukur bahwa kita tinggal di Indonesia dimana insiden-insiden semacam itu (saat itu) boleh dibilang tidak mungkin terjadi.
Akan halnya sekarang, ketika media menjadi makin liberal, maka berita dari luar negeri tidak lagi menarik banyak perhatian seperti dahulu. Pamor Dunia Dalam Berita pun mulai menyusut. Sebaliknya, penonton mulai beralih untuk mengikuti perkembangan berita di dalam negeri. Hal ini bisa dimengerti karena orang umumnya lebih memilih untuk menyaksikan materi berita dimana mereka memiliki semacam keterlibatan emosional didalamnya. Kita semua merasa bahwa berita semacam kecelakaan kereta api di India, misalnya, tidaklah begitu penting mengingat di negeri sendiri peristiwa yang sama bisa terjadi hampir setiap bulan. Bahkan untuk soal semacam ledakan bom, sudah terbuti bahwa kualitas para "bomber" warga negara Indonesia tidak kalah dengan sejawat mereka yang biasa beraksi di timur tengah itu.
Di lain pihak, industri televisi yang makin marak juga menggiring masyarakat untuk semakin pragmatis. Televisi kini lebih dianggap sebagai sarana hiburan ketimbang sumber informasi. Mereka lebih memilih untuk menyaksikan acara-acara hiburan, sinetron, dangdut, atau film, baik Holywood maupun Bolywood, ketimbang tayangan berita-berita yang memusingkan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita kini bisa melihat, bagaimana stasiun Metro TV yang diawal kelahirannya memproklamirkan diri sebagai stasiun berita, kini juga tidak ubahnya dengan stasiun-stasiun lain, juga menayangkan panggung musik dan film barat.
Terakhir, dengan maraknya penggunaan internet, maka peran televisi sebagai media informasi tercepat pun mulai tergeser oleh situs-situs berita. Dengan kecepatan yang ditawarkan oleh media informasi modern dewasa ini, kita tentu tidak perlu lagi untuk menunggu hingga jam 9 malam hanya untuk memperoleh informasi terbaru dari luar negeri. Walhasil kejayaan Dunia dalam berita kini hanyalah tinggal kenangan yang tidak mungkin terulang lagi.
