« Home | Milis Baru: Sains Populer » | Ada Apa dengan Einstein? » | Teluk Jakarta » | Dunia dalam Berita » | Oge » | Prangko » | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi » | Soal "Kampung Tengah" » | Copy-Paste-Edit »

Non Book Book

Jangan keburu merasa aneh dulu saat membaca judul tulisan ini. Non Book Book (NBB), alias buku yang bukan buku, bukanlah istilah yang mengada-ada. Itu adalah istilah baku dalam teknis perbukuan yang maknanya kurang lebih adalah buku yang berisi kumpulan tulisan yang sepotong-sepotong, dan bukan merupakan satu alur pemikiran yang utuh, mulai dari awal hingga halaman terakhir sebagaimana buku pada umumnya.

NBB bisa berupa kumpulan tulisan seseorang yang pernah dimuat di media massa dalam berbagai kesempatan (misalnya, Kumpulan Tulisan Romo Mangun), tetapi bisa juga berisi tulisan sekelompok orang yang menyorot topik yang sama dari perspektif masing-masing. Format NBB juga sering dipakai untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat dalam suatu rubrik tertentu di media berkala (misalnya, Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad). Tentu saja batasan ini tidak bersifat mengikat. Buku yang berisi kumpulan cerpen atau bahkan kumpulan lelucon juga bisa digolongkan sebagai NBB.

Suatu ciri dari NBB adalah tidak adanya alur pemikiran/cerita yang utuh didalamnya. Pembaca bisa membaca secara berurutan, dari halaman depan ke halaman terakhir, tetapi apabila dibaca secara acak, juga tidak masalah. Tulisan-tulisan dalam NBB seringkali harus dibaca sesuai dengan konteks, baik waktu maupun peristiwa, ketika tulisan itu dibuat - yang boleh jadi terpaut sangat jauh dengan saat tulisan itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Dalam NBB yang memuat kumpulan tulisan dari orang yang sama, sedikit banyak kita (pembaca) bisa menilai sejauh mana kekuatan analisis dan konsistensi si penulis dalam setiap tulisannya. Kadang-kadang dalam NBB kita menemui adanya inkonsistensi. Di satu bagian, si pengarang bilang begini, sementara di bagian lain dia bilang begitu. Kalau di buku biasa, ini bisa membuat si pengarang "jatuh merek" alias kehilangan kredibilitasnya, dalam NBB, ini justeru dipandang sebagai hal yang wajar karena setiap tulisan berdiri sendiri dan harus dibaca dalam konteks ketika tulisan itu dibuat.

Kalau dalam sebuah NBB, di satu bagian si pengarang menampilkan diri sebagai sebagai penulis yang santun dan berhati-hati, sementara di bagian lain dia menjelma menjadi keras dan berapi-api, itu tidak bisa dipandang sebagai cerminan dari ketidak konsistenan. Bisa saja tulisan yang lebih santun dibuat pada era sebelum 1997, dimana setiap penulis memang harus bersikap ekstra hati-hati, sementara tulisan yang lebih "galak" dibuat pasca 1997, ketika angin reformasi telah berhembus, dan si penulis tidak perlu lagi takut untuk bersuara "nyaring".

Format NBB seringkali menjadi bahan cemoohan, terutama oleh mereka yang mengaku sebagai pecinta bacaan serius. Ada saja tudingan bahwa NBB adalah buku yang diterbitkan dengan semangat "aji mumpung", alias hanya mengekor popularitas pengarang atau rubrik tetap yang diasuhnya di media cetak. Malahan ada juga sementara kalangan yang tega-teganya menilai NBB sebagai bacaan yang tidak berkelas.

Pandangan minor semacam ini tidak sepenuhnya benar walaupun juga tidak mesti salah. Memang banyak NBB yang hanya disusun seakan-akan sebuah kliping. Akibatnya, ia bisa menjadi sebuah bacaan yang tidak berjiwa; tidak ada "ruh" yang membuatnya menjadi sebuah bacaan yang "hidup". Yang jelas, banyak juga penulis bagus yang enggan untuk membukukan karyanya, semata-mata karena takut terimbas stereotip miring soal NBB.

Karya NBB yang menurut saya baik, salah satunya adalah kumpulan "Catatan Pinggir" dari Goenawan Mohamad yang diterbitkan secara berseri oleh penerbit Grafiti. Catatan Pinggir, kita tahu, adalah rubrik tetap Goenawan di majalah berita mingguan Tempo. Saya tidak perlu banyak berkomentar soal rubrik ini. Banyak orang yang sudah tahu, dan kagum, atas kepiawaian Goenawan dalam meramu kata untuk menyusun Catatan Pinggirnya itu. Dalam rubriknya, Goenawan menuliskan pandangannya dengan gayanya yang khas, yang sukar ditiru oleh pengarang lainnya. Tidak heran, rubrik ini menjadi salah satu andalan Tempo, sejak dulu hingga sekarang.

Masih ada kaitannya dengan Catatan Pinggir; seorang pentolan grup musik terkenal yang namanya kebetulan mirip dengan nama kecil saya ;) juga mengaku "kesengsem" dengan gaya penulisan Goenawan di Catatan Pinggir. Terinspirasi dari sana, ia lantas membeli komputer notebook tipe terbaru, dan mulai aktif menuangkan pikiran dan gagasannya di sana. Mau diapakan kelak tulisan-tulisannya itu? Katanya sih, kalau tidak dimuat di majalah sebagai rubrik tetap, mungkin akan dijadikan buku saja. "Nanti dikasih judul 'Catatan Tengah' saja," selorohnya. Saya malahan jadi teringat sesuatu. "Kenapa dia tidak menulis weblog saja sih?"

Pembahasan senada:

http://anick.wordpress.com/2006/07/31/intelektual-koran/

Post a Comment