Teluk Jakarta
Awan lembayung / Menghiasi bandar indah permai
Awan terlindung / oleh pulau seribu melambai
Melambai / Rona merona
Mengembang layar laju perahu nelayan
Memecah buih menyusur pantai
M'nuju teluk Jakarta
Indah lukisannya alam
Kala senja / Menjelang pelukan malam
Burung putih menyampaikan salam
Kata selamat Malam
(Kr. Bandar Jakarta)
Saya tidak tahu, apa pencipta lagu berirama keroncong diatas masih hidup ataukah sudah meninggal. Yang jelas kalau penciptanya masih hidup, mungkin ia akan menangis melihat kondisi teluk Jakarta di abad ke-21 ini. Awan lembayung itu telah menjelma menjadi asap penuh polutan yang mengancam pernapasan, sementara para nelayan menangis karena limbah beracun telah mencemari perairan Teluk Jakarta.
Bicara soal isu lingkungan di negara ini adalah sama seperti mengurai benang kusut yang ruwet dan tidak jelas ujung pangkalnya. Pencemaran di Teluk Jakarta baru-baru ini yang diberitakan menyebabkan matinya ikan-ikan disana sebenarnya adalah puncak gunung es dari rusaknya lingkungan, baik di Jakarta maupun di tempat lain di Indonesia. Ini hanyalah satu yang kasat mata diantara ribuan kasus lain yang masih belum terungkap, terlupakan, atau malah terabaikan.
Ibarat manusia, negara kita sedang dililit oleh aneka persoalan yang sangat parah yang semuanya bermuara pada satu hal: ekonomi. Hal ini membuat pemerintah tidak punya posisi tawar yang memadai, terutama kalau berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar yang menanamkan modal di negara ini. Ketika harus menindak perusahaan yang sembarangan membuang limbah tanpa melalui proses pengolahan yang layak, pemerintah harus berpikir tentang ribuah tenaga kerja yang terancam menganggur apabila perusahaan mereka ditutup paksa. Pemerintah juga harus berhitung soal pajak miliaran rupiah yang batal mengalir ke kas negara. Ketika banyak pemodal asing yang mengancam akan hengkang dai negara ini "karena satu dan lain hal", pemerintah dipaksa untuk bersikap lebih lunak dan "toleran". Walhasil, bicara soal pelestarian lingkungan atau sanksi bagi perusahaan yang tidak ramah lingkungan tidak lagi relevan.
Ketika Bob Hasan, si "raja hutan" itu dikirim untuk "bertapa" selama beberapa tahun di Nusakambangan, kita menganggap bahwa pemerintah mulai peduli soal kejahatan terhadap lingkungan. Tidak terpikir bahwa vonis semacam ini lebih kental dengan aroma politik balas dendam terhadap kroni pemeintah yang pernah berkuasa. Toh masih banyak pengusaha nakal pemegang HPH yang terus menebangi hutan-hutan kita yang konon merupakan paru-paru dunia itu. Dan pengusaha semacam ini terus dibiarkan, selama masih bayar pajak, selagi masih bisa mengundang devisa.
Jakarta, sebagai kota metropolitan yang terus bersolek agar tidak kalah dengan kota-kota lain di dunia yang sekelas, juga dibangun dengan pendekatan yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Saat kota-kota di negara maju mulai meninggalkan rancangan gedung-gedung pencakar langit, Jakarta justeru bersaing dan gagah-gagahan untuk ikut berlomba membangun gedung-gedung jangkung. Bangunan pencakar langit dengan dinding kaca memang kelihatan modern dan canggih, namun sinar matahari yang memantul lewat dinding-dindingnya justeru telah menambah panasnya udara ibukota yang sebenarnya sudah cukup panas itu. Paku-paku bumi yang menancap hingga ratusan meter dibawah permukaan tanah, dengan menanggung beban ribuan ton bangunan pencakar langit diatasnya telah ikut membuat tanah jakarta makin amblas. Daerah peresapan air otomatis berkurang saat tanah tertutup oleh rimbunnya belantara beton. Air yang terus menerus disedot melalui sumur-sumur artesis menyebabkan persediaan air tanah menyusut. Air laut pun merembes hingga jauh menembus daratan.
Padahal, kalau kita lihat trend di negara-negara maju, banyak perusahaan besar yang tidak lagi tertarik untuk berkantor di gedung-gedung jangkung. Mereka lebih banyak memilih untuk membangun perkantoran yang lebih ramah lingkungan. Markas besar Microsoft di Redmond misalnya, bangunannya yang tertinggi hanyalah setinggi tiga lantai!
Awan terlindung / oleh pulau seribu melambai
Melambai / Rona merona
Mengembang layar laju perahu nelayan
Memecah buih menyusur pantai
M'nuju teluk Jakarta
Indah lukisannya alam
Kala senja / Menjelang pelukan malam
Burung putih menyampaikan salam
Kata selamat Malam
(Kr. Bandar Jakarta)
Saya tidak tahu, apa pencipta lagu berirama keroncong diatas masih hidup ataukah sudah meninggal. Yang jelas kalau penciptanya masih hidup, mungkin ia akan menangis melihat kondisi teluk Jakarta di abad ke-21 ini. Awan lembayung itu telah menjelma menjadi asap penuh polutan yang mengancam pernapasan, sementara para nelayan menangis karena limbah beracun telah mencemari perairan Teluk Jakarta.
Bicara soal isu lingkungan di negara ini adalah sama seperti mengurai benang kusut yang ruwet dan tidak jelas ujung pangkalnya. Pencemaran di Teluk Jakarta baru-baru ini yang diberitakan menyebabkan matinya ikan-ikan disana sebenarnya adalah puncak gunung es dari rusaknya lingkungan, baik di Jakarta maupun di tempat lain di Indonesia. Ini hanyalah satu yang kasat mata diantara ribuan kasus lain yang masih belum terungkap, terlupakan, atau malah terabaikan.
Ibarat manusia, negara kita sedang dililit oleh aneka persoalan yang sangat parah yang semuanya bermuara pada satu hal: ekonomi. Hal ini membuat pemerintah tidak punya posisi tawar yang memadai, terutama kalau berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar yang menanamkan modal di negara ini. Ketika harus menindak perusahaan yang sembarangan membuang limbah tanpa melalui proses pengolahan yang layak, pemerintah harus berpikir tentang ribuah tenaga kerja yang terancam menganggur apabila perusahaan mereka ditutup paksa. Pemerintah juga harus berhitung soal pajak miliaran rupiah yang batal mengalir ke kas negara. Ketika banyak pemodal asing yang mengancam akan hengkang dai negara ini "karena satu dan lain hal", pemerintah dipaksa untuk bersikap lebih lunak dan "toleran". Walhasil, bicara soal pelestarian lingkungan atau sanksi bagi perusahaan yang tidak ramah lingkungan tidak lagi relevan.
Ketika Bob Hasan, si "raja hutan" itu dikirim untuk "bertapa" selama beberapa tahun di Nusakambangan, kita menganggap bahwa pemerintah mulai peduli soal kejahatan terhadap lingkungan. Tidak terpikir bahwa vonis semacam ini lebih kental dengan aroma politik balas dendam terhadap kroni pemeintah yang pernah berkuasa. Toh masih banyak pengusaha nakal pemegang HPH yang terus menebangi hutan-hutan kita yang konon merupakan paru-paru dunia itu. Dan pengusaha semacam ini terus dibiarkan, selama masih bayar pajak, selagi masih bisa mengundang devisa.
Jakarta, sebagai kota metropolitan yang terus bersolek agar tidak kalah dengan kota-kota lain di dunia yang sekelas, juga dibangun dengan pendekatan yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Saat kota-kota di negara maju mulai meninggalkan rancangan gedung-gedung pencakar langit, Jakarta justeru bersaing dan gagah-gagahan untuk ikut berlomba membangun gedung-gedung jangkung. Bangunan pencakar langit dengan dinding kaca memang kelihatan modern dan canggih, namun sinar matahari yang memantul lewat dinding-dindingnya justeru telah menambah panasnya udara ibukota yang sebenarnya sudah cukup panas itu. Paku-paku bumi yang menancap hingga ratusan meter dibawah permukaan tanah, dengan menanggung beban ribuan ton bangunan pencakar langit diatasnya telah ikut membuat tanah jakarta makin amblas. Daerah peresapan air otomatis berkurang saat tanah tertutup oleh rimbunnya belantara beton. Air yang terus menerus disedot melalui sumur-sumur artesis menyebabkan persediaan air tanah menyusut. Air laut pun merembes hingga jauh menembus daratan.
Padahal, kalau kita lihat trend di negara-negara maju, banyak perusahaan besar yang tidak lagi tertarik untuk berkantor di gedung-gedung jangkung. Mereka lebih banyak memilih untuk membangun perkantoran yang lebih ramah lingkungan. Markas besar Microsoft di Redmond misalnya, bangunannya yang tertinggi hanyalah setinggi tiga lantai!
