« Home | Agenda si "Gila" » | Non Book Book » | Milis Baru: Sains Populer » | Ada Apa dengan Einstein? » | Teluk Jakarta » | Dunia dalam Berita » | Oge » | Prangko » | Teori Kebutuhan ala Nasrudin » | Irama Demokrasi »

"Bunda" di Republika

Ada sebuah rubrik di harian Republika yang tidak pernah saya lewatkan. Rubrik favorit saya itu, kalau boleh disebut demikian, selalu muncul di suplemen Belia, lembaran khusus anak-anak dan remaja, yang disertakan pada tiap edisi Minggu. Rubrik yang saya maksudkan adalah "Bunda". Lantas, Apa istimewanya rubrik ini?

"Bunda" adalah rubrik khusus untuk tanya jawab soal seksualitas. Tapi berbeda dengan rubrik sejenis di media lainnya, rubrik yang diasuh oleh artis Neno Warisman beserta psikolog Elly Risman ini punya keistimewaan sendiri karena khusus ditujukan bagi khalayak pembaca usia kanak-kanak hingga remaja.

Pertanyaan yang muncul di rubrik ini meang bukan menyangkut hal-hal "teknis" yang suka bikin risi itu. Sebaliknya, pertanyaan yang masuk justeru lebih banyak berkisar tentang keingintahuan si kecil tentang wilayah rawan yang masih remang-remang bagi anak seusia mereka. Sebenarnya bukan pertanyaannya yang menarik perhatian saya, melainkan gaya tim pengasuh dalam memberi jawaban itulah yang membuat saya terkesan. Dengan familiar, layaknya seorang Ibu kepada anaknya, tim pengasuh menjawab pertanyaan-pertanyaan "serius" dari para bocah ini sesuai dengan perkembangan usia dan pemahaman mereka. Hal ini dimungkinkan karena si penanya juga diwajibkan untuk mencantumkan usianya dan duduk di kelas berapa ia di sekolah. Tidak lupa, dalam setiap jawaban juga diselipkan pesan-pesan moral keagamaan, terutama kalau yang ditanyakan itu menyangkut hal-hal yang sedikit "sensitif".

Bagi saya, kehadiran "Bunda" terasa menyejukkan di tengah-tengah keberadaan rubrik-rubrik sejenis di media lain yang menyajikannya dengan gaya yang lebih "mengundang". Sebuah koran nasional terbitan Surabaya misalnya (tidak usahlah saya sebut namanya, tapi saya yakin sudah banyak yang tahu), punya rubrik sejenis yang juga dimuat tiap edisi Minggu, tapi isinya Naudzubillah vulgarnya. Sudah pertanyaan yang masuk tergolong yang "kelas berat", juga dijawab dengan tanpa tedeng aling-aling.

Ini belum termasuk rubrik-rubrik sejenis yang rutin dimuat oleh tabloid-tabloid pengumbar sensasi. Sepertinya, para redakturnya merasa kalau semakin "hot" tanya-jawabnya, semakin menarik juga dimata pembaca. Walhasil, pembaca seperti disuguhi bacaan "stensilan", atau isi website cerita dewasa. Bikin mual saja! Pesan moral? Hampir-hampir tidak ada. Palingan cuma sekedar wanti-wanti tentang cara "berhubungan" yang aman agar terhindar dari penyakit kotor. Soal norma kesopanan, apalagi agama, sepertinya dianggap tidak relevan lagi.

Saya sendiri tidak menganggap seks sebagai barang tabu yang tidak boleh dibincangkan sembarangan. Tapi saya juga punya keyakinan bahwa tetap ada batasan yang perlu ditaati untuk memuat materi ini di media, terutama media cetak yang bisa dibaca oleh orang dari segala tingkatan usia. Celakanya, materi ini justeru sering digunakan sebagai daya tarik di media-media kita. Tema seks, beserta "saudaranya", kekerasan, kini mendominasi media-media kita dengan bebasnya. Bahkan, konon dalam menampilkan "duet" ini di media, pers kita sudah lebih liberal dari negara yang paling liberal sekalipun!

Kehadiran "Bunda" mungkin bisa mewakili segelintir rubrik yang bicara seks secara cukup "sehat". Saya sungguh-sungguh salut kepada Republika dan pengasuh rubrik "Bunda" pada khususunya. Semoga saja format rubrik ini bisa ditiru oleh media lainnya. Biasanya media kita memang suka latah, tapi sayang, latahnya hanya untuk hal-hal yang negatif saja. Kalau saja mereka juga bisa latah untuk hal-hal positif ...