Copy-Paste-Edit
Saya merasa agak aneh waktu membaca artikel bertajuk Beramai-ramai Gelindingkan Pop Orkestra di rubrik Horison, Repulika Minggu 14 Maret lalu. Entah kenapa, baik pokok pikiran maupun sebagian susunan kalimatnya terasa sangat familiar bagi saya. Rupanya sebagian artikel tersebut memang diambil dari tulisan saya sendiri di blog Refleksi, satu setengah tahun lampau.
Ini bukan pertama kalinya saya melihat sebagian tulisan saya tiba-tiba nongol di media lain, baik yang online maupun offline, dan saya juga tidak pernah keberatan untuk itu. Yang membuat saya khawatir hanyalah bahwa tulisan-tulisan itu dibuat dengan 'mood' yang berbeda. Sebagian ditulis secara serius dengan referensi yang valid dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi sebagian merupakan opini sehingga tingkat akurasinya juga perlu dipertanyakan. Saya sendiri cenderung lebih setuju apabila tulisan yang dikutip adalah yang berisi fakta. Tulisan yang bersifat opini, baiknya memang hanya untuk dokumentasi pribadi karena toh, sifatnya memang personal.
Dalam kasus tulisan saya yang dikutip Republika itu, terus terang, lebih banyak bersifat opini ketimbang fakta. Selain artikel aslinya di weblog banyak mengandung salah ketik, susunan kalimat serta pokok pikirannya juga cenderung asal-asalan. Contohnya di bagian yang menyebut-nyebut soal penyanyi bersuara pas-pasan yang "akan terlihat konyol apabila menyanyi dengan iringan orkestra" itu. Celakanya bagian yang ini dikutip begitu saja oleh wartawan Republika. Saya jadi sedikit khawatir ada pihak yang tersinggung gara-gara sebaris kalimat itu.
Saya mungkin harus lebih banyak belajar untuk menulis opini secara elegan. Membiarkan tulisan semacam ini muncul di koran sekelas Republika malahan memunculkan rasa bersalah bagi saya. :(
Ini bukan pertama kalinya saya melihat sebagian tulisan saya tiba-tiba nongol di media lain, baik yang online maupun offline, dan saya juga tidak pernah keberatan untuk itu. Yang membuat saya khawatir hanyalah bahwa tulisan-tulisan itu dibuat dengan 'mood' yang berbeda. Sebagian ditulis secara serius dengan referensi yang valid dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi sebagian merupakan opini sehingga tingkat akurasinya juga perlu dipertanyakan. Saya sendiri cenderung lebih setuju apabila tulisan yang dikutip adalah yang berisi fakta. Tulisan yang bersifat opini, baiknya memang hanya untuk dokumentasi pribadi karena toh, sifatnya memang personal.
Dalam kasus tulisan saya yang dikutip Republika itu, terus terang, lebih banyak bersifat opini ketimbang fakta. Selain artikel aslinya di weblog banyak mengandung salah ketik, susunan kalimat serta pokok pikirannya juga cenderung asal-asalan. Contohnya di bagian yang menyebut-nyebut soal penyanyi bersuara pas-pasan yang "akan terlihat konyol apabila menyanyi dengan iringan orkestra" itu. Celakanya bagian yang ini dikutip begitu saja oleh wartawan Republika. Saya jadi sedikit khawatir ada pihak yang tersinggung gara-gara sebaris kalimat itu.
Saya mungkin harus lebih banyak belajar untuk menulis opini secara elegan. Membiarkan tulisan semacam ini muncul di koran sekelas Republika malahan memunculkan rasa bersalah bagi saya. :(
