« Home | Kisah Abdul Aziz dan radio » | Dari Catatan Harian hingga Weblog » | Minat Baca » | Tintin » | Ramalan » | Narcissus » | Seabad Dunia Penerbangan » | Angka 13 » | Setelah Lebaran Berlalu » | Kampung Halaman »

Teladan

Alkisah, suatu malam khalifah Umar sedang sibuk sendirian dengan tugas-tugas kenegaraannya. Mendadak seorang sahabatnya datang berkunjung.
"Apakah engkau datang untuk urusan negara, atau untuk urusan pribadi?" tanya sang khalifah pada sahabatnya yang berkunjung.
"Aku datang untuk urusan pribadi," sahabatnya menjawab.
Serta merta sang khalifah mematikan lampu, dan seketika gelaplah seluruh ruangan. Sahabatnya keheranan dan bertanya, mengapa sang khalifah mematikan lampunya.
"Lampu itu menyala dengan minyak yang dibeli dengan uang negara, dan karenanya haruslah digunakan untuk kepentingan negara, sementara engkau datang untuk keperluan pribadi."

Kisah diatas dinisbatkan kepada khalifah Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz. Tidak jelas yang mana diantara keduanya yang benar-benar menjadi tokoh dalam cerita ini. Sekilas kisah semacam ini memang menggetarkan, tapi sayangnya, kebanyakan dari kita gagal menarik hikmah dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Kisah semacam ini cuma dianggap seperti dongeng pengantar tidur saja layaknya.

Apa yang menyebabkan kita gagal menyerap pesan dari kisah semacam itu? Jujur saja, jaman saat ini telah berubah. Dan kisah-kisah yang berlangsung ribuan tahun lalu itu (kalau memang pernah terjadi) sudah nyaris kehilangan konteksnya saat ini. Kisah-kisah ini juga terkadang terkesan terlalu berlebihan sehingga hampir-hampir mustahil untuk ditiru. Bandingkan dengan misalnya kisah-kisah di buku semacam "Chicken Soup" yang sederhana dan mudah diambil hikmahnya dan diaplikasikan dalam kehidupan di jaman modern ini.

Bukannya saya menyepelekan teladan yang diberikan oleh parta pendahulu kita, apalagi mereka yang terlibat dalam kisah ini adalah orang-orang yang mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam, agama yang juga saya anut. Disini saya hanya ingin mengajak untuk berpikir terbuka dan sedikit kritis. Roda sejarah tidak berhenti berputar pada jaman para Nabi dan Rasul. Sejarah akan terus berjalan sepanjang usia peradaban umat manusia.

Kita boleh saja merasa tergetar dengan tindakan Khalifah Umar bin Khattab yang memikul sendiri sekarung makanan untuk janda tua yang kelaparan. Ini memang kisah yang sangat menggugah dalam menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang begitu memperhatikan kesejahteran rakyatnya, sampai-sampai, dengan menyitir kisah ini, seorang anak berhasil memenangkan kompetisi menulis surat untuk Presiden yang diadakan beberapa waktu lalu. Tapi kita tidak perlu menjadi pemimpin atau khalifah untuk bisa berbuat sesuatu kepada kaum papa. Lihatlah Ibu Teresa di Calcutta. Walaupun ia bukan siapa-siapa, namun pengabdiannya untuk membantu mereka yang menderita dan terbuang sungguh patut untuk diteladani.

Sayangnya atas nama keyakinan, dengan seribu satu macam dalil, orang-orang semacam Ibu Teresa malahan sering dianggap sebagai musuh. Dalam pandangan keagamaan yang sempit (yang justeru akhir-akhir ini menjadi semacam 'trend'), seolah-olah contoh perilaku yang patut ditiru hanya ada di jaman keemasan agama kita masing-masing. Ketika dunia dipenuhi oleh orang-orang suci dengan teladan yang sungguh luar biasa.